SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
GUGAT CERAI


__ADS_3

Kemarahan Lala kepada Andrian memuncak, dia memacu mobilnya dengan kencang. Sampai di Apartemen David, Lala langsung masuk ke ruang tamu.


David dan Iwan sedang minum berdua, mereka sedang membahas masalah hilangnya Scarlet yang tidak kunjung ketemu.


"David, aku sudah tahu dimana istri kesayanganmu berada dan dengan siapa. Tapi informasiku ini mahal." kata Lala nyelonong masuk seraya duduk di samping David.


David saling pandang dengan Iwan, dia kurang percaya kepada Lala.


"Apa yang kamu dapatkan, kalau info itu bernilai, bos pasti menyanggupi keinginanmu." jawab Iwan datar.


"Pertama kamu harus menceraikan Scarlet dan yang kedua memberi aku nafkah lahir bhatin, yang ketiga calon anakku menjadi pewarismu."


"Kurang ajar!! tidak satupun keinginanmu bisa aku penuhi."


"Kalau begitu aku membiarkan Scarlet menjadi peliharaan ...." Lala menggantung omongannya.


"Apa yang kamu tahu, kalau itu berguna aku mempertimbangkan permintaanmu." sahut David cepat. Hatinya tiba-tiba tidak enak.


"Ini bukti nyata yang tidak bisa kamu bantah. Istrimu berselingkuh dengan Andrian. Selama ini Andrian tahu dimana Scarlet berada, karena dialah yang sebenarnya menyembunyikan istrimu." kata Lala menyerahkan foto Andrian dan Scsrlet yang sedang berpelukan.


Rahang David mengeras, wajahnya berubah menjadi merah membara. Ketika melihat foto itu.


"Ternyata dugaanku benar, Andrian diam-diam mencintai Scarlet." geram David.


Brakkk


David menggebrak meja, dia berdiri dan membuka ponselnya. David langsung menghubungi Ibu Nilam.


"Bu Nilam, hubungi bos PT Andrian, katakan kalau kwartal pertama tidak bisa membayar hutangnya, aset akan disita sesuai kesepakatan."


"Tapi bos... bapak Andrian punya itikad baik akan membayarnya dengan bertahap."


"Kerjakan, atau aku pecat."


"Ya -ya bos.."


"Lala! katakan dimana perempuan itu sekarang." bentak David memandang Lala dengan mata tajam.


"luluskan keinginanku dulu." sahut Lala tenang. Dia senang semua rencananya berjalan lancar.


"Aku akan menceraikannya." kata David dengan suara tinggi.


"Bos..jangan grasa grusu, tarik kata- katamu." Iwan kaget mendengar keputusan David.

__ADS_1


"Apalagi harus dipikirkan, perempuan itu rupanya ingin bermain-main denganku. Selama ini aku bersabar, dia belum tahu siapa aku."


"Bunuh saja dia David, perempuan seperti itu pantang di pelihara." Lala ikut mengompori.


"Aku tidak mengerti jalan pikirannya sehingga bisa berselingkuh dengan Andrian. Bagaimana kalau keluarga Xander tahu, bikin malu saja." sambung Lala lagi.


"Katakan dimana dia sekarang!!" teriak David mencengkram lengan Lala.


"David, aku mengandung anakmu, mengertilah, lepaskan aku."


"Aku tidak pernah menyentuhmu, jangan bikin masalah baru."


"Ini anakmu." teriak Lala. Tangan David cepet bergerak mencekik leher Lala.


"Katakan dimana dia, atau kamu mati sekarang."


"David, lepaskan, aku tidak bisa bernafas. Kau telah menyakiti Ibu dari calon anakmu."


"Ciihh...katakan cepat!!"


Lala merasa kesakitan, kesal sekali dia dengan keteguhan David yang tidak tergoyahkan. Dia sudah senang David menceraikan Scarlet, tapi untuk mengakui calon bayinya David tidak mau.


"BARISTA!!" teriak Lala kesal.


"Iwan hubungi pengacaraku untuk menyiapkan surat perceraianku. Segera!!" titah David.


Iwan tidak bisa bicara apa-apa, dia mengikuti perintah David.


****


Tidak biasanya dia bangun sangat pagi sekali, tadi malam dia bermimpi bertengkar dengan David. Untung cuma mimpi. Scarlet sangat takut jika mimpinya jadi kenyataan, jangan sampai hal buruk terjadi.


Scarlet mematut dirinya di cermin, dia menatap wajahnya yang sedikit pucat. Hari ini perasaannya sangat berbeda, dia malah merasa David akan datang menjemputnya. Jika itu terjadi, dia akan menghambur kepelukan David, menangis di dada dan bercerita tentang kerinduannya. Setelah itu Scarlet akan membisikan di telinga David, bahwa dia sudah berbadan dua. Ahh...khayalan itu sangat indah, tentu David akan sangat bahagia.


Scarlet menarik nafas dalam, dia berharap bisa segera bebas dari sini, itu adalah keinginan utama.


Tokk..tokk..tokk..


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Scarlet. Dengan perasaan malas dia membuka pintunya.


"Iss..kenapa ketok pintu, bukannya langsung masuk." gerutu Scarlet cemberut.


"Kena kau, makanya jangan suka ngelamun." kata Manda nyengir.

__ADS_1


"Siapa ngelamun, orang lagi ngayal." sahut Scarlet tertawa.


"Ada yang mencarimu, pakai baju yang pantas." kata Manda.


"Siapa mencari?" tanya Scarlet mengerjitkan alisnya, dia berharap supaya yang mencarinya David.


"Ingat, nyawamu di genggamanku, jangan aneh-aneh. Pengawal akan mengantarmu." ucap Manda serius. Dia baru tahu kalau Iwan mencari Scarlet, berarti Scarlet pacarnya atau peliharaannya Iwan. pikir Manda.


Scarlet mengganti pakaiannya lalu keluar, dia kemudian di antar menuju ke sebuah ruangan.


"Iwan..." seru Scarlet, dia merasa senang Iwan menjemputnya. Tapi wajah Iwan datar tanpa senyum.


"Duduklah!" kata Iwan seperti perintah. Scarlet menekan perasaan sedihnya ketika ada yang berbeda dimata Iwan.


"Apakah David...."


"Bos sibuk tidak bisa datang, aku mewakilinya. Kami, aku dan David, tidak ingin mendengar apapun dari kamu. Semua sudah jelas. David hanya bisa berpesan, dia menyesal pernah bertemu denganmu."


Wajah Scarlet pucat, dia merasa seolah terjun bebas dari ketinggian menuju jurang yang sangat dalam.


"Tanda tanganlah, tidak usah drama." kata Iwan memberi map biru yang berisi gugatan cerai.


"Apakah David menceraikanku?" tanya Scarlet dengan air mata yang tidak bisa di tahan.


Iwan menatapnya dalam, dia tidak tahu apakah pemikiran David benar, atau ini hanya rekayasa Lala. Iwan tidak mau berpikir panjang, yang penting dia sudah menjalankan tugasnya.


Dengan tangan gemetar Scarlet menanda tangani surat itu. Hatinya sangat sedih menerima kenyataan ini. Seorang pengawal menyodorkan tissue kepada Scarlet, mungkin dia kasihan melihat Scarlet yang sudah jatuh tertimpa tangga lagi.


"Aku ingin tahu khabar David?"


"Maaf nona, kalau sudah selesai tanda tangan, saya mau pulang." kata Iwan mengalihkan pembicaraan. Dia lalu berdiri mengambil surat itu dan memasukan ke map biru.


Setelah kepergian Iwan, Scarlet lalu kembali ke kamarnya. Dia duduk termenung, larut dalam kesedihan. Perasaannya hampa, dia merasa keputusan David sangat aneh, seolah ada yang mendesaknya supaya David segera menceraikannya. Mungkin mamanya atau Lala.


Kening Manda mengernyit dalam, untuk sesaat mereka hanya saling menatap dan tenggelam dalam kesunyian, entah apa yang ada di pikiran Scarlet tentang dirinya saat ini, sekarang dia sudah tidak peduli. 


Setelah keheningan yang lama, suara tawa Manda terdengar mengejek.


"Oh ayolah Scarlet, kenapa kamu berubah menjadi menyebalkan seperti ini? kamu harus bangkit."


Tangan Scarlet terkepal, bibirnya mengatup rapat, suasana menjadi sangat menegangkan. Dia menatap Manda lurus dengan matanya yang berapi-api. Sejak awal Scarlet tidak begitu suka dengan Manda.


Kepala Scarlet menunduk, tangannya yang sejak tadi terkepal di samping mulai memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, rasa menusuk dan tidak nyaman merambat di dadanya. perih. sangat perih.

__ADS_1


Perlahan air mata Scarlet turun membasahi pipinya, dia menghapus air mata yang jatuh di pipinya dengan cepat, namun air mata kembali turun dan terus berulang, sampai dia lelah.


*****


__ADS_2