
David menaikkan sebelah alis, tanda tidak mengerti ucapan Iwan.0
"Apakah aku salah menengok istriku, aku ingin minta maaf, tapi belum apa-apa dia sudah mengusirku. Dia selalu berpikiran negatif, padahal aku tidak ada berbuat aneh-aneh." kata David kesal.
Kemudian Cyndi yang di sampingnya mengulurkan tangannya mengelus punggung David, memberikan rasa nyaman. Wanita itu tersenyum ketika David mengeluarkan nafas kasarnya. Akhirnya Cyndi melingkarkan tangan di pinggang David, dia memeluk David dari belakang.
"Cyndi!" protes lelaki itu seraya menepis tangan Cyndi. Wanita itu menoleh, kemudian memeluknya semakin erat, diiringi senyum genit.
"Astaga ... tidak tahu malu! Pantas saja lelaki cepat tergoda, lha wong penampilannya seronok begitu, belum lagi seperti ulet keket yang sulit lepasnya." bathin Iwan, dia hanya bisa perang bathin, tidak berani terang-terangan. David saat ini masih dalam keadaan error.
"Papi....."
Tanpa sadar, Cyndi melontarkan kalimat itu dari mulutnya. Tangannya terkulai melepas pelukannya di tubuh David. Seketika David menoleh, lalu menelusuri arah pandang Cyndi, dia kaget melihat papanya dan tante Winda berjalan berendeng. Untung mereka tidak menoleh kesini. pikir David.
"Papa dengan tante Winda." bisik David merasa dadanya mencelos. Ada rasa takut dengan tante Winda. Cyndi mencoba menetralisir suasana hati David dengan sebuah kecupan. Iwan yang melihat itu, menjadi muak, tingkah Cyndi over sekali.
Spontan David tersadar dia berusaha mengalihkan wajahnya dari papa dan tante Winda. Menyadari bahwa papanya sudah pulang dari luar kota, David merasa lebih tenang. Papanya akan membelanya dan memaksa Scarlet pulang ke rumahnya.
Cyndi buru-buru mengejar Tuan Alex, ini adalah bank berjalan yang harus dia pertahankan. pikir Cyndi. David ikut mengejar papanya, hanya Iwan yang diam, malas melihat tingkah bos nya dan Cyndi.
"Papi ... akhirnya kamu datang juga. Aku senang banget!" suara itu terdengar tidak asing bagi Tuan Alex. Tuan Alex menoleh ke arah sumber suara, dia terperangah melihat istri mudanya datang dengan manja. Alex memeluk istrinya dengan mesra.
"Kamu mau membesuk Scarlet?" tanya Tuan Alex mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Heh, apa-apaan ini, hah? dasar wanita genit, tidak tahu malu. Awas kau menengok anakku, aku tidak segan-segan menendangmu." nyonya Winda geram, lalu menepis tangan Cyndi yang melingkar di pinggang sepupunya.
Kali ini, sikap Cyndi berubah total, bisa jadi karena ada Tuan Alex. Air mukanya berubah, tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya lagi.
"Kenapa nenek lampir, kamu tidak terima? Makanya, jadi perempuan jangan shock suci. Kalau sudah tua pensiun saja."
Plaakkk....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Cyndi. Namun, Cyndi tidak tinggal diam. Dia melayangkan tangan kanannya, dan mendaratkan tamparan super keras di pipi nyonya Winda. Darah muncrat dari mulut nyonya Winda. David cepat menangkap tubuh nyonya Winda yang terhuyung.
Wajah nyonya Winda gelap, segelap malam itu. amarahnya memuncak. Napasnya menderu tak beraturan. Matanya melotot kepada Cyndi yang bertolak pinggang. Telunjuk nyonya Winda mengacung, mrnyumpahi Cyndi dengan ksta-kata hina. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang mulai berkerumun.
"Sudahlah, Cyndi kau tidak sopan. Jaga tingkahmu." bentak Tuan Alex dengan wajah memerah. Dia malu kepada sepupunya dan kepada orang yang mulai menonton kejadian itu.
David juga marah kepada Cyndi, dia malah ingin menampar Cyndi karena berani melawan orang yang lebih tua.
"Tunggu, sayank...!" panggil Tuan Alex mengikuti Cyndi ke tempat parkir. Cyndi betul-betul ngambek dan menangis.
"Kamu malah memarahiku di depan umum, sakit hatiku." kata Cyndi lirih ketika Tuan Alex mendekatinya.
"Cepat sekali marah, kamu tidak kangen sama suamimu." rayu Tuan Alex mau mengelus kepala Cyndi, tapi Cyndi berkelit.
"Untuk apa aku menunggu laki-laki yang memarahi diriku di depan banyak orang, dan tidak bergeming mendengar istrinya dicaci maki oleh perempuan tua yang lamis. Apa papi sudah bosan padaku, dia menghina istrimu sebagai wanita murahan. Aku malu, papi!" Cyndi menangis di dada suaminya. Dia berharap Tuan Alex mau membalaskan sakit hatinya.
__ADS_1
"Maafkan papi sayank, bagaimana kalau kita pulang..." Tuan Alex lalu merengkuh tubuh istri mudanya yang bohay. Perlahan, dia menaruh kepala Cyndi di dadanya, tangannya yang sudah berkeriput mengusap puncak kepala istrinya, lalu mengecupnya beberapa kali.
"Papi, aku mau melihat Scarlet, aku ingin membantunya. Kasihan dia tidak diurus oleh David. Scarlet sifatnya kurang baik, berani sama suami, suka berselingkuh, aku jadi kasihan kepada David yang tertekan jiwanya. Akhirnya David setiap hari kerjanya mabuk untuk mehilangkan perasaan tertekan dan stres."
"Apa David separah itu? Scarlet wanita yang baik, tidak mungkin dia berani kepada suaminya, kecuali David duluan berbuat masalah." kata Tuan Alex ragu, dia tahu sifat Scarlet.
Jawaban yang terlontar dari bibir Tuan Alex membuat sorot mata Cyndi menyiratkan kebencian yang dalam terhadap Scarlet. Mulutnya langsung mengerucut ke depan.
"Baiklah, papi selalu membela Scarlet, tanpa mau tahu perasaanku dan David. Pengorbanan David sudah banyak kepada perempuan itu, jika sekarang aku kesal sama Scarlet itu wajar. Perempuan itu tidak sopan kepadaku, perbuatannya membuat keluarga Xander membenci David dan aku. Dia tidak hormat kepadaku sebagai Ibu tirinya, dia tidak jujur terhadap perasaanya sendiri."
"Papi tidak membela siapapun, kamu istriku dan Scarlet dan David anakku. Jadi aku belum tahu masalah yang sebenarnya."
"Lupakan saja, mari kita menengok Scarlet, dia adalah menantu kita, tidak menantu nyonya Winda, kenapa nyonya Winda melarang kita datang menengok menantu kita. Aku rasa mereka punya tujuan tertentu kepada Scarlet, ntah apa itu."
"Kalau begitu kita ke tempat Scarlet, aku tidak enak kalau tidak datang." kata Tuan Alek tandas. Mereka kembali masuk ke Rumah Sakit. Di koridor Rumah Sakit mereka bertemi dengan beberapa keluarga Xander. Semua hormat kepada Tuan Alex tapi tidak ada yang perduli kepada keberadaan Cyndi.
Pemandangan pertama yang terlihat adalah keberadaan David yang duduk di sebelah bed Scarlet.
"Buat apa kamu mempertahankan Scarlet di sampingmu, kalau jiwamu berkelana kepada perempuan lain." ketus suara Indah. Dia memang lebih kecil dari David, bukan berarti dia harus takut mengeluarkan pendapat.
"Aku tidak ada berbuat apa-apa, selama menjadi suaminya, siapa yang selalu dekat dengan lelaki, dia!"
"Jadi kau membalikkan fakta, berarti selama ini kau buta dan tidak tahu mana sampah, mana bunga. Aku rasa kau seumpama lalat hijau, yang selalu mencari sampah walaupun bunga telah menunggumu."
__ADS_1
"Ada apa ini Indah? Scarlet adalah menantu Om, wajar kalau David mengajaknya pulang ke rumah." Tuan Alex yang baru datang menyela. Semua terdiam, karena tidak tega mengatakan bahwa David dan Cyndi yang membuat masalah ini mencuat.
*****