
Pagi ini Scarlet buru-buru ke dapur untuk membuatkan David sarapan. Dia sangat senang karena David mengizinkan dirinya ke Panti Asuhan sudah lama dia ingin menengok Ibu Panti.
"Hai..Cyn...kamu sudah membuat sarapan, rajin banget." kata Scarlet mendekati Cyndi yang menata menu makanan diatas meja.
"Ini pekerjaan mudah, dulu waktu aku shooting sering sekali menyiapkan makanan sendiri. Sudah menjadi kebiasaan."
"Tapi ini makanan berat semua, kamu hebat bisa masak secepat ini, jam berapa bangun?" tanya Scarlet kagum. Dia tidak tahu kalau semua lauk pauk itu Cyndi beli di Rumah makan Padang.
"Aku biasa kalau di Apartemen menyiapkan sarapan untuk papi, ya begini. Kalau David suka sarapan apa? atau makanan kesenangannya apa?" tanya Cyndi.
"Dia pagi-pagi paling aku bikinin Sandwich, kadang bubur balado atau nasi uduk." sahut Scarlet polos. Kata itu terekam di otak Cyndi. Senyum iblisnya mengembang.
"Berarti kesenangannya sama dengan papi, syukurlah, aku bisa bikin untuk dua orang sekaligus. Kita tidak usah repot lagi." kata Cyndi mantap. Padahal dia tidak tahu apa kesenangan Tuan Alex, karena dia tidak pernah masak, dia lebih baik memanjangkan kukunya dari pada berkutet di dapur. Buat apa banyak uang kalau masih mengiris bawang.
"Cyn..kamu hebat, sudah cantik dan pintar masak lagi. Kamu juga tetap setia dengan Papi. Apa kamu tidak pernah merasa bersalah merebut suami orang?" celetuk Scarlet memandang Cyndi. Dia dari pertama sudah ingin tahu pemikiran Cyndi.
Mata Cyndi membulat, wanita di depannya ini sungguh berani mengulik pribadinya. Dia tidak ingin ada yang menyindirnya, itu urusan pribadinya.
"Aku tidak pernah merebut suami orang, mereka salah menilaiku. Pria itu datang padaku, dia tergiur melihat kecantikanku, aku sexy dan menarik.
Jadi tidak ada salahnya kalau kita menghiburnya, memberinya support dan memuaskannya di tempat tidur, jika dia jatuh cinta padaku aku tidak bisa menolak. Siapa wanita yang tidak mau uang, rumah, mobil?"
Scarlet terbelalak mendengar pendapat Cyndi, seolah yang Cyndi lakukan hal biasa. Bicaranya enteng tanpa beban.
"Pagi sayank, kamu meninggalkanku. Jadi tidak pergi ke Panti?" David datang langsung memeluk Scarlet dan mengecup kening istrinya, dia tidak menoleh sedikitpun kepada Ibu tirinya.
"Jadilah, sayank..kamu mau sarapan, tapi menunya berat semua."
"Aku tidak sempat sarapan karena hari ini aku pagi-pagi harus sudah berada di Kantor."
"Sarapan ini Cyndi yang membuatnya kamu tidak ingin mencicipinya? enak lho." kata Scarlet membujuk David supaya mau sarapan. Tapi David tidak mau makan, bagaimanapun dia benci sama pelakor ini, yang membuat papa dan mamanya pisah.
"Kalau tidak sarapan aku antar ke mobil." kata Scarlet.
__ADS_1
Mata Cyndi berkabut, dia sedih, ingin nangis rasanya dengan tingkah David yang acuh padanya. Dia dikacangi dan makanannya tidak di sentuh sama sekali. Dengan kesal Cyndi mengambil semua makanannya dan membuangnya ketempat sampah. Jika kamu tidak makan, berarti semua orang juga tidak boleh makan gerutu Cyndi kesal.
Pelayan yang berada di dapur kaget melihat sikap nyonya Cyndi. Mereka memilih keluar menunggu nyonya Scarlet yang baik hati. Setelah David pergi ke Kantor Scarlet kembali ke dapur, tapi dia tidak menemukan siapapun, makanannya juga kosong.
"Nyonya, perlukah lagi kita membuat sarapan?"
"Apakah kalian sudah makan semua?"
"Belum nyonya, semua makanan di buang oleh nyonya Cyndi. Dia marah ngoceh sendiri, saya jadi takut berada di dapur."
"Lho, kenapa dibuang, apa kalian ada mengusiknya, atau mencicipi makanannya sebelum Tuan Alex makan?"
"Tidak nyonya, sepertinya dia kecewa karena Tuan David tidak mau makan, saya tidak tahu pasti sih."
"Begitukah?, mulai sekarang bibi harus awas, perhatikan nyonya Cyndi jangan sampai dia melakukan hal yang membuat kita semua hancur."
"Benar nyonya, seorang pelakor tidak akan pernah puas sebelum dia meraih keinginannya." kata bibi iyem.
Pergi ke Panti, Scarlet memilih membawa mobil Hummer H3T dari pada mobil Porsche hadiah dari Tuan Alex. Bawaannya di belakang penuh dengan sembako. Dia juga mau singgah di tempat Catering, untuk mengambil pesanan nasi kotak.
"Scarlet, kamu mau kemana?" tanya mbak Indah ketika Scarlet singgah ke tempat Catering, di samping membawa sembako, Scarlet juga memesan seratus nasi kotak untuk anak-anak.
Scarlet menoleh, ada tante Winda, mbak Indah dan bunga.
"Mbak Indah... aku mau ke Panti, tante Winda kita ketemu lagi. Kalian mau kemana?"
"Perutmu sudah gede sayank, jangan setir sendiri, lebih baik bawa sopir." kata tante Winda khawatir.
"Sudah biasa tante, aku kadang membawa pesanan kue nyetir sendiri soalnya Tuan Alex mengajak sopir."
"Kamu masih memanggil Tuan Alex, panggil papa donk."
"Tadinya aku mau panggil papa, tapi gundiknya minta di panggil namanya tidak boleh di panggil mama atau nyonya, jadinya aku tidak merubah panggilan. Yang penting aku tetap hormat."
__ADS_1
"Hati-hati dengan pelakor." pesan tante Winda khawatir, dia tidak respect kepada sepupunya yang menikahi gadis muda, walaupun nikah siri tetap saja dia tidak setuju.
"Kamu tidak ingin di temani, mbak Indah suruh nyetir, tante nanti ngikut di belakang bersama bunga."
"Tidak usah tante, aku bisa sendiri."
"Tidak!!, kamu harus ikut mbak, ini sangat berbahaya." kata mbak Indah duluan naik ke mobil. Scarlet tidak berdaya, dia ngikut saja.
"Mbak Indah kapan menikah?" tanya Scarlet setelah mereka berada di mobil, sekarang Indah yang menyetir. Scarlet memandang mbak Indah dari samping.
"Lagi dua minggu." Scarlet kaget, David tidak pernah bercerita.
"Mbak, kamu mau nikah dengan siapa?" Scarlet penasaran, dia ingim tahu type laki-laki yang mbak Indah sukai.
"Sama Andrian, tadinya dia menolak, tapi orang tua kita sepakat saling menjodohkan."
"Haa...?? yang benar mbak, aku baru tahu. Semoga kalian bisa saling mencintai dan berbahagia." kata Scarlet tulus. Dia tidak tahu harus ngomong apa.
Akhirnya mereka sampai di Panti, Ibu Panti sangat senang dan juga terkejut, karena Scarlet bersama nyonya Winda.
"Silahkan masuk, Ibu sangat kangen kepada kalian semua, terutama kepada Scarlet. Sudah lama sekali tidak datang, bagaimana khabarnya. Kenapa bisa bersama nyonya Winda?"
"Kami kebetulan bertemu." jawab nyonya Winda.
"Bu ini donatur dari mana, sekarang bangunannya seperti Hotel, sangat bagus." kata Scarlet yang melihat bangunan Panti menjadi bangunan minimalis.
"Nyonya Winda yang membangun." jawab Ibu Panti bangga.
"Tante, aku ucapkan terimakasih, anak-anak bisa tidur nyenyak, tidak bocor lagi kalau hujan."
"Itu janji yang baru bisa tercapai, semoga anak-anak yang keluar dari sini bisa menjadi orang yang berguna dan sukses semua." kata nyonya Winda senang. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita.
*****
__ADS_1