
David melirik kondisi Scarlet, hatinya di buat sesak dan entah kenapa mulutnya terkunci, dia takut Scarlet menolak di ajak kerumah. Apakah dia akan berani menerima perkataan Scarlet, jika tiba-tiba Scarlet tidak mau diajak ke rumah.
Demi Tuhan, Scarlet bukan musuh, dia istrinya, dia cintanya, dia separuh nyawanya. Setiap rasa sakit yang di terima oleh Scarlet adalah kesakitan nya dan David berharap begitupun perasaan Scarlet. Mereka dulu saling melindungi dan saling terikat, tapi semua itu lenyap.
David memberi klakson ketika mobil berbelok melewati Scurity yang sedang berjaga. Gerbang rumahnya terbuka secara otomatis. Tepat saat mobil yang di kendarainya berhenti di carport, seorang pengawal datang. David menyuruh membawa baby Sean supaya Scarlet mau turun dari mobil.
"Turunlah ini rumahmu." kata David membukakan pintu mobil.
Scarlet mengangguk, karena melihat bayinya berada di gendongan Suster. Dengan air mata mengalir Scarlet menggendong bayinya. David trenyuh melihatnya sendu. Dengan napas sesak David menyuruh Scarlet masuk, menuju kamar, tapi Scarlet menolak dia mau ke ruang tamu.
David terpaksa mengangguk pasrah, kemudian dia menghampiri Scarlet yang duduk di sofa, David ikut duduk di samping Scarlet.
"Maafkan aku sayank..." kata David lirih, membuka percakapan. Dia mengelus telapak kaki bayinya, baru pertama kalinya dia memperhatikan dengan seksama wajah bayinya. Apakah perlu dia meragukan wajah bayinya yang mirip dengan dirinya. Tapi dia tidak mau buru-buru senang dan mengakui. Tentu dia akan tes DNA secara diam-diam, itu mutlak baginya. Harus semua jelas.
"Jangan sentuh kaki anakku, dia bukan anakmu. Ini anak seratus laki-laki hidung belang." sindir Scarlet beringsut kepinggir sofa, seolah dia tahu apa yang di pikirkan David. Dia ingin sekali membuat David melepaskannya.
"Aku tidak mau berdebat dengan istriku, kamu mandi, sebentar lagi kita dinner." David menatapnya penuh rindu, Scarlet menarik nafas dalam, perlahan mengembuskannya. Dia mencoba mengontrol emosinya yang kapan saja bisa membuat tangisnya kembali pecah.
"Yank, aku minta maaf.. kita kembali seperti dulu. Kamu tidur di kamarku bersama bayi kita, aku akan tidur di sofa." kata David serius, berusaha negosiasi.
"Kita sudah cerai, aku sudah tidak ingat kamu lagi, aku betul-betul lupa. Aku bukan mainanmu yang kamu perlakukan seenak perutmu." ketus Scarlet.
"Ohh...maksudmu kamu amnesia terhadapku, boleh aku ingatkan lagi, maksudku...aku akan memberi contoh kecil supaya kamu ingat aku, misalnya dengan mencium bibirmu." sahut David genit.
__ADS_1
"Tidak bakalan aku mengizinkan kamu menyentuh tubuhku, amit-amit mending aku menikah lagi dengan seseorang yang tidak aku kenal."
"Jangan membuat aku marah!!" gerutu David. Raut wajahnya berubah masam. David menggenggam tangan Scarlet, dia mencoba mencari perhatian.
Scarlet menepis tangan David, dan mengalirlah ucapan kasar dari mulut Scarlet. Dia benci kepada David dan Cyndi, bagaimana Cyndi menipunya, menjebaknya agar dia kehilangan bayinya, mengancam dirinya, serta mengambil suaminya.
"Dan kau...adalah pecundang yang ikut menyiksa bathinku. Aku benci kepadamu sampai ke tulang sumsumku. Selama ini aku diam, aku mengalah, kalian berdua menari di atas penderitaanku. Aku bahagia ketika kau menceraikanku, aku sangat senang ketika kau menuduh anakku bukan darah dagingmu."
Scarlet mengusap air mata yang membasahi pipinya, semua uneg- uneg dia keluarkan, dia terlalu sakit hati dan kecewa kepada David.
"Kalian berdua benar-benar iblis yang merusak hidupku. Jangan harap aku mau kembali. Aku jijik padamu, kau adalah sampah!!"
David langsung memeluk Scarlet, sehingga membuat anaknya bangun dan menangis. Baby sitter nya cepat datang dan mengambil bayi Sean.
"Aku akan pergi, menghilang dari dirimu, aku sudah bosan berada di sekelilingmu. Aku akan pergi jauh dengan anakku, membesarkan dia dan hidup damai tanpa harus kenal dengan kalian semua. Aku terlanjur kecewa dan sakit hati selama ini." ketus Scarlet.
David menatap Scarlet dengan sendu rasa sesak menghimpit dadanya. Dia sangat tahu, bahwa berpisah dengan Scarlet bukanlah hal yang mudah.
Apalagi perasaan David selama ini masih sama, masih mencintainya. Dia tidak menyangka bahwa Scarlet sekarang ini, sangat terluka dan tidak mencintainya lagi.
Tapi Scarlet sudah bulat tekadnya akan tetap pergi, demi anaknya. Setidaknya David mengerti, dia bukan perempuan yang gampang di permainkan, meski takdir menuliskan bahwa dia dan David tidak akan pernah bersatu hingga kapanpun.
Malam semakin beranjak, bumipun semakin gelap. David bersandar di tembok, dia malas menghidupkan lampu. Scarletpun duduk di sofa kembali. Dia malas beranjak, rasanya gelap lebih mengerti perasaannya.
__ADS_1
Setelah lebih tenang. David meminta kepada Scarlet untuk mandi, dan tidak akan memaksa Scarlet untuk kembali padanya, asal Scarlet tidak pergi dari rumah ini. Apa yang di alaminya saat ini supaya Scarlet mau merahasiakan kepada mama Winda dan Indah. Bagaimanapun, David takut kalau Scarlet tiba-tiba di kirim ke luar negeri. Apalagi Andrian masih ada hati dengan Scarlet.
"Aku tidak menyangka kalau kamu sudah tidak mencintaiku lagi, aku selama ini sangat percaya diri. Tapi sudahlah, tidak apa-apa aku berhak menerima hukuman ini. Semoga suatu saat kamu mengerti, bahwa selama ini tidak ada wanita lain di hatiku."
"Pengertianku habis, aku juga tidak bisa memaafkanmu, karena aku bukan Tuhan. Semoga kau mengerti." kata Scarlet mau masuk ke kamar anaknya, tapi terkunci. Dia bingung, kalau di gedor takutnya bayinya terbangun.
Malam semakin larut, Scarlet terus mencari kamar yang kosong, tapi semua terkunci. Dia juga berpikir untuk mengganti bajunya, semua baju pasti berada di kamar David. Pria itu sangat licik. pikir Scarlet.
Ya Tuhan, kenapa di dunia ini ada orang sejahat itu? bukannya David melepaskannya, malah kembali membuat dirinya tersiksa. Ingin mati saja rasanya. Scarlet kembali ke ruang tamu, menyalakan lampu. Dia tidak menemukan David, dia yakin David pasti sudah pergi ke kamarnya.
Scarlet cepat-cepat pergi ke kamar David, dia yakin David mandi. Pelan- pelan dia membuka pintu kamar, dan kosong. David tidak ada. Scarlet membuka lemari tempat menyimpan bajunya. Tapi terkunci.
"Mau mencari ini?" Scarlet hampir meloncat karena kaget, dia berbalik. David berdiri dengan handuk melilit di pinggang, di tangan kanannya dia memegang kunci.
"Aku mencari bajuku, jangan berpikir aku kagum atau bergairah melihat bodymu. Aku sudah ratusan melihat body yang lebih bagus darimu." kata Scarlet bohong, dia berusaha melawan gejolak yang tiba-tiba muncul.
"Daripada marah terus, mending kamu mandi dan ganti baju, aku tahu waktu di Barista banyak laki-laki hidung belang yang tidur denganmu. Tentu mereka hebat semua, soalnya mereka semua kuli, kuat-kuat." sahut David berusaha membuat Scarlet marah.
Scarlet mendengus dia langsung menuju kamar mandi dan menutup pintu dengan keras. David menghela napas, dan memilih membiarkan sang istri dengan emosinya hingga reda dengan sendirinya.
David keluar dari kamar menuju ruang tamu, dia tidak mau memaksa Scarlet. Dia sangat tahu sifat Scarlet yang sedikit kaku, semakin di paksa akan membuat Scarlet semakin berontak. Dia cukup menunggu reaksi Scarlet ketika tidak bertemu dengan dirinya di kamar.
*****
__ADS_1