
Pagi ini adalah hari yang sangat memuakkan. Di mulai saat Scarlet membuka matanya, pemandangan yang pertama dia lihat adalah kamar kusam dan lemari tua. Disini dia terjebak tanpa bisa membebaskan diri dari neraka ini.
Seminggu telah berlalu semenjak dia menanda tangani surat cerai itu, dia
sudah berada di tahap frustasi berat dan hampir gila memikirkan janin yang tumbuh subur di perutnya. Dia tidak pernah berharap akan bertemu dengan David, dia menganggap pria itu bukan takdir nya. Dan dia percaya bahwa dia tidak berjodoh.
Scarlet bangun dengan lesu, kepala sebelah kanannya sedikit pening. Dia mengambil sapu untuk bersih-bersih Ini pekerjaan sedari kecil dia lakukan di Panti Asuhan, membersihkan tempat tidurnya, membantu segala urusan Panti.
Suara ketukan pintu terdengar keras memecah kesunyian di dalam kamar, Scarlet membuka pintu dan melihat seorang wanita berada diambang pintu. Wajahnya datar dengan bibir agak tebal.
"Kamu Scarlet?” wanita itu bertanya dengan sinis. Dia menatap Scarlet naik turun. Matanya tidak berkedip memandang Scarlet dengan angkuh.
"Anda mencariku?” tanya Scarlet datar. Ada perasaan tidak senang mengglayuti pikirannya. Semenjak tinggal disini bawaannya curiga melulu kalau melihat orang lain.
"Kami menyewamu, bersiaplah untuk ikut kami." Scarlet kaget, tiba-tiba dia merasa takut.
"Tidak!! aku tidak mau menari keluar." jawab Scarlet tegas.
"Kami telah membayarmu dengan mahal, jika kamu menolak nyawamu taruhannya." ketus suara perempuan itu.
"Hahaha...anda pikir aku peduli, aku menunggu ada orang membunuhku." sahut Scarlet dingin. Wanita itu tersenyum sinis.
"Bersiaplah wanita murahan!!" bentak wanita itu lalu mengangkat dagunya dan menyuruh dua orang pengawal menyeretnya keluar.
"Stop!! jangan menyentuhku, aku akan bicara dengan bos ku." kata Scarlet menghubungi Manda, tapi Manda ponselnya tidak aktif.
"Bos mu sudah pulang kampung, tidak mungkin datang lagi, jadi ke pemilikanmu ada pada kami." kata wanita itu tajam dan menyuruh pengawalnya kembali menyeret Scarlet.
Scarlet berontak. Apa daya dia kalah tenaga dari kedua pengawal itu. Mereka cepat bergerak, dengan mudahnya mereka meringkus Scarlet dan membawanya ke mobil.
"Siapa kalian?" teriak Scarlet setelah berada di dalam mobil.
"Apa hakmu bertanya kepada kami, urus dirimu sendiri, ******." ucap wanita itu memandang sinis kepada Scarlet.
Mobil melaju dengan kencang, Kemudian berbelok kesebuah rumah mewah, Scarlet di tarik disuruh turun.
"Turunlah!!"
“Aku mau diajak ke mana?” tanya Scarlet, tangannya gemetar dan keringat dingin mulai keluar. Scarlet di tarik turun dari mobil, dia di dorong untuk mengikuti perempuan itu. Dia mengerahkan semua keberaniannya untuk menolak ketika diajak masuk sebuah rumah.
"Selamat datang pecun?" suara familiar itu menyapanya. Lala datang dengan angkuhnya. Scarlet menoleh geram, rasa takutnya seketika hilang berganti dengan rasa marah. Ternyata perempuan binal ini berada di belakang skenario ini.
"Seorang perempuan murahan bermimpi mau masuk ke keluarga Xander, sangat dramatis dan konyol. Kira-kira berapa lelaki sudah masuk kedalam perangkapmu?" tanya Lala mengejek dia senang bisa menyakiti Scarlet.
__ADS_1
"Katakan tujuan busukmu." ketus Scarlet dengan nada keras. Dia ingin sekali meninju mulut Lala yang lamis itu dan menendangnya sampai jauh.
"Hahaha...sabar, sekarang nyawamu ada di genggamanku. Tapi jika kamu menuruti perintahku, mungkin saja aku berbaik hati dan kamu selamat." katanya dengan tangan dilipat di dada.
"Aku tidak sudi menjadi budakmu, aku lebih baik mati. Harga diriku tinggi, tidak seperti kau yang pongah dan biadab."
Plaakk
Tamparan Lala menyulut kemarahan Scarlet, dia melawan. Mereka saling jambak. Scarlet sudah tidak takut mati, dia menendang Lala dan juga menamparnya.
"Ada apa ini? rupanya penghuni Barista lepas dari kandangnya." suara itu cukup membuat Scarlet tambah murka dan melayangkan tangannya lagi sekali. Matanya merah menahan marah.
"Sayank, dia memaksaku untuk menjemputnya, tapi setelah dia tahu aku mengandung anakmu, dia murka dan memukulku dengan sadis." jerit Lala memeluk David.
"Dasar perempuan murahan, kau tidak tahu malu, beraninya kau menampakkan diri dan mengganggu istriku." bentak David.
"Aku tidak peduli dengan manusia seperti kalian. Apapun yang aku lakukan karena keinginan kalian." sahut Scarlet, menghapus darah yang berada disudut bibirnya.
"Berkatalah yang sopan, ingat kau berasal dari mana." Lala ikut melotot.
"Buat apa aku sopan kepada manusia berpakaian perlente tapi berhati iblis. Aku muak melihat manusia seperti kalian yang menindas orang sepertiku dan mengambil keputusan secara sepihak."
"Enyahlah kau perempuan murahan, sebelum tanganku mencekikmu. Aku tidak menyesal menceraikanmu, aku baru tahu sifat aslimu, kau tidak ubahnya seperti perempuan nista yang menjual tubuhnya demi uang."
"Sayank, aku berencana mengajak dia menari di depan keluarga Xander, mama sudah setuju." kata Lala manja.
"Dia yang memilih jalan hitam, kita akan orbitkan perempuan ini supaya lebih tenar. Kita akan menyuruhnya menari di depan keluarga Xander, di RT, RW dan di setiap Bar, Club. Aku ingin melihat wajah pucat Andrian melihat selingkuhannya menjadi tontonan publik." kemarahan David membuat wajah Scarlet membeku, dia langsung lari keluar, sambil berteriak-teriak.
"Tolong...tolong...tolong..."
Ciiiittttt....
Bughhh
Badan Scarlet oleng menabrak pintu
mobil yang di buka oleh Andrian. Tangan Andrian cepat bergerak menangkap tubuh Scarlet yang mau jatuh. David dan Lala kaget melihat kedatangan Andrian.
"Scarlet.....kamu kenapa?" Andrian cepat memeluk Scarlet yang mau jatuh.
"Jangan bikin masalah denganku Andrian, selama ini aku sudah sabar."
"Masalah apa yang pernah aku bikin, bukankah kau yang menyuruh Bu Nilam menipuku. Aku sudah hancur David, jangan kau hancurkan hati Scarlet." Andrian begitu marah.
__ADS_1
"Lepaskan dia Andrian!!" teriak Lala maju mendekati Andrian.
"Tolong aku Andrian." bisik Scarlet lirih. Andrian mundur dan mengajak Scarlet masuk ke mobil.
"David, urusan kita belum selesai. Aku akan datang lagi dengan pengacaraku."
"Andrian, turunkan Scarlet....." teriak David marah. Dia memukul kaca mobil Andrian yang sedang mundur.
"Sayank..biarkan dia pergi." Lala memeluk pinggang David dari belakang.
"Lepaskan aku, kau jangan melampui batas, tadi aku cuma bersandiwara di depan Scarlet."
"Tidak David, aku tidak mau kau pergi, aku mencintaimu ....hiks...hiks jangan tinggalkan aku." Lala menangis histeris.
"Jangan pernah kau mendekatiku, hanya ada satu wanita dalam hatiku yaitu SCARLET!!" jawab David lantang.
Dia bergegas naik ke mobil, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kita sama-sama Xander, Andrian, aku terbunuh atau kau yang terbunuh gerutu David kesal.
Tidak menunggu lama David sampai di rumah Andrian, dia memarkir mobilnya sembarangan.
"Hai..apa Tuanmu ada?" teriaknya kepada seorang penjaga yang datang menghampirinya.
"Beliau keluar, Tuan. Apa bisa saya bantu?" jawab penjaga itu glagapan. Dia tahu bahwa pemuda ganteng yang bertanya itu pastilah keluarga Xander, karena wajah mereka hampir mirip dan mempunyai ciri khas.
"Kau tahu, rumah pristirahatan Tuanmu selain disini?"
"Maaf Tuan, saya tidak tahu. Tuan Andrian sudah bangkrut, katanya kekayaannya mau disita Bank." kata penjaga itu mengingatkan David satu hal. Andrian masih berada dalam cengkramannya.
David menyeringai, senyumnya terbit ketika dia menemukan jalan untuk merampas Scarlet. Dia lalu memacu mobilnya menuju Kantornya.
"Halo Wan, aku menunggumu di Kantor!" David menelpon Iwan lewat
bluetooth mobil.
"Ya bos aku segera datang." sahut Iwan di seberang sana. David lalu menghubungi Kantornya Andrian, dia tidak mau menelpon Andrian terlebih dahulu, karena dia tahu Andrian pasti tidak mau menerima teleponnya.
"Halo, selamat siang, ini PT Andrian, apa bisa kami bantu?" terdengar suara wanita.
"Katakan kepada bos mu bahwa PT Holdings Company, akan meninjau kembali kerja sama yang pernah di sepakati bersama. Aku menunggu. Suruh bosmu menghubungi kembali."
"Baik Tuan, maaf saat ini saya bicara dengan siapa?"
"David Xander."
__ADS_1
"Owhh..trimakasih Tuan." siapa yang tidak kenal David? dialah CEO PT Holdings Company, dia meneruskan Perusahan orang tuanya. Ayahnya sudah mulai menyerahkan tanggung jawab kepundak David.
*****