SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Cyndi tidak mau tahu penolakan David terhadap dirinya, dia kukuh ingin ikut dengan David ke Rumah Sakit. David jadi serba salah, Cyndi membuat dia sangat repot.


"Mengertilah boy, aku takut di rumah, pengawalmu tidak mungkin akan menolongku jika Xander melabrakku. Kamu tidak usah khawatir, aku akan diam di mobil dan tidak ikut turun." kata Cyndi memaksa ikut.


"Kamu jangan ikut turun ya, jangan bikin istriku marah." tegas David.


"Sure, aku janji, apa sih yang tidak untukmu boy, segalanya akan aku serahkan padamu. Scarlet tidak akan bisa melayanimu selama satu bulan empat puluh dua hari, jika kau butuh aku, tinggal calling saja, aku akan menuruti kemauanmu."


"Aku tidak butuh orang yang akan merusak rumah tanggaku." ketus David, dia terkadang ingin mengusir Cyndi, tapi wanita itu pasti akan menelpon papanya yang berada di luar kota, dan mengadu, David akan kena damprat!!.


Mesin mobil mulai menyala, Cyndi duduk disamping David dengan gaya menantang, saat ini mungkin David belum tergiur, bagaimana kalau setiap hari disuguhi pemandangan yang bohay begini? pasti luluh!.


Mobil membelah jalanan Kota yang padat. Langit semburat merah di ufuk barat. Sebentar lagi Matahari akan lenyap ke peraduannya. David memacu mobilnya sedikit kencang.


Tidak terasa Sudah lima belas menit mobil membelah jalanan Kota. Tak berapa lama, sampai jua di sebuah Rumah Sakit Swasta Internasional. yang megah.


David turun tergesa-gesa, Cyndi ikut turun. Tentu saja David melarang Cyndi ikut menjenguk Scarlet.


"Cyndi diam di mobil saja, jangan ikut turun nanti ada yang lihat, aku malas terpampang di Instagram."


"Pengecut, aku malas di mobil, lebih baik di rest area. Pengiritan juga sih, supaya AC tidak boros."


"Tapi kamu benar di rest area ya, jangan ngikuti aku."


"Tenang boy....." katanya tersenyum, lalu ngacungin jempol, ntah apa maksudnya.


"Hai bro... ternyata kau punya nyali datang kesini." tiba-tiba ada suara Bariton membuat David menoleh ke samping, matanya melihat Andrian berdiri tidak jauh darinya.


"Kau bodoh, Andrian! apa kau tidak tahu bahwa aku adalah suami sah Scarlet. Karena surat pernikahanku dengan Scarlet berisi perjanjian yang mengharuskan Scarlet menerimaku di dalam keadaan suka dan duka." sahut David penuh sesal melihat kedatangan Andrian.


Bugghh!!

__ADS_1


Sebuah bogem mentah mendarat di sudut bibir David. Andrian tidak sabar mendengar omongan David. Darah segar muncrat dari sudut bibir David. Lelaki itu meringis, tangan kanannya mengusap bekas hantaman yang terasa nyeri. brengsek!! kutuknya.


"Kau manusia laknat, seharusnya kau malu datang kesini, apalagi kau membawa perempuan hina ini. dasar manusia bodoh!" maki Andrian penuh amarah.


"Oh ... aku tahu, kau membela Scarlet kau kasihan kepada wanita itu. Jadi, kau membelanya sampai seperti ini. Sungguh licik! apakah kau masih mencintainya?" David menyeringai sambil terus memegangi sudut bibirnya yang pecah.


"Kau pasti tidak tahu kalau istrimu adalah malaikat tak bersayap. Dia akan pergi darimu, dan kau akan menyesalinya. Sungguh, aku akan menunggu hari itu. Dia harus bahagia buat apa setia dengan suami yang tidak mencintainya. Kasihan sekali wanita itu." ujar Andrian geram, ingin dia memusnahkan lelaki didepannya.


David tidak bergeming. Matanya menatap kosong ke depan. Mungkin, perasaannya mulai campur aduk tidak karuan, dia tidak menyangka Andrian berani memukulnya.


"Aku suaminya, tidak ada yang akan menggantikannya."


"Terserah maumu! pikirkan kembali sebelum istrimu benar-benar kabur meninggalkanmu." geram Andrian.


Ntah mengapa, kata-kata yang terlontar dari mulut Andrian membuat David naik pitam. Andrian terlalu ikut campur dan merendahkan harga dirinya. Padahal, David selama ini sangat mencintai Scarlet.


"Aku akan mengajaknya pulang, dan berharap dia memaafkanku." kata David ragu.


Mendengar ucapan Andrian, emosi David memuncak. Matanya melirik tajam ke arah Andrian. Napasnya kian menderu. Sedetik kemudian, dia berlalu meninggalkan Andrian yang masih menatapnya tajam.


David benar-benar manusia tidak tahu diri, dia tetap melanjutkan membesuk Scarlet.


Tanpa pamit, David menghilang dari hadapannya. Andrian hanya bisa mengelus dada, menyayangkan atas perubahan sikap sepupunya. Bagaimanapun, Andrian tidak akan membiarkan Scarlet berada dalam jurang keterpurukan, bila perlu dia akan merawatnya.


Iwan sangat gelisah menunggu David, dia sampai tidak enak hati kepada Scarlet. Senja kini berganti petang, langit mulai menghitam. Jarum jam seolah berputar semakin cepat, namun, David tak kunjung datang. Rasa hati mulai gelisah. Berbagai perasaan buruk berkeliaran tak tentu arah. Iwan cepat berdiri ketika mendengar pintu dibuka.


Wanita itu memalingkan wajahnya ketika David masuk ruangan. Scarlet mendapati lelaki yang dicintainya itu berdiri kaku, menunggu di sapa oleh Scarlet. Ada yang aneh dengan pria itu, air mukanya kusut, tidak ada sedikit pun senyum tersungging di sudut bibirnya yang bengkak. Iwan mau keluar ketika tiba-tiba Cyndi ikut masuk dan menempel di belakang David.


"Kenapa baru datang, bos?" tanya Iwan memperhatikan wajah David yang agak bengkak.


"Ada masalah di luar." jawab David pendek.

__ADS_1


"Aku harap nyonya Cyndi -menunggu di luar karena tidak boleh banyak orang di ruangan ini." kata Iwan ingin mengajak Cyndi keluar. Cyndi cepat menggeleng.


"Cyndi kamu keluar!" hardik David.


"Apa salahku menengoknya, aku istri papamu. Jangan berpikiran negatif terus." kata Cyndi lembut. David diam karena omongan Cyndi masuk akal.


Lelaki itu tidak banyak bicara seperti biasanya. Langkahnya tampak gontai menyiratkan hatinya sedang kacau. Bahkan, dia melewati Iwan begitu saja. Dia langsung menuju ke tempat Scarlet. Cyndi mengikuti David, Iwan tidak berdaya karena David tidak ikut mengusir lagi.


"Sayank, bagaimana keadaanmu?" tanya David duduk di kursi disamping Scarlet. Iwan berdiri diam.


Scarlet menggapai tombol intercom dan memencet tombol hijau itu.


"Suster tolong usir tamu di ruangan saya, saat ini saya tidak butuh di jenguk!!" kata Scarlet kesal.


Hatinya sangat sakit melihat David membawa Cyndi. Seorang suster lalu datang, Iwan hanya menggelengkan kepalanya menatap Scarlet. Dia tahu Scarlet sangat hancur. Wajah cantik itu memerah, dengan mata berkabut. Nafasnya menderu menahan nafas.


"Harap Tuan dan Nyonya keluar, pasien butuh istirahat." kata Suster itu mengusir secara halus.


"Saya suaminya Suster." David ngotot tidak mau keluar.


"Maaf Tuan, pasien butuh istirahat." tegas Suster itu, membuat David, mengalah.


David akhirnya mengangguk pelan, dia malas ribut. Dia menatap Scarlet sekali lagi, tapi Scarlet tidak peduli.


Manusia hanya bisa berusaha, tetapi Tuhanlah yang menentukan. David keluar lalu duduk di waiting room, dia ingin menunggu disini, kalau ada kesempatan dia masuk ke dalam menemui Scarlet dan bertanya, tentang anaknya atau tentang apa saja yang membuat Scarlet bahagia.


"Kenapa kita harus menunggu disini, lebih baik pulang menghabiskan sisa malam." kata Cyndi memberengut.


"Aku ingin tetap disini, menunggui Scarlet, kalian pulang saja." ucap David dengan wajah datar. Tidak ada senyum yang tersungging di bibir David. Iwan tidak mengeluarkan suara apa pun, dia terus menatap David yang membiarkan tangannya di elus-elus oleh Cyndi.


"Sebaiknya kau pulang bos, kau semakin membuat Scarlet menderita tolong pikirkan perasaan Scarlet, lebih baik bos yang pulang, aku yang akan menjaganya disini." kata Iwan mencoba memberi pengertian kepada David.

__ADS_1


*****


__ADS_2