
"Scarlet, aku mau tidur bareng denganmu disini, supaya ada yang menjagamu. Kita harus antisipasi, banyak orang jahat berkeliaran." kilah Manda sambil menyesap kopinya.
"Tidur sendiri saja mau jatuh, apalagi tidur berdua, bed nya kurang besar dan kipas anginnya kecil."
"Nanti aku beliin AC dan ranjang besi, asal kamu nurut denganku, kita tidur bareng ya."
"Tidak usah aku di beliin apapun, satu saja permintaanku dibebaskan, aku ingin bebas." sahut Scarlet menyesap teh yang sudah dingin, dan mulai mengunyah pisang goreng yang dibawa Manda.
"Sabarlah, nanti juga kamu akan bebas. Aku akan membebaskanmu jawab Manda. Dia membuka ponselnya ketika ada panggilan.
"Halo bos, apa? ya, saya sekarang kesana." sahut Manda berdiri, tidak lupa dia menghabiskan kopinya dan membuang puntung rokoknya ke lantai, lalu menginjaknya supaya apinya padam.
"Manda kamu jorok."
"Ntar aku yang ngepel, kamu sarapan, aku dipanggil bos besar." kata Manda keluar dari kamar. Dia bergegas menuju ke ruangan bos nya.
"Tokk..tokk..tokk."
Sekarang dia mengetuk pintu, takut kejadian tadi terulang. Untung dia tidak tertarik dengan kegiatan panas bos nya.
"Masuk!!, giliran tidak ada kegiatan kamu ketuk pintu, dasar aneh." gerutu bos nya kesel.
"Ketuk pintu tidak ketuk pintu, bos juga gak bakalan bukain pintu." sahut Manda duduk di kursi depan bosnya.
"Bos, semprot pewangi donk, supaya bau rumput lautnya hilang." sindir Manda. Lala yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum.
"Iss..omonganmu ngaco. Kenalin calon permaisuriku."
"Yaelah bos, jangan bikin gencatan senjata, mau dibawa kemana nyonya yang ada dirumah."
"Di rumah sudah menggelambir hahaha...." Rudy tertawa ingat sang istri. Dulu istrinya cantik dan manis, tubuhnya langsing, setelah punya anak dua, badan istrinya sekarang malah lebar kesamping.
"Kenalkan aku Manda, mucikari ter hot tahun ini." kata Manda datar, dia tidak begitu senang melihat Lala yang tidak tahu malu.
"Manda kamu bosnya Scarlet? aku mau melihat dia, aku minta tolong suruh dia turun ke lantai bawah. Aku membawakan pakaian untuknya, lima belas menit lagi."
__ADS_1
"Tapi..tanya bos, boleh gak Scarlet keluar. Dia anak baru, takutnya dia lari."
"Tidak apa-apa banyak penjaga juga." kata Rudy memberi izin.
"Cari sekarang anak buahmu." perintah Lala. Manda keluar dari sana menuju kamar Scarlet. Dengan senyum licik Lala menelpon Andrian serta menyuruhnya datang.
Lima belas menit. Andrian keluar dari mobilnya dan menuju lobi, setelah menaruh DP dia lalu masuk menuju Restoran. Saat itulah dia melihat Scarlet berjalan menunduk. Rambut panjangnya hampir menutupi wajahnya.
Kali ini Andrian yakin kalau dia tidak sedang berhalusinasi. Dengan cepat dia mengejar Scarlet, saat Scarlet berada dalam jangkauannya, Andrian membawa Scarlet dalam pelukannya Tentu saja Scarlet berontak, ketika dia melihat Andrian, Scarlet diam."
Kejadian itu sangat cepat, seseorang cepat mengambil gambar Andrian dan Scarlet.
"Aku merindukanmu, mengapa kamu berada disini." bisik Andrian parau. Scarlet kaget melihat Andrian dan yang membuatnya semakin kaget karena Andrian bisa melihat, alias tidak buta.
"Andrian tolonglah aku." Scarlet menjatuhkan dirinya kepelukan Andrian.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu, aku sangat bersyukur. Siapa yang membawamu kesini?"
"Nona... tolong masuk ke dalam, bos ingin bicara denganmu." dua orang pengawal mendekati Scarlet.
"Apa-apaan ini, dia istri saya. Kalian telah menculiknya." Andrian berusaha menahan Scarlet, tapi seseorang menodongkan pistol di punggungnya.
"Mati disini atau kamu cepat pulang. Jangan mencoba melapor ke polisi, jika kamu masih ingin melihat istrimu hidup."
"Jangan sakiti dia, jika kalian minta tebusan aku akan memberinya."
"Pulanglah sebelum aku berubah pikiran."
Andrian terpaksa pulang dengan tangan kosong. Tadinya dia ingin tahu kenapa Scarlet menjadi penari. Banyak hal yang ingin dia tanyakan.
"Andrian...." suara Lala mengagetkan Andrian. Dia menoleh dan menatap Lala yang berusaha tersenyum. Tiba-tiba Lala memeluknya sambil terisak.
"Kenapa menangis, kamu melihat Scarlet tadi?" tanya Andrian mengelus rambut Lala, hatinya juga pedih melihat Scarlet dibawa paksa oleh pengawal disini.
"Aku merasa ada yang tidak beres dengan Scarlet, dia tidak mungkin sengaja bekerja disini, jika dia ingin jauh dari David, dia pasti mencariku." kata Andrian mengurai pelukannya dan menatap Lala penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Dia sengaja menjual dirinya, untuk balas dendam sama David, karena David menikahiku."
"Tidak mungkin, Scarlet harga dirinya tinggi, aku yakin dia dijebak oleh seseorang yang ingin melihatnya jatuh."
"Sebaiknya kamu kembali ke rumah, jangan tinggal disini, mereka pasti curiga jika kita tetap berada disini. Aku juga harus mengelabuhi petugas supaya bisa bertemu dengan Scarlet atau dengan mucikarinya. Setelah itu kita akan membahas langkah yang tepat untuk membawa Scarlet dari sini. Aku ingin menangkap pelakunya yang tega menjerumuskan Scarlet." ujar Andrian geram.
"Andrian, mengapa kamu sibuk memikirkan Scarlet, siapa lagi yang menjual istrinya, pastilah suaminya. David orangnya sadis melihat Scarlet berselingkuh David lalu memjualnya ketempat bordil. Itu sudah biasa dilakukan oleh David. Jadi kamu jangan ikut campur masalah Scarlet."
Andrian menghela napas sebal, dia tidak sependapat dengan Lala, tidak mungkin Scarlet melacurkan dirinya kalau tidak diancam oleh seseorang.
"Sepertinya aku harus mengambil tindakan, aku minta bantuan padamu supaya masalah ini jangan di sebar luaskan, keluarga Xander pasti akan malu punya menantu seperti Scarlet. Kalau sampai publik tahu efeknya kepada perusahan."
"Kamu benar, jangan khawatir aku tidak mungkin melakukan itu, tidak ada untungnya juga. Kalau begitu aku pergi dulu. Semoga berhasil."
Lala cepat menarik tangan Andrian dan mengajaknya menuju resepsionis. Tak lama, Lala sudah membawa kunci kamar lalu berbisik.
"Andrian, aku lelah berpikir, masalah ini sangat ruwet dan menyangkut kehormatan keluarga besar Xander. Kita akan membahasnya di kamar sambil makan siang, aku pasti akan menolongmu."
Andrian sebenarnya mau menolak, tapi tidak enak, karena Lala sudah memegang kunci kamar, apalagi kata Lala dia mau menolongnya. Tidak ada salahnya juga. pikir Andrian.
Setelah mereka berdua berada di kamar, Lala langsung menuju kamar mandi. Andrian duduk di pinggir tempat tidur sambil menjawab telpon dari kantornya.
Ketika Lala menggoda, Andrian menolak dengan keras saat Lala menawarkan diri untuk menemani tidur. Walaupun Lala berjanji akan membahas masalah Scarlet sampai tuntas.
"Andrian aku tidak tahan melihatmu." kata Lala menatap Andrian yang berotot. Tubuhnya yang mungil menindih tubuh besar Andrian.
"Kenapa buru-buru Lala." kata Andrian menolak tubuh mungil Lala dengan halus.
"Aku menginginkanmu Andrian, David tidak pernah mau meladeniku." rengek Lala.
"Kamu sudah mendapatkan David dengan cara menjebaknya, keinginanmu menjadi istri David sudah tercapai, untuk itu hadapi segala konsekuensi." kata Andrian berdiri. Dia keluar dari kamar.
"Andrian tega kamu, awas, aku akan membalas penghinaanmu ini." kata Lala marah. Andrian tetap pergi.
*****
__ADS_1