
Scarlet tidak peduli dengan David dan Wiraguna. Kedua pria itu saling sindir dan saling menjatuhkan. Ntah, untuk apa mereka berdebat, Scarlet sibuk melayani pesanan kue. Sampai kemudian Wiraguna pulang.
"Aku mau pulang dulu, nanti aku chat kamu lewat whatsapp ya?!" kata Wiraguna menghampiri Scarlet.
"Baik Pak, trimakasih." sahut Sacarlet sopan. Wiraguna keluar diikuti dua orang karyawan yang membawakan kue. Baru saja Wiraguna hilang dari penglihatan David sudah berbuat onar.
BRAAKKKK....
Tiba-tiba David menggebrak meja, tangannya terkepal, menyiratkan amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. Sedetik kemudian, dia menatap nyalang ke arah Scarlet
"Aku butuh penjelasan, hubungan apa yang kau lakukan dengan pria itu. Katakan!" Suara David meninggi, membuat pelanggan dan karyawan takut. Scarlet menarik tangan David ke sebuah ruangan, karena malu.
"Penjelasan apalagi, hah? Bukankah sudah dari dulu kubilang bahwa aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Wiraguna. Apa pedulimu, kita sudah tidak punya hubungan apa- apa lagi." Scarlet berusaha menahan bicaranya.
"Kau pikir surat perjanjian yang kau bikin itu, membuat aku takut, kita belum sah cerai. Ingat itu." suara David terdengar menggelegar. Baru kali ini, lelaki itu terlihat sangat marah sekali kepada Scarlet.
"Kita tidak punya surat nikah!" tungkas Scarlet melenggang pergi. David cepat menarik tangan Scarlet.
"Kau jangan coba-coba berani denganku, sekali lagi aku melihat atau menemukan kau berduaan dengan Wiraguna, aku akan membunuhmu." ancam David sambil mendorong Scarlet ke tembok.
"Urus saja gundikmu, jangan urusi diriku....." kata Scarlet kesal. kemarahan terpancar dari wajah perempuan cantik itu.
"Apa kau cemburu?" tanya David tetap dengan emosinya yang tinggi.
"Persetan denganmu, aku tidak peduli denganmu..bajingan!!" bentak Scarlet dengan suara bergetar.
Air matanya bergulir menetes tanpa jeda. Dadanya sakit bagai dihujam ribuan jarum, menancap tajam hingga ke ulu hati. Jantung Scarlet berdegup cepat, gagal menahan gemuruh yang bergejolak. Napasnya menderu, mengiringi isak tangis yang tak mampu ditahan.
David merengkuh tubuh itu, tapi Scarlet cepat menolaknya.
"Najis...jangan sentuh aku. Pergilah... kita tidak saling mengenal." kata Scarlet di antara isak tangisnya.
"Tuduhanmu dan prasangkamu semua tidak benar, kamu berlebihan. Tidak semudah itu aku berselingkuh, kalau aku mau setiap hari aku bisa berganti wanita, atau aku diam-diam berselingkuh di luar sana. Aku dan Cyndi tidak pernah tidur bersama."
"Aku tidak mau tahu, pergilah dari hadapanku. Aku akan mencari suami baru dan ayah untuk anakku."
"Mengkhayalah setinggi langit, sebelum kamu jatuh ke pelukanku."
__ADS_1
"Ciihh...aku tidak sudi." Scarlet lalu lari keluar menuju rumah kedua. Tapi langkahnya terhenti ketika Cyndi menghalangi jalannya.
"Mau kemana maduku? rupanya kau minta jatah kepada suamiku?"
"Brengsek, dasar perempuan hina, manusia tidak tahu diri, kau berdua sama tidak punya malu." gerutu Scarlet geram, dia mendorong Cyndi.
"Tenanglah maduku, tidak usah kasar, apa kau sangat cemburu padaku?"
"Pergilah!!" teriak Scarlet kesal.
"Cyndi kau berangkat ke kantor duluan, nanti aku menyusul." perintah David yang sudah berada di belakang Scarlet. Cyndi memberi Scarlet jalan, tapi tangannya reflek memegang David.
"Aku tidak mau, kita berangkat bareng, kau suamiku...."
"Cyndi, jangan memperkeruh keadaan, nanti istriku percaya." bentak David melepaskan tangan Cyndi.
"Kalau sudah tidur bareng berarti sudah suami istri." sahut Cyndi tidak mau pergi.
"Astaga Cyndi, mulutmu berbisa." protes David kesal, Scarlet cepat berlari masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Dia menyibakan tirai kamarnya, mengintip ke kamar bayinya dan melihat bayinya di gendongan baby sister. Scarlet lega, air matanya bergulir jatuh dengan dada sesak. Hanya menangis yang bisa melegakan hatinya, dia lalu menghempaskan tubuhnya di kasur.
"Sayank...kita berangkat bareng saja, buat apa lama-lama di rumah." kata Cyndi mendekati David.
"Ya ampun Cyndi, jangan usil dengan hidupku." bentak David.
"Ya sudah aku duluan pergi." sahut Cyndi ngeloyor pergi.
Suasana kemudian hening, gedoran pintu dari David tidak terdengar lagi Scarlet menghapus air matanya perlahan keluar dari kamarnya. Dia berharap kedua manusia itu sudah pergi dan tidak mengganggunya lagi.
Scarlet kembali ke tempat pastry, melihat karyawannya yang masih konsisten bekerja. Dadanya masih bergemuruh ketika Jumarlin menghampirinya.
"Nyonya ada Pak Bagus Iswara di Toko kue, katanya dia ingin bertemu dengan nyonya."
"Aku kesana sekarang." sahut Scarlet dengan raut wajah kusam. Matanya masih sembab bekas menangis, dia sangat ketakutan atas kejadian tadi. Rasanya dia ingin pindah dari rumah David supaya aman. Dia pikir David sudah melupakannya, ternyata pikirannya salah, David masih suka dengannya. Padahal David sudah sama Cyndi, laki-laki itu sangat egois.
“Selamat datang Pak Bagus, sudah lama menunggu ya." ucap Scarlet tersenyum terpaksa.
"Baru lima menit." kata laki-laki itu menatapnya. Diam-diam Scarlet memperhatikan penampilan pria itu, wajahnya terlihat bersih, tubuhnya tinggi tegap, dan sangat ganteng. Yach, sebelas dua belas dengan David.
__ADS_1
"Silahkan lihat-lihat dulu, ada banyak contoh di album seandainya Pak Bagus sulit memilih."
"Aku mau kue untuk di bawa ke rumah teman, tentunya enak dan beda dari toko lain."
"Untuk ke rumah teman istimewa? atau teman cowok?" tanya Scarlet mengulum senyum.
"Teman cowok, jangan khawatir aku masih dalam pencarian." candanya. Pak bagus berusaha mencairkan suasana, dia tahu Scarlet sedang sedih atau habis menangis.
"Kapan-kapan kalau temannya ulang tahun, pesan kue disini. Boleh Custom, nanti kita bikinin sesuai keinginan Pak Bagus."
"Boleh juga, aku pesan kue black forest saja, tapi ada foto postcard di tempel di kuenya, apa boleh?"
"Foto pacarnya ya, nanti saya bikinin, untuk hari apa?" tanya Scarlet sedikit mendongak kepada pria itu.
"Hari sabtu, kamu sendiri bawa kesana ya, aku akan perkenalkan dengan mama." ujar pria itu dengan suara lembut, membuat Scarlet menoleh.
"Apa mamamu sendiri di rumah?" tanya Scarlet basa basi, hari ini dia sebenarnya lagi tidak mood.
"Dia bersama pelayan, mama sudah tua dan sakit."
"Oh maaf, aku sendiri yang akan datang mengantar pesananmu."
Scarlet mengeluarkan album foto dari bawah etalase, memperlihatkan beberapa contoh kue ulang tahun.
“Silakan dipilih, mau yang bulat apa kotak, besar kecil tergantung harga."
“Yang bentuk hati." pria itu menunjuk sebuah foto dari kue berukuran besar berbentuk hati.
“Yang ini harganya lima ratus lima puluh ribu rupiah." Scarlet mengambil nota dan menulis ukuran kue serta kode dari kue tersebut. Pria itu mengeluarkan kartu ATM Gold dari dompetnya.
“Maaf saya tidak sempat mengambil uang cash, debit bisa kan?” tanyanya sopan. Pak Bagus mengeluarkan ponselnya membuka aplikasi mobile banking.
“Saya transfer saja ya." ucapnya, Scarlet mengangguk menyetujui ide itu, dia pun menyebutkan nomor rekeningnya.
“Atas nama Scarlet?” tanyanya. Scarlet mengangguk. Pak Bagus kemudian memperlihatkan bukti dia sudah transfer uang.
*****
__ADS_1