SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
BERTEMU DAVID


__ADS_3

"Karena kamu mabuk jadi tidak ingat memaksaku, padahal aku sudah mengingatkanmu, lihatlah, kamu sampai merobek bajuku."


"Tidak mungkin itu Lala." geram David.


"Dasar anak tidak tahu diri. Semua bukti sudah nyata. Lihat pakaianmu dan Lala. Apa itu kurang cukup bukti."


Serentak David melihat dirinya, dan dia kaget..... tapi David tetap tidak percaya.


"Tante saya ingin David bertanggung jawab, karena saya sudah ternoda." suara Lala lirih, dia kembali terisak.


"Tenanglah sayang, besok Tante akan kerumah orang tuamu untuk melamarmu."


"Mamaa....."


"Mandilah David, mama tunggu kamu diruang tamu." sahutnya beranjak dari hadapan David.


Kemarahan mamanya sudah tidak bisa ditolerir lagi, David pasrah atas keputusan mamanya yang akan menikahkan dirinya dengan Lala.


"Kalau kamu tidak mau menikahi Lala, gadismu yang berada di tempat Andrian mama akan hancurkan!!" begitulah ancaman mamanya, David sangat mengerti sifat mamanya.


****


Hari ini Scarlet mengantar Andrian seperti biasa. Scarlet sudah lega karena David tidak punya nyali untuk datang merebutnya dari tangan Andrian. Syukurlah!.


Scarlet memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, dia diberi tugas oleh Andrian untuk melobi Nyonya Jelita supaya diberi dana tambahan dalam pengadaan alat-alat berat.


"Tuan...apa anda sudah tidak khawatir lagi dengan David?" tanya Scarlet saat mereka berada di mobil menuju Kantor. Dia ingin tahu tanggapan Andrian selanjutnya.


"Kalau kita berdua jangan kamu memanggil Tuan atau Pak, aku merasa sangat tua."


"Hem..ya Pak..he..Andrian."


"David sudah mau menikah, tidak mungkinlah dia ingat denganmu." suara Andrian tepat menusuk hulu hati Scarlet, sakit. Semenjak pristiwa dengan David, tingkah Andrian jauh berbeda. Dia lebih baik dan banyak bicaranya.


"Secepat itu menikah? katanya cuma tunangan."

__ADS_1


"Anak orang sering ditiduri, minta dinikahilah, emangnya kamu dipakai doank." kata Andrian menohok.


Scarlet diam, mood nya sudah hilang untuk berbicara. Seharusnya tidak ada rasa sakit hati atau kecewa terhadap tindakan David. Dia pantas mendapatkan yang terbaik.


Sampai di Kantor, Scarlet membantu Andrian Turun dari mobil dengan hati-hati, kemudian menuntunnya ke ruangannya.


"Tuan saya akan langsung keruangan untuk bersiap ke Kantor nyonya Jelita, semoga dia mau memberi tunjangan dana segar."


"Semoga kamu berhasil, Aku belum pernah mendengar pendana yang bernama Ibu Nilam, tapi coba saja." sahut Andrian antusias, dia sangat percaya kalau Scsrlet bisa diandalkan.


Pagi ini Scarlet merasa ada yang berbeda ketika masuk ke ruangannya dia di sambut oleh jejeran Vas bunga antik yang berisi bunga mawar putih. Sangat indah, Scarlet mencium bau harum bunga itu dengan penuh perasaan. Itu bunga kesayangannya, dulu David sering membelikannya. Tapi siapa yang menaruhnya disitu?


"Selamat pagi, permisi nona...." Scarlet menoleh, seorang kurir dari jasa antar berdiri dan memberikan satu kotak hantaran yang berhiaskan pita emas.


"Ada kiriman dari sebuah perusahan, tolong di terima." kata kurir itu.


"Ya, taruh di atas meja ..." katanya cepat.


"Baik, saya mau mengambil gambar nona sebagai bukti barang sudah berada di tangan nona." kata kurir itu.


Pukul. 10.00 Scarlet harus pergi ke tempat nyonya Jelita, dia mengambil satu tas kresek merah memasukan parcel dan bersiap untuk pergi. Tidak lupa dia menengok ke ruangan Tuan Andrian dan mohon diri.


Sesampainya Scarlet di Kantor nyonya Jelita, dia disambut dengan ramah, ternyata dia sudah ditunggu disana.


"Selamat siang nyonya, saya wakil dari Bapak Andrian, saya ingin melanjutkan negosiasi yang tertunta mengenai pinjaman modal yang kami ajukan tempo hari." kata Scarlet membuka percakapan setelah berada di Kantor nyonya Jelita.


"Siang nona, padahal saya sudah katakan kepada bos nona, saat ini saya tidak bisa memenuhi harapan dari bos nona, tapi bos saya akan membantu meminjamkan modal."


"Saya akan bertanya dulu kepada bos saya, karena ini menyangkut dana besar. Berarti pinjaman akan beralih."


Akhirnya Scarlet di over ke seorang pendana besar, setelah Andrian setuju kepada kesepakatan yang dikeluarkan oleh Ibu Nilam. Pekerjaan ini dia bisa selesaikan dalam tiga hari.


Setelah menyelesaikan surat-surat dan segala macam kebutuhan untuk penerbitan obligasi, Scarlet bisa menarik nafas lega. Dihari keempat dia sudah bisa mengajukan surat penawaran sebagai rekanan dalam penjualan alat-alat berat kontruksi kapal laut. Pengiriman akan dilakukan langsung dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya memakai Tongkang.


"Apakah nona tidak ingin bertemu dengan bos saya? dia menunggu nona di Kantornya." kata Ibu Nilam tersenyum tipis.

__ADS_1


"Boleh, saya ingin berterima kasih kepada beliau yang sangat interest dengan perusahan kami."


"Bulan ini kerja sama kita akan terlihat hasilnya, semoga tidak ada permasalahan kedepannya."


"Trimakasih bu stas bimbingannya, terutama kesabaran Ibu Nilam mengajari saya yang pemula."


"Berterima kasihlah kepada bos saya yang ikut turun tangan mengerjakan ini semua. Tanpa beliau kita tidak bisa melakukannya."


Scarlet mengerjitkan alisnya, dia pikir dirinya sudah mampu, ternyata bosnya Ibu Nilam yang turun tangan. Padahal dia sudah berkoar-koar dengan Andrian bahwa dia mampu meminjam dana besar kepada Ibu Nilam, ternyata dibalik layar ada bosnya Ibu Nilam. Tapi Ibu Nilam wanti-wanti dia tidak ingin bos nya di Expose, karena semuanya sudah di wakilkan oleh Ibu Nilam.


Akhirnya Scarlet setuju bertemu dengan bos nya Ibu Nilam. Dia pergi dengan senang hati, berharap bos nya Ibu Nilam mau membimbingnya lebih jauh. Scarlet memarkirkan mobilnya di depan sebuah Gedung berlantai dua lima, Ibu Nilam tadi mengatakan bos nya menunggu di lantai dua puluh dan bisa memakai lift khusus dari bassement.


Turun dari lift, dia mencari ruangan Direktur Utama. Scarlet mengetuk pintu dan pintu otomatis terbuka. Scarlet masuk, bau harum ruangan dari Calmic menusuk hidung Scarlet. Bau ini tidak asing di hidungnya, bau yang dia paling suka.


"Selamat siang Tuan, saya Scarlet dari PT Andrian." suara Scarlet sedikit gemetar. Dia menunggu kursi itu berputar menghadap padanya.


Scarlet berteriak kaget, dia tidak menyangka bos nya Ibu Nilam adalah David. Pria itu menatap Scarlet dengan pesonanya.


"Ternyata Istriku bertambah cantik." kata David tersenyum genit, David mengedipkan sebelah matanya.


Scarlet benar-benar jengah. Dia memalingkan wajah ke arah samping untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Dia menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku bukan istrimu lagi, dan jangan menggangguku. Kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri." suara Scarlet bergetar, perasaannya campur aduk. Dia cepat berdiri mau pergi dari ruangan itu.


"Aku adalah suami yang paling sabar, tidak diberikan nafkah bathin masih bisa bertahan. Istri lari dari rumah, aku tetap menunggu dengan setia."


"David jangan memulai lagi, kamu sudah meniduri anak orang dan mau menikah itu setia?"


"Aku dijebak, semua itu bohong. Aku akan menikahi Lala demi memenuhi keinginan Mama, setelah itu aku akan menceraikannya."


"Itu urusanmu David, aku sudah lupa tentangmu." sahut Scarlet cepat.


"Kita belum cerai, jadi aku bebas bernostalgia denganmu." pria itu mulai mendekat. Scarlet berbalik mau lari, namun di belakangnya, tubuh David yang menjulang sudah menunggunya. Pria itu segera mendekap Scarlet masuk ke dalam pelukannya. Sesaat netra mereka beradu, ada getaran hebat dalam hati masing-masing.


*****

__ADS_1


__ADS_2