SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
MENARI POLE DANCE


__ADS_3

Scarlet menyudahi tariannya dan melambaikan tangan ke pengunjung.


"Trimakasih." katanya dengan nafas memburu, wajahnya merah membara dan tubuhnya basah berkilat karena keringat. Dia terlihat semakin sexy.


"Scarlet one more time." pengunjung berseru heboh.


Manda cepat keluar dengan gaya maskulinnya, dan merengkuh tubuh Scarlet serta membawanya masuk ke dalam. Anak buah Manda meraup uang yang tercecer di panggung dan memasukan kedalam wadah. Semua pengunjung puas, kini penawaran akan berlanjut jika Manda menerima penawaran dari para Sultan... Scarlet akan menjadi simpanan mereka.


Apa khabar hati Andrian??


Pria itu mematung tanpa mampu bersuara. Apa artinya ini semua? dia sungguh tidak mengerti. Sebulan yang lalu, David dengan gagahnya memproklamirkan dirinya menjadi suami Scarlet, Andrian waktu itu diam dan mengalah. Dia menekan rasa yang terluka, dia kalah. Setelah dia berusaha membuang rindunya kepada Scarlet, malam ini dia kembali tenggelam dalam kesedihan yang membelah jantungnya.


"Bos, tidak mau menculik aku?? semalam cuma go pek ceng, gratis pengaman. Jamin puas kalau tidak puas uang tidak kembali." seorang Ladys escort kembali memdekati Andrian.


"Ajak aku menemui penari tadi." titah Andrian, matanya tetap memandang tiang pole yang tegak membisu.


"Hahaha...bos adalah orang ke lima puluh, yang ingin bertemu dengan penari itu."


"Aku akan membelinya."


"Maaf, anda kurang beruntung bos, penari itu sudah ada pemiliknya."


"Akulah pemiliknya, dia adalah calon istriku."


"Jangan membuat saya ngakak bos, gadis itu di lempar kesini oleh selingkuhan suaminya. Jadi, anda sudah tamat riwayatnya. Cari yang real saja bos, yang ada di depan anda."


"Aku akan membayarmu apabila aku bisa bertemu dengannya." desak Andrian.


"Berikan kartu nama anda, mungkin bos harus ngantre, saya harap bos bisa menemuinya."


Andrian lalu berdiri dadanya masih bergemuruh, dia perlahsn membuka dompetnya, memberi kartu namanya kepada gadis itu. Dia tidak peduli dengan rayuan lady escort itu, lebih baik pulang.


Sampai di rumahnya Andrian buru- buru masuk ke kamar. Dia membuka ponsel dan menghubungi Lala. Berkali-kali dia menelpon Lala, tapi Lala tidak menanggapinya. Andrian baru ingat ketika menoleh jam tangannya, rupanya baru pukul. 03.15 dini hari.


Andrian tidak bisa tidur, pikirannya penuh dengan bayangan Scarlet yang meliuk-liuk erotis. Besok dia akan kesana lagi dan berharap Scarlet bisa diajak bicara.


Pagi ini Andrian bangun kesiangan. Untungnya hari minggu, berarti dia tidak perlu ke Kantor. Sudah pukul sebelas siang, Andrian turun dari tempat tidurnya, ingatannya kembali ke pertunjukan tadi malam. Wajah Scarlet terbayang terus. Andrian meraih ponselnya di nakas, dia menghubungi Lala.

__ADS_1


"Lala aku menemukannya, apakah kamu bisa membantuku supaya dia bisa keluar dari sana?" Andrian bicara langsung ke pokok persoalan.


"Aku tidak mau, uruslah sendiri."


"Jadi kamu berani di penjara?" Lala mengerjitkan alisnya. Dia tidak bisa menganggap remeh Andrian. Apakah Andrian tahu bahwa dirinya yang membuang Scarlet?


"Apa yang kamu inginkan dariku?"


"Beli dia, jika kamu dapati aku akan memberi kamu hadiah."


"Oke, tiga puluh menit lagi aku meluncur, kemana aku mencari?"


"Club Barista, dia adalah penari pole dance disana." kata Andrian.


Hubungan telpon di putus, Andrian merasa lega, ternyata Lala bisa di peralat dengan mudahnya.


Namun Lala tetaplah seorang wanita licik, dia malah ingin memanfaatkan situasi ini dengan cara mengadu domba Andrian. Ini khabar baik bagi Lala. Dia cepat-cepat keluar dari rumah menuju Apartemen David.


Rasanya dia sudah tidak sabar untuk memberi khabar kepada David, bahwa istri kesayangannya sudah menjadi wanita murahan.


"Tok..tok...tok..."


"Sayank, aku baru tahu kamu sendiri disini. Aku tidak tahu kamu dapat musibah, kenapa kamu tidak terus terang saja." kata Lala dengan sedih.


"Pulanglah Lala, jangan pernah ikut campur dengan urusanku. Aku muak atas semua kelakuanmu."


"Kamu kejam David, di matamu aku selalu jelek dan tidak berguna, selalu Scarlet lebih baik, padahal dia lebih busuk dari bangkai."


"Lala jaga ucapanmu." bentak David tidak senang. Hampir saja tangannya melayang mendengar perkataan Lala rahang David mengeras tanda dia sangat marah, istrinya dihina.


"Kamu sudah dibutakan dengan cinta sehingga kamu tidak tahu bahwa Scarlet sangat mencintai Andrian."


"Hati-hati berbicara, Fitnah lebih keji daripada pembunuhan."


"Aku akan mencari bukti, supaya kamu bisa membedakan siapa yang baik dan benar." geram Lala.


"Cari bukti sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hatimu."

__ADS_1


"Jika aku mendapatkan bukti perselingkuhan Scarlet, aku minta kamu menceraikan Scarlet dan menjadikan aku istrimu."


"Aku setuju!!" jawab David tegas.


Lala kemudian memacu mobilnya ke Barista. Khayalannya menjadi istri David yang sesungguhnya sudah ada di pelupuk mata. Hari-harinya yang sepi akan kembali bewarna.


Sampai di Barista Lala langsung naik ke lantai empat, Kantornya Pak Rudy. Lala sudah di kenal karena sering kesini, dia pelanggan Bar disini.


"Tok..tokk...tokk"


Lala mengetuk pintu pelan, ada suara menyuruhnya masuk. Dia membuka pintu dengan pelan, wajah Rudy seketika cerah melihat Lala datang.


"Gimana khabar penganten baru? kirain sudah lupa denganku." sapa Rudy berdiri menyambut Lala.


"Aku kangen..." sahut Lala dengan senyum mengembang, dia lalu menghambur ke pelukan Rudy.


Rudy adalah Manager Operasional yang bertanggung jawab tentang pengelolaan Perusahan Barista. Masih muda, umurnya sekitar tiga puluh lima tahun.


"Aku membawa bintang kesini, tapi kamu tidak memenuhi rekeningku. Jangan curang, lain kali aku tidak akan membawa "ayam kampus" atau "barang baru" kamu kira aku tidak tahu tentang itu."


"Masalah itu kita bicarakan nanti, aku akan mencetak goal dulu." bisik Rudy mendaratkan ciumannya ke bibir Lala. Mereka saling pagut dengan kasar, maklumlah mereka lama tidak bertemu.


Rudy menyeret tubuh Lala ke sofa panjang, serta menindihnya. Mereka seperti singa kelaparan saling gigit dan saling serang. Sedang asyiknya mereka berpacu dalam melodi, tiba-tiba pintu terbuka. Mereka sama-sama kaget.


"Maaf bos, aku tidak melihat apa-apa." kata Manda melotot.


"Manda keluar cepat, atau aku seret kau menjadi yang kedua." perintah Rudy tanpa merasa terganggu. Dia tetap menjalani aktivitas panasnya. Manda biasa melihat kejadian begitu di gedung ini, karena dia adalah seorang germo. Manda juga adalah karyawan yang loyal kepada anak buah dan pimpinan.


"Lanjut bos, jangan kasi kendor, lain kali jangan lupa kunci pintu." Manda keluar dengan wajah datar dan kembali ke kamar Scarlet.


Scarlet baru saja habis mandi, bau sabun mandi melekat di badannya membuat hidung Manda lebih dalam menghirup bau wangi itu.


"Ngapain kamu seperti kucing mengendus ikan." kata Scarlet rese.


"Bau tubuhmu mengandung uang cendana membuat aku candu."


"Jangan mulai lagi, hitung duit yang aku hasilkan. Kalau sudah cukup lepaskan aku dari sini."

__ADS_1


"Belum cukuplah, yang menjualmu mengambil uang sangat banyak dari bos kita, makanya kamu super extra bekerja. Kalau dalam sebulan ini belum cukup pemasukan, terpaksa aku lelang tubuhmu." ancam Manda untuk menakuti Scarlet. Dia sendiri tidak mungkin menjual Scarlet, sebelum dia dapat mencicipi tubuh mulus itu.


*****


__ADS_2