SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
PASRAH


__ADS_3

Dia tidak tahu dimana ini, Andrian mengajaknya ke sebuah Apartemen.


"Trimakasih Andrian, aku berhutang nyawa padamu." kata Scarlet sendu.


"Mandilah, maaf aku tidak ada pakaian untukmu. Setelah keadaan aman baru kita keluar membeli baju."


"Tidak apa-apa Andrian, yang penting aku sudah bebas dari Lala. Wanita itu membuatku terpuruk."


"Aku akan menyembunyikan keberadaanmu, semoga mereka tidak bisa mencarimu. Kamu mandi dulu, aku akan keluar membeli makanan."


"Ya Andrian, trimakasih."


Scarlet membersihkan badannya, dia bersyukur bisa lepas dari tangan David dan Lala. David sangat jahat, manusia iblis, cintanya palsu. gerutu Scarlet, ternyata dia menggugat cerai karena Lala sekarang disamping nya. Dasar laki-laki bajingan. Maki Scarlet dalam hati.


Keluar dari kamar mandi Scarlet tidak menemukan Andrian, dia malah bertemu dengan seorang laki-laki perlente yang berdiri kaku di luar kamarnya.


“Selamat siang, nyonya. Saya Niko, Saya diutus oleh Tuan Andrian untuk menjemput anda.” ucap pria itu sopan dan tegas.


Scarlet memandang pria itu naik turun, dia tidak begitu saja percaya dengan ocehan pria ini. Dia sudah trauma terhadap orang-orang yang ingin menjemputnya.


"Mana ponselmu, aku akan menanyakan Tuanmu, apa benar dia menyuruh aku datang padanya."


"Ta - tapi nyonya..." Scarlet tidak mau tahu dia cepat mengambil ponsel Niko dari tangannya.


"Saya yang menghubungi Tuan, nanti Tuan memarahi saya kalau ada orang lain yang menghubunginya."


"Tuan Andrian temanku, tidak mungkin dia memarahimu." baru saja Scarlet mau menelpon Andrian, ada panggilan masuk dari "bos"


"Halo siapa ini, kamu Andrian?" tanya Scarlet ingin tahu. Tidak ada sahutan, agak lama...


"Halo..halo..siapa ini, jangan kamu main jemput saja, aku tidak sudi."


"Sabar, aku Andrian, maaf."


"Owh...aku kira siapa, aku segera kesana." kata Scarlet lega. Niko pun lega. Syukurlah. desisnya.

__ADS_1


"Silahkan nyonya mengganti pakaian, saya menunggu disini."


"Aku sudah siap." kata Scarlet datar, dia tidak punya pakaian ganti.


"Mari, nyonya." ucap Niko sedikit membungkuk, dia mempersilahkan Scarlet mengikutinya.


Niko membawanya masuk ke sebuah mobil Alphard dan memacu mobilnya sedikit kencang. Dalam perjalanan tidak ada yang bicara, Scarlet merasa tidak ada yang perlu di bicarakan, dia type orang yang tidak senang gosip. Seingatnya dia belum pernah melihat Niko di kantor, atau pengawal di rumah Andrian.


Perasaan Scarlet mulai tidak enak, dia khawatir karena mobil masuk ke sebuah Gedung yang menjulang tinggi. Scarlet ragu-ragu berjalan, dia merasa ada sesuatu, tapi apa? Niko bergegas mengajaknya masuk ke dalam gedung. Ada satu dua karyawan yang menyapa mereka dan melihat aneh kepada Scarlet. Tentu mereka berpikir siapa yang diajak Niko, terus terang dandanan Scarlet seperti wanita yang habis diamuk istri orang, pakaian Scarlet termasuk kurang layak di pandang mata.


Mereka menuju lift khusus, untuk sampai di ruangan eksekutif, lift terasa lamban bergerak, melewati lantai demi lantai dan kemudian berhenti. Scarlet dan Niko keluar, suasana terasa hening dan tidak terdengar keributan seperti di lantai bawah.


Seorang karyawan menyambutnya dengan tersenyum ramah.


"Silahkan nyonya mengikuti Bapak Syam." kata Niko kepada Scarlet.


"Ya, trimakasih." jawab Scarlet. Dia mengalihkan pandangannya kepada Pak Syam sambil tersenyum.


"Silahkan masuk nyonya, Tuan sudah menunggu nyonya di dalam." kata Bapak Syam menyuruh Scarlet masuk ke dalam sebuah ruangan. Dia tidak habis pikir, kenapa anak buah Andrian memanggil dirinya dengan sebutan nyonya? seingatnya Andrian bukan orang yang suka pamer, seperti David, dan dia bukan istri David.


Aroma bunga Lavender dari Calmic menyergap hidungnya, bau yang dia suka. Scarlet tersenyum garing karena dia tidak melihat siapapun di dalam ruangan. Matanya tertuju ke depan, dia tidak menyangka di dalam ruangan ini ada panggung kecil, sebesar panggung live musik yang ada di Bar. Dadanya langsung berdegup kencang, dia ingat ocehan Lala yang akan menyuruhnya menari di depan Xander.


“Permisi, ada orang? Andrian dimana kamu?" ucapnya kencang, suaranya bergema, karena ruangan kosong. Lama tidak ada jawaban.


"Hai..ada orang, jangan main-main, aku tidak takut sama siapapun. Hidupku sudah pahit, sepahit empedu."


"Jangan ribut, jaga bicaramu." suara itu membuat Scarlet bungkam. Kakinya tiba-tiba lemas,


Dunianya seperti berhenti berputar, pria itu menatap Scarlet dengan tatapan yang sulit diartikan maknanya. Dia sangat tampan dan jantan. Scarlet mundur, jantungnya berdetak tidak karuan begitu dia berjalan mendekat, selangkah demi selangkah.


"Aku membelimu seperti orang lain membelimu." katanya tajam, scarlet mati gaya, dia tidak menyangka nasib buruk kembali menimpanya.


"Aku tidak menjual diriku kepada orang brengsek sepertimu."


"Jadi hanya kau jual kepada Andrian?, ahh.... begitu maksudmu?" bentaknya, membuat Scarlet marah, darahnya mendidih. David perlahan mendekatinya, jarak mereka terlalu dekat, Scarlet bisa mencium aroma tubuh pria itu yang maskulin.

__ADS_1


"Apa pedulimu, kita tidak ada urusan lagi. Aku menjalani hidupku, sesuai keinginanku." kata Scarlet sinis. Dia sudah muak melihat David.


Rahang pria itu mengeras, wajah tampannya memerah, Scarlet tahu David sangat kesal menghadapi dirinya.


"Wanita murahan sepertimu masih saja sombong, dan jual mahal. Lihat saja kekuatan apa yang masih kamu punya dan kamu pertahankan." ucap David sinis sambil mengeluarkan 


smirk yang kalau diartikan terlihat seperti ejekan.


Harga dirinya terluka tapi dia tidak mau memperlihatkan atau sekedar memprotesnya. Hatinya tergores, dia hanya menahan sesak di dada. Salah satu alasan menghindarinya adalah karena dia tidak mau mendengar hinaan menyakitkan seperti ini.


"Mulai sekarang kau adalah budakku, kau wajib menari untukku. Kau menyiapkan seluruh keperluanku dan istriku."


"Aku tidak sudi!!" pekik Scarlet menjauh.


"Aku sudah membelimu dari Andrian dengan harga fantatis. Kau boleh memilih, tinggal di rumahku atau di tempat bordil dengan laki-laki hidung belang."


Scarlet bingung, kenapa Andrian bisa menjualnya?


"Andrian membayar hutangnya dengan tubuhmu, jadi mulai hari ini kau adalah pelayan di rumahku."


Serasa bumi berputar, Scarlet duduk terhenyak di sebuah sofa dia tidak menyangka Andrian berbuat begitu. Dia benar-benar ingin menangis kencang mendengar setiap kata dari pria jahat ini.


"Berapa aku berhutang padamu dari dulu, hitung?!"


Dia duduk di pinggir meja sambil tersenyum menyeringai. Kemudian memandang dengan tatapan yang menyeramkan. Terasa sangat mengintimidasi.


“Kau tidak mungkin bisa membayar hutangmu, biarpun kamu reinkarnasi kembali, hutangmu terlalu banyak. Aku tidak butuh uang darimu, karena uangmu haram, jika kamu berpikir akan membayar hutangmu dengan pelayanan ranjang, aku menolaknya, melihatmu saja aku jijik apalagi mau menyentuhmu." katanya sarkas.


Scarlet menunduk, matanya mulai berkabut, dia tidak bisa berucap lagi.


"Sebenarnya kau tidak bisa menolak, setuju ataupun tidak, kau akan tetap menjadi pelayanku. Jika kau berani kabur, aku akan menuntutmu dan menjebloskanmu ke penjara. Kau pasti tahu bahwa aku lebih dari mampu untuk melakukan itu khan?!"


Scarlet mengepalkan tangannya menahan marah dan sakit hati, dia merasa sangat terhina. Hidup ini memang tidak pernah adil untuknya sedari dia dilahirkan ke dunia ini. Dia pasrah, dia tidak mampu lagi menahan air matanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2