
Pasca pergi dari kehidupan David, Scarlet kebingungan mencari kerja. Dia tidak mungkin bekerja di Toko bunga lagi atau bekerja di kantoran, karena David akan menemukannya. Dia memilih bekerja menjadi pelayan rumah tangga. Jadi dia tidak perlu keluar rumah.
Scarlet melangkahkan kaki melewati gerbang hitam yang menjulang tinggi setelah dipersilahkan masuk oleh seorang sat pam, dia disambut oleh seorang pria separuh baya yang kemarin mewawancarainya.
"Mari ikuti saya," ucapnya tenang.
Scarlet mengekor di belakang pria itu seraya mengagumi interior ruangan yang terlihat seperti istana.
Kami berbelok menuju halaman belakang yang menyediakan sebuah kolam renang luas berhias taman kecil di sudutnya. Scarlet terpaku di saat mendapati seorang pria berdada telanjang sedang rebahan di bangku panjang yang khusus untuk santai. Scarlet berpikir pria itu pasti habis berenang dan tidak tahu malu ketika Scarlet menatapnya. Scarlet jadi jengah sendiri, wajahnya memerah seketika.
"Tuan muda, pengasuh anda telah tiba," ucap pria itu yang belakangan diketahui bernama Sardon dengan sopan.
"Tunggu dulu pak, maksud bapak memperkerjakan saya disini untuk mengasuh orang itu, memangnya dia lumpuh?" tanya Scarlet memastikan.
"Ya nona."
Scarlet mengerjit kaget karena dia tidak menyangka akan menjadi pengasuh seorang laki-laki dewasa. Orang kaya memang rada-rada aneh. Perasaan Scarlet jadi tidak enak, dia mulai gelisah.
"Saya tidak mau, suruh urus dirinya sendiri."
Pak Sardon memandang Scarlet sambil melotot tajam.
"Bicaranya hati-hati nona, bos saya suka hilang kesabaran kalau ada yang menyenggolnya." Dalam hati Scarlet mengutuk dirinya yang kembali bertemu dengan bayangan David. Dia yakin pria itu setali tiga uang dengan David.
Uhh..dasar sial. Tadinya dia ditawari menjadi seorang pengasuh dengan gaji sangat besar, dia tidak sangka harus menjadi pengasuh bayi besar.
Scarlet merasa dia harus keluar dari rumah ini sebelum terlanjur bekerja. Apalagi dia tidak melihat bahwa bayi besar itu cacat parah.
"Maaf pak, aku akan memikirkannya sekali lagi? aku tidak menyangka kalau yang aku asuh bukan bayi pada umumnya." protes Scarlet berusaha menawar, dia harus memikirkannya matang-matang, takut tak akan sanggup menjalani tugas berat ini.
Meski gaji yang ditawarkan luar biasa, tapi Scarlet tidak tertarik. Dia akan bekerja ditempat lain yang lebih manusiawi. Disini dia di tawari gaji dalam lima bulan lima puluh juta, itu gaji bersih, sangat besar menurut ukuran dirinya.
__ADS_1
Dengan bekerja sebulan Scarlet akan bisa membantu Panti tempat dia di besarkan. Namun kalau disuruh mengasuh bayi besar, dia menolak.
Tapi sayangnya dia sudah terlanjur tanda tangan kontrak.
"Nona, apa kamu lupa telah menandatangani surat perjanjian itu, jangan sembarang berprilaku." kata pak Sardon datar. Sementara pria yang duduk di pinggir kolam berkata keras dan memekik marah.
"Usir saja jika memang dia tidak ingin bekerja disini!"
"Ya aku akan pergi, trimakasih." sahut Scarlet mau balik badan, tapi tangan pak Sardon menahannya.
"Jangan coba-coba, atau nona akan kena wanprestasi. Saya tidak main- main nona." galak pria itu.
Scarlet sampai mundur selangkah karena kaget. Surat perjanjian sialan itu telah dia tanda tangani tanpa berpikir panjang karena tergiur gaji yang fantastis. Jika dipikir ulang, dia yang bodoh. Seingatnya pak Sardon tidak salah, dia tidak menyebutkan seorang anak kecil yang harus diasuh, dia hanya mengatakan hanya menjadi pengasuh.
"Usir saja manusia sombong itu." perintah pria itu lagi.
"Saya akan mengurusnya, Tuan," jawab Sardon mendelik kepada Scarlet, setelahnya itu dia menyuruh Scarlet mengikutinya.
Pak Sardon membawa Scarlet ke sebuah kamar 4 x 5 yang kosong hanya ada sebuah ranjang satu bed dan satu buah lemari kecil di sisi kanan. Dan kamar mandi dalam yang mungil.
"Ini kamarmu untuk lima bulan ke depan. Bekerjalah yang benar untuk membiayai anak-anak Panti Asuhan. Scarlet memang bercerita kepada pak Sardon dia bekerja untuk biaya anak-anak panti asuhan. Makanya dia langsung di terima dari tiga puluh pelamar. Padahal tujuan utamanya adalah bersembunyi dari David.
"Mari ke depan." ajak pak Sardon. Dia diajak menuju ke sebuah kamar mewah.
"Ini adalah kamar Tuan Ardian. Jaga tanganmu, jangan usil dan mencoba menyentuh apapun disini tanpa izin Tuan muda." ujar pak Sardon.
Scarlet mengangguk, lagipula apa pedulinya dengan barang yang ada disitu. Memang tak ada hal menarik yang menggoda untuk disentuh.
"Tugasmu menyiapkan keperluannya sebelum beliau bekerja, membuat makanannya, mengantar ke Kantor dan menjemputnya pada sore hari. Membacakan koran koran sebelum tidur, setelah beliau tidur kamu boleh meninggalkannya untuk istirahat." jelas pak Sardon.
"Apa tidak ada pembatu yang bertugas memasak, aku tidak tahu seleranya."
__ADS_1
"Ada, tapi lebih baik nona yang memasak untuk Tuan."
Mendengar rentetan tugas yang dilimpahkan padanya Scarlet hanya bisa mengangguk terpaksa. Kenapa tugasku lebih mirip tugas seorang istri? Lagipula kenapa bayi besar itu tak melakukan hal itu sendiri, dasar aneh bin ajaib.
Bukankah lebih baik menyiapkan keperluan sendiri daripada menyuruh orang lain, dasar pemalas. Untuk apa dia menggaji Scarlet, padahal sudah ada juru masak dan banyak pelayan yang dipekerjakan disini.
"Apa kamu mengerti?" Suara pak Sardon membuyarkan lamunannya. Scarlet nengangguk tanda mengerti.
Scarlet menarik napas panjang dan berkata ragu,
"Kenapa tugasku aneh sekali?maksudku ... maksudku kenapa pekerjaanku malah seperti tugas seorang istri? kenapa tidak dia yang melakukan sendiri."
Pak Sardon mengerutkan dahi, dia menatap Scarlet dengan tajam. "Jangan bermimpi ingin menjadi istri Tuan." dengusnya, mulai terlihat jengkel.
Hei, aku tak sedang ingin bermimpi. David lebih aduhai dari Tuanmu yang sengklek itu. Tipe pria idamanku adalah orang yang baik, penyabar, dan setia.
"Kamu bisa mulai bekerja sekarang, taruh barangmu di kamar." ujar pak Sardon lalu bersiap pergi. Yaelah, pak Sardon malah pergi terus dia di suruh mendekati pria itu begitu?
"Tunggu pak, apakah upah yang kuterima benar seperti yang tertera di kontrak?" tanyanya memastikan. Scarlet tentu tidak mau mengambil resiko sebesar ini, tapi upah yang diterima tidak sebanding dengan tugasnya.
Lagi-lagi pak Sardon mendengus, tatapannya terlihat mematikan.
"Tuan Ardian tidak akan pernah berbohong soal itu." sahutnya ketus.
"Syukurlah, semoga benar."
Scarlet harus cerewet, dia memang extra berhati-hati, jaman sekarang banyak penipu di mana-mana, bukan hanya dari kalangan biasa saja, bisa juga dari golongan orang kaya.
"Satu hal lagi tugasmu, kamu harus merahasiakan dengan siapapun bahwa Tuan Ardian buta." ujarnya dingin.
Seketika Scarlet terpaku, dengan hati mendadak ngilu. Pria dengan rupa sesempurna itu ternyata memiliki kekurangan yang sangat fatal? Ya Tuhan...perasaan Scarlet menjadi iba. Dia marah kepada dirinya yang berprasangka buruk kepada Tuan Ardian.
__ADS_1
*****