
Kedasih seolah menjelma menjadi penyelamat Scarlet, aktingnya alami membuat Scarlet tidak berprasangka buruk terhadapnya. Dia menganggap Kedasih dewa penolong yang sangat perhatian pada nasibnya.
"Kedasih, ponselku hilang jadi aku tidak bisa menghubungi temanku. Aku menjadi bingung kemana harus sembunyi."
"Pulang ke kost dulu, suruh teman mengantar ke Panti, tempat kamu di besarkan, aku rasa Iwan tidak tahu kamu anak Panti Asuhan."
"David tahu banyak tentangku karena aku sering bercerita kepadanya. Aku sangat bertrimakasih ke padamu, jasamu ini tidak akan aku lupakan. Kamu begitu baik padaku, zaman sekarang sulit mencari teman yang baik." kata Scarlet memeluk kedasih. Kedasih tersenyum penuh arti. Aku menolong diriku supaya lebih leluasa mendekati David, kau sangat bodoh Scarlet. bisik Kedasih dalam hati.
Jam menunjukan pukul sembilan malam, Scarlet pura-pura tidur di bawah selimut. Dia sudah punya rencana kabur lewat pintu belakang, Kedasih akan membantunya.
Iwan datang menengok Scarlet, dia masuk ke kamar di temani Kedasih.
"Nyonya, apakah kamu baik-baik saja?"
"Kepalaku sedikit pusing, aku ingin tidur terus." sahut Scarlet pura-pura lemas.
"Kedasih coba kamu priksa nyonya, apa dia panas?"
"Baik..." sahut Kedasih mendekati Scarlet, dia menempelkan tangannya di kening Scarlet.
"Panas sedikit, mungkin dia perlu istirahat. Tadi sudah aku pijitin dan nyonya sudah mau makan banyak. Dia harus istirahat supaya cepat pulih." kata Kedasih pura-pura baik dan perhatian.
"Istirahatlah nyonya, kalau perlu sesuatu nyonya tekan intercom, kami siap melayani nyonya." kata Iwan merasa senang. Dia akan mengirim laporan kepada David, tentang kondisi Scarlet saat ini.
Kedasih dan Iwan keluar dari kamar. Iwan lalu pergi ke Bar untuk bekerja. Kedasih diam-diam kembali ke kamar Scarlet dan mengajaknya ke jalan belakang. Mereka berjalan dengan cara mengendap-endap.
"Nyonya harus hati-hati, keluar dari sini nyonya belok ke kiri menuju tempat parkir CK yang ada di sebelah kiri, bang ojol sudah menunggu nyonya disana." Kedasih berbisik kepada Scarlet. Tidak lupa dia menyelipkan uang dua puluh ribuan ke tangan Scarlet untuk ongkos ojek.
"Trimakasih, kamu baik sekali Kedasih, aku akan merindukanmu." kata Scarlet memeluk Kedasih.
"Semoga Tuan David tidak bisa menemukan nyonya." kata Kedasih senang. Orang cantik banyak tapi orang berakal sepertinya jarang. Kedasih menyeringai ......
Semua arahan Kedasih di ikuti oleh Scarlet, sampai di kost Scarlet adu pandang dengan si Udin.
"Neng...koq datang malam-malam begini, kirain maling. Emangnya si anu kagak nganterin, sudah di lepeh ya. biasalah neng orang kaya mana mau cewek daur ulang." mulut si Udin nyerocos aja kayak kaleng rombeng. Untung Scarlet lagi butuh bantuan si Udin, jadi dia tahan sabar dan cepat masuk ke kamar kost.
__ADS_1
"Bang, aku butuh bantuan abang... masuk kesini bang." kata Scarlet melambaikan tangannya.
"Yang benar aja neng, tumben baik hati. Jangan-jangan neng salah minum obat.' Udin ragu, tapi dia cepat masuk ke kamar Scarlet. Pikiran mesum melintas di otak si Udin.
"Neng...abang belum mandi, kalau neng doyan, abang nyerah aje."
"Apaan sih bang, aku minta supaya abang mau anterin aku ke suatu tempat. Pikiran abang nyeleneh..."
"Yaelah, abang kira neng minta jatah."
"Iss...ngawur, abang mau anterin aku ke Panti kagak?, aku ada penting."
"Jangankan ke Panti, ke Sorgapun abang ladenin. Itu mah urusan kecil."
"Pamit sama bini abang dulu, aku kagak enak sama mbak Sri. Kalau dia marah bisa berabe, aku kagak ingin ada masalah di belakang."
"Itu mah gampang neng, tapi abang minta sogokan dikit, dari kemarin dapur kagak ngebul."
"Belum ada duit banyak bang, aku cuma ada recehan doang, mau?"
"Yaelah neng, punya pacar bos kudu di manfaatin, jangan mau di "oreo" melulu. Rugii...."
"Abang ambil motor dulu, neng tunggu sini."
Si Udin sudah siap di atas motor, Scarlet dengan gesit naik ke sadel. Bau pomade dari rambut bang Udin membuat Scarlet bersin-bersin.
"Abang kebanyakan pakai pomade, kelimis banget." protes Scarlet.
"Makanya jangan ambil jarak, mepet dikit ke punggung abang, masalahnya motor kagak bisa di kontrol, bisa ngerem mendadak."
"Idihh...modus, cepet dikit bang."
Bang Udin tertawa, motor bukannya ngebut malah berjalan seperti keong.
"Abang cepetin, sengaja banget."
__ADS_1
"Oke!!" sahut Udin mempercepat lari sepeda motornya. Tapi tiba-tiba, motor ngerem mendadak membuat Scarlet kurang kontrol, tangannya reflek memeluk pinggang si Udin.
"Brengsek!! abang sengaja ya..." pekik Scarlet melepaskan tangannya dari pinggang si Udin.
Udin tidak menjawab, dia terkekeh geli atas ide geniusnya yang konyol. Dari dulu dia naksir Scarlet, baru kali ini bisa bergesekan. Lumayanlah. Hati si Udin jadi Semriwing.....
"Bang trimakasih banyak atas semua kebaikan abang, aku belum gajian. Hutang dulu, nanti kalau gajian aku ganti dech."
"Abang ikhlas neng, paling bensin habis dua liter lumayan jauh dari rumah, sepertinya bensin ke sedot." sahut Udin sambil menggoyangkan motornya, memastikan bensin masih ada. Scarlet tidak enak hati. Dia lalu meloloskan jam tangannya.
"Bang ini kenang-kenangan untuk abang, tidak mahal koq, tapi cukup berharga untuk di pakai bergaya."
"Waduhh...trimakasih neng, dari dulu abang naksir jam tangan ini, pas banget untuk mbak Sri." kata bang Udin lalu ngacir.
Scarlet menuju Panti, suasana sepi dan gelap, hanya ada lampu depan yang menyala. Dia memencet bel pintu, tidak lama kemudian pintu gerbang di buka. Wajah kaget dari Ibu Winarsih membuat Scarlet cepat menarik tangan wanita paruh baya itu masuk ke dalam.
"Maaf Bu, aku mengganggu." kata Scarlet memeluk Ibu Winarsih.
"Ada apa nduk?" tanya Ibu Winarsih khawatir. Dia menatap Scarlet dengan tanda tanya besar.
"Aku kangen sama adik-adik, pingin menginap barang seminggu boleh bu?" kata Scarlet menutupi masalah yang sebenarnya.
"Jangankan seminggu, seterusnya boleh. Kita lagi kekurangan dana, kalau nduk disini bisa membantu bikin kue untuk jualan keliling."
"Ya bu, nanti aku akan bantu cariin sponsor untuk membantu anak-anak semoga saja banyak donatur."
Ibu Panti tersenyum senang, dia senang kalau Scarlet datang. Akan ada tenaga untuk mengurus Panti. Scarlet terkenal rajin dan sabar. Dia juga bisa mencari sponsor untuk beberapa anak yang masih sekolah.
"Bu, jika ada orang datang mencariku baik itu lelaki atau perempuan tolong jangan katakan aku disini. Banyak orang jahat yang ingin mencariku untuk dimanfaatkan.
"Maksudnya apa nduk, siapa orang jahat itu?" tanya Ibu Panti khawatir. Dia berpikiran seorang Mucikari yang sering mengincar gadis cantik.
"Seseorang..... saat ini aku tidak mampu menceritakan, maafkan aku."
"Jangan ceritakan kalau itu akan membuatmu sakit. Istirahatlah, supaya tenagamu pulih, Ibu lihat kamu agak kurus."
__ADS_1
"Trimakasih bu." sahut Scarlet. Dia lalu menuju kamar pojok. Kamar ini adalah kamarnya dari kecil, di Panti ini dia termasuk paling di sayang dan di berikan kamar khusus untuk dia tempati.
******