
Sebagaian besar undangan terdiri dari keluarga besar Xander. Melihat Scarlet datang, Indah langsung menemuinya dengan senyum manis. Baju mereka yang warnanya sama menarik perhatian para tamu undangan, apalagi wajah mereka sepintas mirip. Scarlet duduk di depan disamping Indah dan tidak jauh dari Iwan. Semua ini sudah di atur oleh David dan Iwan.
"Aku menunggumu Scarlet, kalian harus duduk denganku." kata Indah. matanya sibuk menilai Scarlet yang sangat cantik.
"Baik mbak, apa aku boleh duduk denganmu?"
"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang marah. Kamu sangat cantik aku memberi kamu nilai sepuluh." sahut Indah mengajak Scarlet dan Andrian duduk di sampingnya.
"Mama, ini Scarlet yang aku pernah ceritakan?" kata Indah kepada seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya. Scarlet lalu tersenyum serta menganggukan kepala tanda hormat.
"Kamu sangat cantik, secantik namamu." lembut suara nyonya Winda. Matanya berbinar melihat Scarlet.
Mereka berhenti berbincang karena mempelai sudah berada di podium. dada Scarlet berdesir ketika melihat David bersama Lala. David kelihatan sangat tampan dengan Tuxedonya, dia nyaris sempurna. Tanpa sadar Scarlet memegang tangan Indah, wajahnya pucat.
"Sabarr...." suara itu keluar dari bibir Andrian.
"Apa maksudmu, Andrian?" tanya Scarlet, dia merasa Andrian melihat perubahan wajahnya.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun." Andrian gelagapan, dia lupa dirinya buta.
"Owh....."
Seorang master of ceremonies (MC) mulai mempersilahkan mempelai duduk di kursi antik yang berlapiskan bludru merah. Wajah David kelihatan datar, matanya mengedar ke seluruh ruangan, dia mencari sosok Scarlet.
Sedangkan Lala terlihat tersenyum sumringah, wajahnya sangat happy. Mempelai diapit keluarga masing- masing. David tampak gelisah, tidak fokus. Matanya berselancar mencari keberadaan Scarlet.
Acara bergulir lancar tahap demi tahap. Saat David menyerahkan mahar kepada Lala, Scarlet ingat kepada paket yang dia terima dari seorang kurir, barang itu mirip sekali dengan mahar itu.
Dia lupa membukanya karena sering dia menerima paket ntah dari mana. Tibalah saatnya acara tukar cincin, mempelai berdiri, David memegang jari Lala mau memasangkan cincin, David dengan sengaja batuk- batuk dan menjatuhkan cincinnya. Cincin itu menggelinding ke tempat tamu. Kaki Iwan cepat menginjaknya. Tamu yang lain ribut, tidak melihat cincin itu dimana sekarang. Scarlet tahu David pasti sudah latihan, lihatlah bibirnya tersenyum tipis melihat ke arah Iwan.
Tidak ada cincin pengganti. Semua ribut, Lala tidak terima.
"Tolong semuanya bersikaplah jujur, kembalikan cincin itu, karena sangat berharga bsgiku." kata Lala gemetar menahan marah, Iwan tidak peduli, dia tidak bergeming, begitupun yang lain. Mereka hanya memandang tidak tahu harus bagaimana karena cincin sangat cepat larinya dan lenyap.
"Lanjutkan prosesi ini, aku sudah muak." suara David pelan kepada MC. Lala kecewa tapi dia berusaha sabar. David akan menjadi miliknya, itu yang terpenting. Acara terus lanjut, sampailah di acara, dimana David harus mencium Lala. Lala menunggu dengan bahagia.
Tapi David melangkah maju menuju kursi Scarlet, merenggut tangannya dari pegangan Indah, menarik Scarlet supaya bangun, memeluknya mesra, serta menciumnya lembut.
__ADS_1
Aahhh.... semua kaget.
Sikap David menghantam dada Lala, dia sangat marah dan kecewa. Lala tahu David tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ini menyakitkan.
"David......." teriakan itu bergema dari beberapa sosok yang terkesima melihat kejadian itu. Lala tidak tinggal diam dan,
PLAKK....
Tamparan itu melayang ke pipi halus Scarlet. Scarlet meringis, pipinya memerah. Suasana semakin ribut, semua ingin tahu siapa Scarlet.
"Dasar wanita sampah!!" pekik Lala lagi, sambil menjambak rambut Scarlet yang di gulung.
"Aduhh....." teriak Scarlet kesakitan. Dia hampir jatuh, untung ada David yang masih memeluknya.
Wajahnya tambah mempesona ketika rambut itu tergerai. semua kagum akan dirinya. Dia sangat mempesona dan membius mata yang melihatnya.
"Lala...beraninya kamu memukul istriku." bentak David, tapi dia tidak mau membalas dengan balik memukul Lala.
"Apa???"
Iwan bangun dan menyerahkan lembaran kertas yang bermeterai kepada David. David mengambilnya dan memperlihatkan kepada semua undangan.
Tentu saja semua kaget termasuk Scarlet. Dia baru ingat, saat David menodongkan pistol kepada dirinya dan menyuruhnya tanda tangan. Inikah hasilnya?
"Tidak David, kamu memungutnya dari Panti Asuhan, dia tidak selevel dengan kita..hik..hik.." suara Lala sambil menangis. Dia berteriak- teriak.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu." bentak Lala marah, dia menangis di pelukan bundanya.
Tuan Alex R. Xander dan istrinya mendekati David. Untung dia tidak jantungan tapi perbuatan David sangat dia sesalkan, David membuat citra mereka buruk.
"Kenapa kamu baru katakan David, apa kamu pernah berpikir efek dari kejadian ini akan membuat saham kita merosot??" geram papanya dengan suara rendah.
"Maafkan aku papa, mama, aku terpaksa berbuat begini karena dipaksa menikah."
"Mama tidak mengakui dia menantu di rumah Xander." pekik mamanya penuh amarah, ntah makian apa yang sudah keluar dari mulutnya. Dia betul-betul sangat benci kepada Scarlet.
"Iwan ajak dia pulang." bisik David. Iwan menarik tangan Scarlet.
__ADS_1
Air mata Scarlet bergulir dari pipinya, apa dia bahagia atau sebaliknya? Scarlet berjalan pelan, langkahnya gemulai. Semua tamu mengambil fotonya yang bak dewi. Rambutnya yang panjang melambai-lambai kena sentuhan angin. Dia berlalu dengan perasaan bercampur.
Sumpah serapah dari orang-orang yang kecewa terhadap dirinya tetap berkumandang. Besok gambarnya akan terpampang di media sosial.
Iwan terus mengawalnya sampai di mobil. Kejadian ini sangat dramatis.
Andrian termangu, tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak tahu apakah surat yang di perlihatkan David asli atau palsu. Logikanya kalau Scarlet istri David, kenapa dia tidak transparan merampas darinya, kenapa harus menunggu? aahh...terserahlah..
Andrian serba salah, ternyata ini maksudnya dia di undang oleh David supaya kupingnya mendengar kata- kata David yang membuat hatinya tergores. Bagaimanapun dia harus mencari bukti itu.
"Minumlah nyonya." kata Iwan sambil menyodorkan air mineral kepada gadis itu. Scarlet minum dengan gelisah. Dia masih nervous, Scarlet lalu bersandar di jok mobil sambil menghapus air matanya yang terus mengalir.
"Kamu mau mengajakku kemana bang?" tanya Scarlet menghapus air matanya.
"Ke Apartemen!! itu pesan boss."
"Aku mau ke rumah Andrian, kasihan dia. Kalau tidak ada aku siapa yang mengurusnya?"
"Maaf nyonya, saya tidak berani membantah pesan bos. Pak Andrian banyak punya pelayan, tidak akan dia kewalahan."
"Tapi aku masih banyak hutang padanya, dan ada surat kontrak kerja, kalau aku melanggar aku bisa di penjara."
"Waduhhh....sangat mengerikan. Nanti bos yang menyelesaikannya."
"Tapi aku juga tidak ingin jadi orang ketiga diperkawinan David, aku ingin bebas."
"Nyonya itu hal yang mustahil, bos tidak pernah begini terhadap seorang wanita. Rata-rata pacar bos cantik, kaya dari golongan atas. Mungkin sudah jodoh, bos begitu kasmaran dan tergila-gila pada anda."
"Aku rasa bos hanya tertantang, dia tidak betul-betul cinta padaku. Dia pembosan, bila perasaan itu datang dia pasti membuangku."
"Itu dulu nyonya, karena pacarnya kebanyakan wanita bebas. Sekarang saya yakin hanya nyonya yang dia cintai."
"Apa buktinya dia mencintaiku?"
"Perbuatannya yang tadi salah satunya, selebihnya nyonya boleh cari sendiri di ruang kerjanya." kata Iwan berteka teki. Iwan tahu berapa uang di keluarkan oleh bos nya untuk Scarlet, dari hal kecil sampai besar.
Scarlet terdiam. Bukti selanjutnya apa? Scarlet tidak mau berpikir lagi, dia lelah. Kepalanya masih sakit gara-gara rambutnya di tarik oleh Lala. Wanita itu pasti tambah benci padanya. Yang mengganggu hatinya adalah penolakan mamanya David. Wanita itu seolah ingin menelannya.
__ADS_1
****