
David, biasanya aku keluar pakai pakaian jubah dulu, setelah itu baru pakai pakaian senam. Tidak langsung pakai lingerie, aku malu tahu." rengek Scarlet membuat David tersenyum.
"Jangan banyak cincong, penonton sudah menunggu, lima menit lagi." kata David keluar kamar.
Sampai di luar David duduk di kursi penonton. Lampu untuk penonton memang dimatikan supaya ada sensasi romantis, sedangkan lampu untuk penari pole dance terang benderang. Jadi Scarlet tidak akan tahu ada penonton atau tidak.
Malam ini David merekayasa semua pertunjukan ini dan mengundang lima puluh teman untuk menonton pole dance, dia mendatangkan dua penari. Setelah pertunjukan itu usai mereka bubar dan mengosongkan gedung. Barulah David menyuruh Scarlet menari dan David duduk sendiri sambil minum wine. David merasa genius menipu Scarlet.
Suara dari The Weeknd dengan lirik lagu Wicked Games bergema, Scarlet keluar dengan jalan lemah gemulai. Rambutnya yang panjang tergerai indah, melambai. Scarlet menyapa penonton dan menari singkat untuk pemanasan, setelah itu dia menuju tiang pole dan memperlihatkan kehindahan tubuhnya, berputar, naik turun di tiang pole.
David menyesap minumannya, dia duduk dengan mata tidak berkedip memandang Scarlet yang menari dengan sensual. Gairah David tidak bisa di tahan lagi, dia begitu rindu kepada sosok Scarlet.
Selesai menari Scarlet merasa aneh, tidak ada yang bertepuk tangan atau melempar uang. Biasanya para Sultan akan berebut nyawer, tapi kali ini sepi. Sampai dia mau masuk ke dalam, tidak ada yang bertepuk tangan, atau memanggilnya. Dia lalu menuju kamarnya dengan keringat membasahi tubuh.
Sehabis meneguk segelas air putih Scarlet menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
David masuk ke kamar, celingukan tidak menemukan Scarlet di kamar. Dia duduk di sofa menyandarkan kepalanya. Bayangan Scarlet menari membuat pikirannya melayang.
"Ini terakhir aku menari." kata Scarlet baru keluar dari kamar mandi. Dia membungkus badannya dengan Piyama. Rambutnya masih basah habis keramas.
"Apa lagi alasanmu."
"Badanku kurang sehat, aku hamil David."
"Ahh...apa maksudmu, dasar murahan. Anak siapa itu Andrian atau salah satu pelangganmu." bentak David, gairahnya lenyap seketika.
"Ini anakku, bukan anak siapa-siapa, kamu tidak usah panik. Aku tidak seperti Lala yang penuh tipu daya supaya dapat mengakuan. Hidup di Panti lebih bahagia, aku bisa single parent.
"Siapa ayah dari anakmu, jangan kau mencoba menjebakku."
"Aku hanya tahu satu lelaki, tapi aku tidak mau menuntutnya. Zaman sudah canggih, kita bisa melakukan tes DNA untuk mencari bukti yang akurat."
Aarrgghhh....
Wajah pria itu memerah, matanya melotot tajam. Scarlet menatapnya lurus, entah harus bereaksi seperti apa. David selalu menuduh dirinya, tuduhannya tidak masuk akal. Dia selalu curiga, memaki seenaknya.
__ADS_1
Scarlet merasa lelah lahir bathin. Kemarahan David semakin tersulut, ketika Scarlet mengaku hamil. Dia belum pernah melihat David semarah ini. Dia bukan tipikal pria yang bertindak dengan hati. Biasanya dia bisa membaca situasi dengan kepala dingin. Namun malam ini dia seolah dirasuki setan alas.
"Katakan itu anak siapa, aku bisa gila memikirkan ini semua, kau selalu membuat aku marah." teriaknya kalap.
Braakkk
Dia menggebrak meja, sementara Scarlet diam membeku, dia tidak bergeming.
"Aku sudah menjelaskan, apa kau belum puas? aku kira apapun penjelasanku, kau tidak akan percaya berhentilah marah, aku capek."
Sejak awal tindakan David sudah diluar nalar. Scarlet malas meladeni dan memperdebatkan hal yang ujungnya saja tidak jelas.
"Kurasa kita harus saling menjauh, aku tidak ingin terlibat dalam permainan konyolmu, tadi aku sudah sangat malu menari."
Kali ini David merasa dadanya nyeri, dia merasa seperti ditusuk sembilu, pelan mengiris hatinya dan merobek segalanya. Kecewa, tentu saja. Hal ini sebetulnya masih bisa diperbaiki. Tapi Scarlet mungkin merasa jika hubungan ini sudah tidak bisa dilanjutkan, karena ada pria lain di hatinya. Siapa tahu?
Scarlet menghela napas panjang, kemudian menatap David tenang. Air matanya dia tahan supaya tidak tumpah ruah di pipinya. Dia justru tertahan didalam dada. Memenuhi setiap rongga dadanya, membuat Scarlet kesulitan bernapas.
David menatapnya geram dan mengepalkan tangannya. Kemudian dia keluar menutup pintu dengan kasar, selanjutnya,
Bughh...
Setelah berpikir lama, Scarlet pun ingin pergi dari gedung, mumpung ada celah untuk bebas.
Akhirnya Scarlet keluar dari gedung itu. Meski lelah dia melangkahkan kaki, memaksakan diri menembus jalanan untuk menemukan seseorang yang bisa di tumpangi. Jalannya terhuyung-huyung bukan karena mabuk namun karena lelah dan kantuk menyatu menjadi satu.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya, Scarlet menghentikan langkahnya.
"Naik ke mobil, kerjamu kabur saja." suara David sudah lembut, mungkin hatinya sudah membaik. Scarlet langsung naik ke mobil.
"Antar aku ke Panti." kata Scarlet lirih, dia betul-betul capek. Ini hal bodoh yang dia lakukan, yaitu lari tanpa membawa uang.
"Kemana kamu pergi aku akan menemukanmu, berhentilah lari dariku. Kalau kamu tidak senang di gedung, kamu boleh tinggal di Apatermenku, aku tinggal di gedung."
"Aku tidak mau tinggal di Apartemen dan juga tidak mau tinggal disini. Aku akan ke Panti Asuhan dan bisa bekerja disana."
__ADS_1
"Kamu tidak boleh jauh dariku, tidak ada penolakan. Orang akan mudah menculikmu." sahut David. Mobil masuk kembali ke gedung.
Sampai di kamar Scarlet masih penasaran dengan perbincangannya yang belum usai.
"Sampai kapan kamu mengekangku bukankah kita sudah cerai?" tanya Scarlet sangsi.
"Sampai batas waktu yang tidak di tentukan, aku akan melindungimu, layaknya sahabat."
"Aku setuju, kalau kamu jahat aku akan ke Panti, aku trauma berada dekat denganmu. Mamamu dan Lala sangat membenciku." kata Scarlet. Dia ingin membuka kejahatan mamanya David dan Lala.
"Aku ingin tahu kenapa kamu berada di Barista, siapa yang menjualmu atau, kamu sendiri lari kesana?"
"Begini ceritanya..
Derrttt...derrtt...derrtt...
Ponsel David bergetar. Dia membuka ponselnya dan keluar dari kamar.
"Ada apa mama?" sahut David ketika nyonya Yuli menelponnya.
"David, kamu sekarang berada dimana? kamu bersama Scarlet?" David kaget mendengar pertanyaan mamanya. Mulutnya seketika terkunci.
"Mama tidak marah, malah mama mengharapkan supaya kamu pulang bersama Scarlet. Kamu bisa tidur di lantai atas."
"Mama...apa mama sudah berubah pikiran dan menerima Scarlet?" tanya David senang.
"Sudahlah sayang, besok kamu bisa membawanya pulang. Tapi kamu harus adil dengan Lala, dia juga istrimu."
"Oke..mama." sahut David menutup ponselnya.
David masuk ke dalam kamar dan memeluk Scarlet. Dia sangat bahagia mendengar kesediaan mamanya menerima Scarlet.
"Kita akan pulang ke rumah mama. Tadi mama menelponku, menyuruh kita pulang. Aku sangat bahagia, mendengarnya." kata David membuat Scarlet curiga.
"Aku tidak mau kerumahmu, aku...." David menutup mulut Scarlet dengan bibirnya. Dia mencium bibir Scarlet dengan lembut, penuh gelora.
__ADS_1
"Tidak ada penolakan, mau tidak mau, kamu tetap kerumahku." bisik David. Tangan David mulai usil bergerlya membuat Scarlet sibuk menepis. Scarlet bingung, David sangat cepat melupakan sikap kasarnya dan ucapannya.
****