SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
GODAAN BESAR


__ADS_3

"Sudah siap, silahkan mandi Tuan." lirih suara Scarlet.


Tuan Ardian tidak menjawab dan langsung berjalan menuju kamar mandi, dia memasuki kamar mandi tanpa ekspresi.


Kejadian dengan Amel terbayang di otaknya, membuat Scarlet teringat David. Dia akan selalu terlindungi bila bersama David, tidak ada orang yang akan berani menjambaknya seperti tadi. Tapi David tidak cinta padanya, dia cuma ingin Scarlet sebagai teman tidur sampai David bosan. Scarlet membuang pikiran tentang David dan menyiapkan pakaian ganti untuk Tuannya.


Kemudian dia bergegas ke dapur dan mengambil makan malam untuk Tuan Muda. Hari ini dia tidak sempat masak, semoga Tuan Muda mengerti.


"Nona ingin menyiapkan makanan untuk Tuan?" tanya pelayan dapur mendekati Scarlet.


"Tuan menyuruh aku memasak, tapi aku tidak sempat membantu masak, semoga Tuan mau memaklumi."


"Biasanya Tuan makan di ruang makan, tapi semenjak nona datang, Tuan lebih senang makan di dalam kamar."


"Tidak apa-apa, aku akan melayani Tuan. Mungkin beliau malas ke dapur. Besok aku mulai bekerja di Kantor atas perintah Tuan, jadi agak sedikit punya waktu untuk masak."


"Tidak apa-apa nona, disini banyak pelayan yang membantu masak."


"Aku merasa tidak enak kalau kamu terus memanggil aku nona, karena status kita sama."


Pelayan wanita itu mengerutkan dahinya, lalu menggeleng samar.


"Nona, apapun yang terjadi disini itu semua perintah Tuan. Kalau kami memanggil dengan sebutan NONA, itu juga perintah Tuan." kata pelayan itu sopan.


"Begitukah? tapi mengapa?"


"Saya juga tidak mengerti." jawab pelayan itu sambil menggelengkan Kepala. Scarlet tidak ingin tahu juga, alasan Tuan Muda, baginya bekerja yang baik, itu sudah cukup.


"Makannya sudah siap nona silahkan dibawa." kata pelayan itu tenang.


Pelayan menatap Scarlet dan merasa kagum melihat kecantikan Scarlet. Dia berpikir bahwa Scarlet tidak seperti pelayan lain pada umumnya, dia cantik, terawat dan mempesona.


"Aku mau membawa ini ke kamar Tuan, trimakasih atas bantuanmu."


"Nona, jangan berkata begitu. Kita disini sudah seharusnya saling bantu jangan sungkan-sungkan."


Scarlet membawa baki ke kamar, rupanya Tuan belum selesai mandi. Dia menaruh baki di atas meja mengatur makanan dengan baik. Kemudian dia merapikan tempat tidur Tuan dan menyemprotkan sedikit parfum, itu kebiasaannya.


"Bantu aku memakai baju." kata Tuan Andrian keluar dari kamar mandi, dia berdiri di depan Scarlet dan membuka handuk yang melilit dipinggangnya.


Scarlet jengah, wajahnya merona merah, hampir setiap hari dia di suguhi pemandangan yang merontokan imam, siapa kuat. Dia hanya bisa menelan salivanya dan mengingat David.


"Kamu menyemprotkan parfum ke ruangan?"

__ADS_1


"Ya sedikit, nanti kalau gajian saya ganti. Itu kebiasaan waktu di kost."


"Aku tidak apa-apa." sahutnya pelan.


"Jangan marah melulu Tuan, saya capek mendengarnya." tanpa sadar Scarlet mengeluh. Tuan Andrian diam, dia memakai baju dibantu oleh Scarlet.


"Makanlah, apa Tuan mau dibacakan koran?"


"Tidak, kenapa kamu tidak pernah membawa ponsel."


"Di jambret orang." jawab Scarlet pendek.


"Belilah ponsel."


"Nanti setelah gajian, saya juga saat ini tidak terlalu membutuhkannya." sahut Scarlet duduk medampingi Tuannya makan, pikirannya jauh melayang. Dia penasaran, siapa yang selama ini membantunya membayar semua utangnya diam-diam. Tanpa bantuan orang itu Scarlet mungkin berada di penjara.


"Besok kamu berdandan lebih bagus seperti seorang pramugari, kamu akan menjadi Aspriku, tidak melayani yang lain atau tergoda dengan perusahan lain. Kamu tidak boleh pergi tanpa sepengetahuanku."


Scarlet mengangguk tanda mengerti, dia sudah merasa orang- orang yang seperti Tuan Andrian atau David pasti arogan, orang lemah seperti dirinya akan di intimidasi. Nasib.. lepas dari mulut singa masuk ke mulut buaya.


"Ya Tuan, ada uniform yang harus saya pakai?"


"Sudah ada di kamarmu."


"Tapi..tapi...mana cukup, belum diukur, apalagi sepatunya."


Scarlet tersenyum sendiri. Dia menatap Tuannya, mencari celah kekurangannya. Sempurna!! orang ini hampir mirip dengan David, sayang dia buta. Tapi, dia seperti tidak buta. bathin Scarlet.


"Tuan saya mohon diri, selamat malam." kata Scarlet lalu keluar dari kamar Tuan Andrian.


Pukul.05.00 teng, Scarlet sudah berada di depan kamar Tuan Andrian. Hari ini dia sudah lebih awal bangun serta menyiapkan sarapan Tuan muda terlebih dahulu.


Scarlet mendorong pintu perlahan saat memasuki kamarnya, dan dia terkesiap mendapati bayi besar ini berdiri berkacak pinggang dengan mata menyorot tajam. Waduhh...


"Pagi Tuan, saya sekalian membawa sarapan untuk Tuan," ucap Scarlet seraya meletakkan baki di atas meja khusus.


"Siapa yang menyuruhmu masak duluan, bukannya kesini dulu." gerutu Tuan Andrian marah.


"Tapi, Tuan, saya datang sudah tepat waktu, kalau saya duluan kesini Tuan pasti belum bangun, jadi saya kedapur dulu." sahut Scarlet datar, dia heran sama pria ini, kenapa harus marah.


"Jangan banyak alasan." sentaknya kasar dan menarik tubuh Scarlet.


"Aku tak suka menunggumu seperti orang bodoh." desisnya tajam.

__ADS_1


Scarlet mencoba untuk melepaskan diri, tapi pria itu tak bergeming dan malah sekarang memeluk Scarlet dari belakang.


"Sekali lagi kuperingatkan, temani aku saat bangun dan mau tidur, tadi malam kamu seenaknya keluar tanpa seizinku! Apa kamu paham?" bisiknya di telingaku, hembusan nafasnya membuat Scatlet geli.


"Lepaskan saya Tuan, besok saya kesini dulu baru masak, saya juga akan menemani Tuan." sahut Scarlet akhirnya.


Pria itu mendengus kasar, melepas tubuh Scarlet.


"Siapkan air hangat, mandiin aku. Kamu harus menggosok punggung dan kakiku."


"Haa??.." Scarlet membulatkan matanya kaget. Astaga .... yang benar saja, tidak mungkin dia memandikan bayi gede ini.


"Tapi...tapi..."


"Jangan membantah!!" potong Tuan Andrian mendorong Scarlet ke kamar mandi. Lah, koq dia tahu posisiku?? padahal cukup jauh, apa karena dia menandai suaraku. kata Scarlet dalam hati.


Scarlet memenuhi isi bathtub dan berpikir keras untuk memandikan bayi gede itu.


"Tuan air sudah siap, silahkan anda masuk ke bathtub dulu, setelah itu saya akan menggosok punggung anda."


"Kamu cukup berbalik, jangan keluar aku tidak ingin berlama-lama."


"Ya Tuan."


Scarlet mengambil spon dan sabun cair untuk memandikan bayi gede ini. Dia merasa canggung menghampiri Tuan Andrian.


"Cepat sedikit." printahnya sambil menekuk kakinya. Scarlet lupa membubuhkan bubble bath supaya air berbusa dan tubuh Tuannya tertutup busa. Kalau sekarang Scarlet bisa leluasa melihat sekujur tubuh Tuannya. Untung Tuannya cepat sadar dan menutup aset masa depannya dengan cara menekuk kakinya.


Scarlet mulai menggosok punggung itu dengan busa dan tangannya mulai tremor, maklum saja tubuh Tuan Muda sangat.. sangat.. menggiurkan.


"Jangan pakai spon, aku tidak suka, aku ingin tanganmu yang menggosok." kata Tuan Muda parau.


"Apa??..." Scarlet kaget, terpaksa dia menggosok punggung Tuannya dengan dada berdegup kencang.


"Kamu bukan menggosokku tapi mengelusku." tiba-tiba Tuan Muda menarik tangan Scarlet.


"Tuan, ya ampun jangan menyiksa saya terlalu jauh, saya bisa mati berdiri." kata Scarlet dengan suara bergetar.


"Hari ini cukup, kamu tunggu aku di kamar, siapkan pakaianku."


"Ya Tuan." jawab Scarlet setengah berlari keluar dari kamar mandi.


"Cepat pakaikan pakaianku!" titahnya datar. Tangan Tuan Muda tiba-tiba melepas lilitan handuk putih yang di pinggangnya. Wajah Scarlet memerah, dia memekik tertahan. Sungguh mati dia tidak ingin matanya jadi ternoda, meski noda yang begitu menggoda.

__ADS_1


Apakah Tuannya sengaja membuatnya semriwing?? dasar gila....


*****


__ADS_2