
David memarkir mobilnya. Tempat parkir terlihat lengang. Sebelum dia keluar, David cepat meraup bibir Scarlet dan ********** habis.
"Aku merindukanmu." bisik David sambil melepaskan pelukannya.
"Iss..bisa-bisanya mengambil jatah." sungut Scarlet mengatur nafas.
"Mari kita turun, kalau lama-lama di mobil kamu bisa habis."
Kemudian mereka turun dari mobil, Scarlet melihat sekelilingnya takut ada si Udin. David menggandeng tangan Scarlet, terpaksa Scarlet menurut supaya David tidak berulah.
“Kamu tidak menungguku selama ini padahal aku mengharap setelah pertemuan tadi kamu memelukku." keluh David menatap gadis di sampingnya.
Scarlet mendengus kesal, David tidak sadar kalau mereka berdua sering menjadi tontonan pengunjung yang lain. Padahal mereka sama dengan pengunjung lain, tidak ada istimewa.
Mereka lalu memilih tempat duduk di pojok supaya agak tersembunyi.
”Kamu pesan apa?” Tanya David sambil melihat list menu, dan mengabaikan wajah Scarlet yang cemberut.
“Langsung bicara saja, aku ingin cepat kembali bekerja."
"Nggak enak dilihat orang, kita harus punya etika kalau berada di depan umum. Tidak boleh cemberut, nanti jadi tontonan orang." kata David pelan. Scarlet seketika merubah sikapnya dengan terpaksa.
David tersenyum tipis melihat gadis di depannya. Seorang Barista datang menyodorkan dua gelas Java Chip Frappuccino yang tadi telah di pesan oleh David.
"Minumlah, aku tidak suka manis jadi aku menambahkan espresso. Kamu mau coba? rasanya lebih deep dan balanced."
"Aku tidak biasa ngopi, jadi tidak bisa membedakan yang mana lebih enak."
"Coba kamu cicipi keduanya, pasti beda." kata David serius.
"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Scarlet mengalihkan pembicaraan.
"Minumlah, kita bicara perlahan. Aku akan pindah duduk disampingmu, supaya lebih jelas." tanpa menunggu jawaban David pindah disamping Scarlet. Scarlet memutar bola matanya kesal.
David memandang Scarlet tajam dan mengeraskan rahangnya. Tumben dia menghadapi gadis yang tidak tertarik pada dirinya. Sebenarnya dia sudah bersabar menghadapi Scarlet sedari tadi, tapi Scarlet sangat acuh.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? aku tidak enak kalau lama pergi dari Toko lagipula yang punya sedikit galak."
"Scarlet, kamu mau pindah kerja? atau tidak usah bekerja aku yang membiayaimu."
"Sayang sekali banyak yang memperhatikan kita, kalau tidak ada orang, aku jamin mulutmu sudah aku tutup dengan lakban."
"Jadi bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Langsung saja, tidak usah mengalihkan pembicaraan?" Scarlet sudah tidak sabar. Dia tidak mau lama-lama dengan pria ini, tidak baik bagi kesehatannya.
"Kamu hamil?" bisik David. Untung saja Scarlet tidak sedang minum, bisa-bisa dia tersedak mendengar pertanyaan pria itu.
"Tidaklah, kamu membuat aku kaget. Darimana kamu mendapat ide bertanya begitu."
"Jangan berbohong, aku tahu beberapa waktu lalu kamu pergi ke dokter kandungan." wajah Scarlet langsung berubah. David yakin kalau Scarlet hamil, sudah pasti janin itu miliknya. Scarlet tidak berhubungan dengan laki-laki manapun selain dengan dirinya.
"Aku tidak hamil, seandainya aku hami, aku akan minum obat anti hamil."
"Scarlet bisakah kamu yang bisa menenangkan hatiku. Aku yakin kamu hamil, malam itu aku tidak memakai pengaman." wajah Scarlet merona merah mendengar perkataan David.
"Kenapa aku harus berbohong, aku tidak hamil. Untuk apa kamu menanyakan itu padaku?" tanya Scarlet curiga, dia melihat David penuh selidik.
"Ayolah Scarlet, kamu membuat aku penasaran."
"Aku tidak berbohong, antar aku ke Toko dulu. Bos akan marah padaku kalau terlalu lama. Jangan membuat aku kesulitan David."
David kemudian berdiri, melangkah melewati Scarlet yang berdiri mematung. Cepat-cepat Scarlet mengikuti David dan menuju tempat parkir.
"Berapa gajimu sebulan disini?" tanya David saat mereka membelah jalan Diponegoro.
"Tiga juta tanpa makan siang. Kadang lembur sampai jam sepuluh malam."
"Tidak semudah itu, aku sudah bersyukur bisa kerja. Aku rasa semua kerjaan berat, jadi tidak masalah."
"Tapi kalau kamu hamil berhenti kerja ya, aku tidak mau melihatmu banting tulang."
"Mana aku bisa hamil, menikah saja belum. Jangan mengkhayal dech."
"Ngomong-omong kamu mau mengajakku kemana. Ini bukan jalan ke toko." Scarlet melihat ke jalanan, mencoba mengenali ke arah mana tujuan mereka.
Mobil tiba-tiba berhenti di depan praktek dokter kandungan.
"Mengapa harus kesini?"
"Tidak usah banyak tanya, ikut saja. Kamu akan tahu nanti saat kita tiba disana." kata David berteka teki. David sebenarnya malas menjawab pertanyaan Scarlet.
"David, jangan memaksaku. Aku tidak mau periksa kandungan, bisa kamu putar balik dan antar aku ke Toko."
"Tidak bisa." potong David cepat.
Scarlet menyandarkan punggungnya dan membuang muka ke arah jalanan, dia kesal kepada David yang selalu memaksa kehendaknya.
__ADS_1
"Turunlah, kalau kamu tidak mau, aku akan menggendongmu." kata David membuka pintu Scarlet.
"Uhh..selalu saja bikin ribet." sahut Scarlet kesal.
David langsung membawa Scarlet menemui dokter kandungan. Scarlet menghentikan langkahnya, otomatis David ikut berhenti.
"ada apa? Kenapa berhenti?" tanya David menatap Scarlet.
"Kenapa harus ke sini? aku takut kalau temanku ada yang melihat." kata Scarlet bingung.
David mengerutkan keningnya dan mendengus, lalu tanpa banyak bicara dia menarik tangan Scarlet menuju tempat pendaftaran dan ikut mengantri. Tidak begitu ramai, ada tiga orang. Scarlet merasa lega ketika namanya dipanggil. Mereka masuk keruangan dokter kandungan.
"Nyonya, rasanya kemarin kesini." Dokter Finda heran melihat Scarlet periksa lagi. Dia dokter yang memeriksanya kemarin.
"Tolong katakan padanya, dokter, kalau saya tidak hamil," kata Scarlet menujuk David dengan dagunya.
"Langsung periksa saja dokter, saya ingin tahu, kenapa istri saya belum juga hamil." ucap David dengan nada sedikit memerintah.
"Ohh..anda suaminya? sepertinya saya sering melihat, wajah anda sangat familiar."
"Banyak yang berwajah ganda dokter, mungkin anda salah lihat." David buru-buru menyahut. Dia tidak ingin dokter ini membahas dirinya.
"Silahkan naik ke bed nyonya."
"Ya dokter." Scarlet rebahan dengan perasaan jengah karena David ikut berada disampingnya saat dokter Finda memeriksanya. Seperti suami pada umumnya David sok sibuk ketika dokter Finda menyingkapkan baju Scarlet.
Terlihat perut Scarlet yang putih mulus, tanpa terasa David menelan salivanya. Sementara dokter Finda mempersiapkan alat untuk USG.
"Permisi nyonya." kata dokter itu mengoleskan gel khusus di perut Scarlet, kemudian menempelkan alat USG.
"Ini rahim istri anda Pak, belum terjadi pembuahan. Anda harus lebih bersabar. Ini biasa terjadi. Berapa lama umur pernikahan kalian?"
"Jadi dia tidak hamil?" tanya David kecewa. Dia ingin Scarlet hamil supaya Scarlet menjadi miliknya.
"Belum pak, mungkin bisa di buahi dulu lagi. Bisa juga karena nyonya terlalu capek." jelas dokter Finda.
"Saya mungkin harus bekerja sama dengan istri saya, kadang dia sering menolak." kata David melirik Scarlet.
"Waduhh...jangan suka menolak nyonya, nanti suami nyonya jajan di luar, bisa berabe."
Scarlet menutup wajahnya malu. Ingin sekali dia menggigit David supaya diam mulutnya. Dokter Finda terus meladeni candaan David, dia sengaja membuat Scarlet berada di posisi salah karena tidak mau meladeni suami.
"Ini vitamin, dan jaga kesehatan. Yang terpenting kerja sama kalian berdua, semoga di bulan berikutnya nyonya sudah mengandung, sabar dan berikhtiar." kata dokter Finda.
__ADS_1
*****