SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
HARI PERTAMA


__ADS_3

Scarlet bangun pagi-pagi sekali, terus membereskan tempat tidurnya sebelum menuju ke kamar Tuan, majikan barunya.


Akhirnya dia tidak punya celah untuk menolak menjadi pengasuh pria itu, semoga saja lima bulan ke depan berjalan dengan lancar tanpa ada yang menghambat.


Scarlet keluar dari kamar menuju ruangan utama. Rumah ini sangat luas jadi antara kamarnya dengan ruang utama agak memakan waktu.


Dia merasa berada sendirian dirumah seluas itu. Rumah terkesan sepi karena pelayan bekerja dengan diam. Rumah mewah ini menyiratkan rasa duka yang mendalam.


Sesampainya di ruang utama, Scarlet segera menuju kamar pria itu, dia mengetuk pintu dengan perlahan, lalu terdengar sahutan dari dalam yang menyuruhnya segera masuk.


Scarlet membuka pintu dengan perlahan. Dia merasa sedikit grogi saat melihat Tuan Andrian berdiri gagah dengan handuk menggantung di pinggang. Langkah Scarlet berderap kaku, menghampiri Tuan Andrian yang tidak bergeming karena kehadirannya.


"Ini sudah pukul berapa, apa kamu sengaja bermalasan bekerja. Tidak tahu diri!" cerca Tuan Adirian geram.


Seketika darah Scarlet membeku, dia melirik jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul lima. Apa yang terlambat? Scarlet ingin protes tapi dia menahan diri, bukankah baru pertama kali dia bisa tidur nyenyak pasca kabur dari rumah David.


"Mengapa kamu malah diam, cepat siapkan bajuku!" titahnya kasar.


Langkah Scarlet terayun, dia jengkel, dengan tangan gemetar membuka sebuah almari besar berwarna gold. Ternyata Tuan Ardian mempunyai selera tinggi, walaupun dia tidak melihat, pakaiannya branded semua dan berjejer sangat rapi mengikuti warna. Disini lebih dominan warna putih tulang dan abu-abu muda.


Scarlet mengambil stelan outtfit jas berwarna hitam, dia juga mengambil dasi senada, serta sepatu hitam.


"Celana dalamku mana?" hardiknya keras. Scarlet kaget, spontan dia menutup bibirnya, takut Tuan Andrian melihat senyum malunya.


"Maaf Tuan....*


Apakah benda keramat itu juga harus dia yang menyediakan atau perlukah dia menyiapkan pampers untuk bayi besarnya ini? benar-benar dia merasa dilecehkan.0?


"Kamu mendengarku atau tidak?" sentaknya lagi.


Scarlet buru-buru melangkah lebar menuju lemari pria itu lagi, dia lalu membuka laci almari yang berisi puluhan barang segitiga pengaman rudal Tuan Andrian.


Dia menarik benda yang paling atas dari tumpukan benda segitiga itu dan menyerahkan kepada Tuannya. Dia berdoa supaya Tuan Andrian mau berbaik hati dan membebaskan dirinya dalam tugas memakaikan pakaian Tuan Andrian.


Tuan Andrian menerimanya dengan gerakan kasar, wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


"Tutup matamu dan berbaliklah!" perintahnya galak.


Scarlet menurutinya tanpa banyak protes, seraya mengatur nafasnya. Dia ingat David dan merindukannya.

__ADS_1


"Berbaliklah, pakaikan baju untukku!" titahnya lagi.


Dengan hati-hati Scarlet mengambil pakaian Tuan Andrian dan mulai memakaikan satu persatu pakaian itu. Dia merasa gemetar, nafasnya tidak teratur. Seumur-umur dia belum pernah melakukan pekerjaan ini. Saat dia memasangkan dasinya wajah Tuan Andrian sangat dekat dengannya, mata Scarlet melihat bebas bibir sexy itu. Dia menelan salivanya.


"Jangan kamu mengkhayal yang tidak-tidak, jauhkan pikiran mesum yang bersarang di otakmu." desis Tuan Andrian geram.


"Aku tidak mesum seperti pikiranmu, aku cuma melihat apa yang ada di depanku. Kalau itu salah, jangan lagi aku disuruh memakaikan Tuan baju." sahutnya bergetar.


"Kamu banyak bacot, cepat sepatuku dan terakhir sisiran."


"Maaf Tuan, saya akan memakaikan anda sabuk." kata Scarlet berkeringat dingin. Jantungnya hampir copot saat Tuan Andrian menghempaskan tubuh Scarlet dengan kasar.


"Cepat laksanakan tugasmu," ujarnya dingin.


Scarlet lekas bangkit berdiri, dia memakaikan jas dan membantunya memakainya sepatu dan terakhir sisiran. Mata Scarlet bersinar kagum melihat Tuannya sangat macho. Pria ini sangat ganteng. pikir Scarlet.


"Jangan menatapku terus." Scarlet cepat membuang mukanya, dia merasa jengah diketahui berbuat begitu.


"Besok, jika kau terlambat lagi, aku akan memotong sepuluh persen dari gajimu," ucapnya mengancam.


Aku tersentak dari pikiran anehku, lalu menatapnya dengan pandangan tak percaya.


"Saya tidak terlambat Tuan, besok saya akan tidur di sofa ruang tamu Tuan supaya tidak terlalu jauh saya berjalan.


"Hidup harus santai Tuan, kalau saya diam terkesan kaku."


"Kamu bawel sekali."


Scarlet ingin menyahut tapi ada suara ketukan di pintu, membuatnya mengurungkan niatnya.


"Buka pintunya!" perintahnya.


Scarlet beranjak membukakan pintu dan mendapati seorang pelayan mengantar makanan.


"Selamat pagi, permisi Tuan." pelayan itu membungkuk sebelum berjalan melewatinya, dia meletakkan baki di sebuah meja yang sudah tersedia disitu. Bau masakan membuat perut Scarlet ikut keroncongan.


"Silahkan nona membantu Tuan makan. saya permisi." kata pelayan itu keluar kamar.


"Mulai besok, kamu yang harus menyediakan makanan untukku. Bukankah pak Sardon sudah memberitahumu?" suara Tuan muda terdengar lagi saat pelayan sudah mengundurkan diri.

__ADS_1


"Silahkan Tuan pindah dan duduk disini, saya akan membantu Tuan makan."


Scarlet melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, tepat pukul enam pagi. Baiklah, setidaknya dia sudah tahu waktu sarapan pagi pria ini. Scarlet menarik kursi, menyuruh Tuan Andrian duduk.


"Aku bisa sendiri."


"Baiklah Tuan." jawab Scarlet sopan dan menunggu Tuan Andrian makan.


Melihat sikap pelayan wanita tadi yang begitu patuh dan hormat kepada Tuan Andrian, Scarlet merasa jadi babu yang paling kurang ajar di sini. Tapi tak apa, itu memang harus dilakukan supaya Tuan Andrian tahu bahwa dia juga manusia.


"Apa yang kau lakukan? Cepat suapi aku!" Geraman pria itu kembali terdengar.


Scarlet cepat duduk di sampingnya dan heran, hanya terdapat roti tawar yang diolesi mentega. Beginikah sarapan orang kaya yang kelihatan hidupnya sangat mewah. Scarlet mengambil piring dan memotong roti dengan pisau. Dia mengambil garpu dan menyuapi Tuan Andrian.


"Hanya roti biasa, kenapa harus minta disuapi?" tanyaku heran.


"Karena aku sibuk." sahutnya ketus.


Scarlet hanya diam, tak menanggapi omongan Tuannya. Sibuk seperti apa yang dia maksud saat dirinya sendiri hanya duduk diam di kursi.


Suara ketukan kembali terdengar, kali ini Tuan langsung menyuruh orang itu masuk.


Pak Sardon masuk dengan sopan, dia melangkah dengan pandangan datar seperti biasa.


"Semua keperluan anda sudah siap, Tuan. Apakah anda ingin berangkat sekarang?" tanya pria itu sangat- sangat sopan.


Tuan Andrian mengangguk. Tuan Sardon lalu melangkah keluar begitu saja, tanpa ada raut tersinggung di wajahnya.


"Tuan minum dulu." kataku meraih teh hangat dan menyodorkan kepada Tuan muda. Kemudian Scarlet membersihkan bibirnya dengan tisuee.


"Jika kamu terus melamun dan bermalas-malasan mengerjakan tugasmu, maka lebih baik aku mendepakmu dari sini sekarang juga!"


Waduhh... Scarlet kaget, kenapa Tuan sering kali mengomel panjang lebar padanya, sementara irit bicara dengan pelayan lainnya.


"Aku akan mengantar Tusn sampai kantor.


Dengan menahan dongkol di dada, Scarlet berdiri.


"Tuan mana sentuhan terakhirmu?" tanya Scarlet mengedarkan pandangannya ke tempat parfum yang berjejer.

__ADS_1


"Ambil yang maskulin." printah Tuan Andrian mengerti. Dia kemudian mengambil parfum Bvlgari dan menyodorkan ke Tuan Andrian. Tuan terlihat begitu sempurna dan elegan, walaupun pandangannya selalu lurus ke depan.


*****


__ADS_2