
Scarlet menuntun Tuan muda ke mobil, Pak Sandor sudah terlebih dahulu memanaskan mobil dan menghidupkan AC mobil.
Ini hari ke lima Scarlet menjadi sopir Tuan Andrian. Dia memakai celana Jean dan T.Shirt putih kesukaannya. Tidak lupa dia memakai topi, kaca mata hitam dan masker. Antisipasi, untuk menutupi sedikit wajahnya dari pandangan anak buah Iwan. Dia tahu David pasti terus mencarinya.
"Maaf Tuan muda, apa anda ingin mendengar lagu atau diam sambil mengkhayal."
"Apa maksudmu, jangan berpikir aku tidak akan memecatmu walaupun kamu bekerja untuk anak yatim."
"Tuan..saya anak yatim, kadang kami iri melihat kesuksesan orang lain. Tapi saya pribadi sekarang berpikir lain, kita sebenarnya di permainkan oleh pikiran kita sendiri. Kita selalu merasa hidup paling sengsara, padahal banyak orang yang lebih sengsara, makanpun kadang mereka tidak mampu. Buang pikiran itu, kita hidup dalam lingkaran waktu, ntah sampai kapan kita berada di dunia ini untuk itu banyak-banyaklah berbuat baik untuk orang lain Tuan."
"Apakah kau mengira dirimu hebat?" ketus Tuan Andrian.
"Pertanyaan Tuan lebih cocok untuk Tuan dan jawablah sendiri."
"Aku merasa hebat!!"
"Saya senang mendengarkan, anda memang hebat Tuan, saya kagum melihat orang-orang yang hebat seperti anda."
"Kamu jebolan mana, selain Panti Asuhan." tanya Tuan Andrian, padahal dia sudah tahu biodata Scarlet, anak buahnya sudah mencari kelemahan David. Dan inilah cara untuk membuat David menyerahkan asetnya kepada dirinya. Dia tahu David sekarang merana ditinggal Scarlet.
"Saya baru menyelesaikan S.1, dulu saya kuliah sambil kerja."
"Apa kamu mau menjadi sekretarisku sekalian?"
"Maksud anda apa, saya bukan robot jam lima pagi saya bangun untuk menyiapkan segalanya. Kalau saya bekerja lagi di Kantor, takutnya saya tidak bisa melayani anda saat datang dari Kantor." sergah Scarlet merasa berat.
"Mulai besok kamu menjadi Sekretarisku!" perintah Tuan Andrian membungkam mulut Scarlet.
Scarlet diam, otaknya berpikir keras berarti dia harus bertemu dengan orang luar kembali. Tidak menutup kemungkinan dia bertemu dengan David atau Iwan.
"Okelah Tuan, jika Tuan memaksa saya, berarti Tuan sudah siap kehilangan saya sewaktu-waktu."
"Apakah kamu berarti?"
"Saya berarti saat Tuan butuh dengan tenaga saya." Scarlet menghentikan mobilnya setelah sampai di Kantor. Perbincangan mereka terputus, Pak Sandor sudah menunggu Tuan muda untuk masuk ke Kantor. Scarlet memutar mobilnya dan kembali ke rumah.
__ADS_1
Pukul 16.30 Scarlet sudah nangkring di mobil BMW milik Tuan muda, dia memutar playlist dan mendengarkan beberapa lagu slow. Tidak berapa lama pak sandor menghampirinya. Scarlet cepat-cepat turun dari mobil.
"Nona kamu duluan pulang, Tuan masih ada keperluan lain. Tuan minta nona memasak untuk makan malam."
"Oh begitu, terus Tuan dengan siapa pulang? atau saya tunggu saja."
"Tidak usah, pulanglah."
"Kalau begitu saya duluan." kata Scarlet naik ke mobil. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sampai di rumah Scarlet langsung menuju garase, dia turun dari mobil dan masuk ke dalam. Scarlet mendengar suara ribut-ribut serta bentakan kasar dari seorang wanita cantik yang berada di teras.
"Beritahu aku, di mana tunanganku!" hardik wanita itu geram, dia memaki tidak karuan. Ada perasaan kesal yang tiba-tiba muncul kepada wanita itu. Scarlet maju mendekatinya.
Wanita itu menoleh kepada Scarlet, matanya tajam menatap naik turun.
Tatapannya seperti ingin membunuh, mengerikan dan bejat.
"Hei, siapa kamu dan mengapa berada disini, apa kamu pikir pacarku akan tertarik padamu?" tanyanya ketus, matanya meneleti penampilan Scarlet dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Dia adalah Nona Scarlet pelayan baru di sini." ucap kepala pelayan sopan. Dia begitu tenang berkata dan menghadapi wanita itu. Barangkali dia sudah kenal amukan wamita ini atau dia sudah lelah dengan makian serta keributan yang sering tercipta disini.
"Oow pelayan? pelayan apa yang berdandan begini, kecuali dia ingin mendekati tunanganku." katanya sinis dan mengejek.
"Sejak kapan, kau berani berdandan aneh sendiri disini. Kau kira Tuan akan tertarik kepada pelayan dekil sepertimu, berkacalah sebelum aku menendangmu ke jalanan."
"Maaf nona, bicaramu tidak sesuai dengan penampilanmu. Siapapun aku dan apapun yang aku lakukan disetujui oleh Tuan, jadi jangan repot-repot marah padaku." Scarlet tidak tahan untuk tidak menyahut.
"Beraninya kamu menyahut, kamu belum tahu siapa aku, kenapa kamu tidak memakai seragam pelayan, dasar babu sialan, babu itu adalah orang yang butuh belas kasihan orang kaya sepertiku, dasar bodoh." dia kesal melihat penampilan Scarlet yang modis, dan cantik alami.
"Karena Nona Scarlet adalah pelayan pribadi Tuan muda. Jadi dia bebas mau berpakaian apa." jawab kepala pelayan lagi. Dia sepertinya sudah malas meladeni wanita sombong itu.
"Kau memanggilnya Nona? dia cuma pembantu!" bentak wanita itu marah.
Scarlet mengerutkan dahi, benar juga kata wanita itu. Dia bahkan tak tahu dan tidak menyadari hal itu, karena panggilan seseorang tidak terlalu penting baginya selama itu masih sopan. Tapi, yang membuat Scarlet heran kenapa wanita sialan itu marah dan tidak terima.
__ADS_1
"Dengar semuanya, akulah yang akan menjadi Nyonya di rumah ini, jadi jangan berani-beraninya kalian membantah perintahku, mengerti."
Semua diam, mungkin mereka malas menjawab, atau mereka semua berdoa supaya keinginan wanita itu tidak terkabul. Scarlet tidak tahu siapa sebenarnya wanita ini.
"Amel, jangan membuat keributan di rumahku!!" suara bentakan kasar itu berasal dari Tuan Andrian. Dia baru saja datang dari Kantor, mendengar banyak makian yang di keluarkan oleh mantan pacarnya itu.
"Sayank...mereka menghalangiku untuk menemuimu," rajuk wanita itu dan bergegas menemui Tuan muda Andrian. Suaranya dibuat manja, berbeda jauh dengan intonasinya saat berbicara dengan para pelayan tadi. Dasar perempuan daur ulang.
Amel mendekati pria itu, berusaha melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Tuan Andrian.
"Aku rindu padamu sayank." ucapnya mesra. Dia melirik Scarlet dengan mengejek.
Scarlet mual permanen melihat itu semua. Dia membuka topinya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai lurus.
"Sardon, usir ****** ini dari rumahku." Perintahnya, lalu menghempaskan tubuh wanita itu yang bergelayut manja di lengannya hingga jatuh tersungkur. Scarlet tidak tahan dan tertawa.
"Scarlet..." panggil Tuan. Dengan cepat Scarlet menuntun Tuan Andrian, dan menggandeng tangan Tuan Andrian. Tiba-tiba dia tersentak mengaduh karena rambutnya ditarik dari belakang.
"Berani kau memegang tangan pacarku, prempuan murahan." pekik Amel menarik rambut Scarlet.
"Aduhh..."
"Sardon!!" teriak Tuan Andrian marah ketika mendengar Scarlet berteriak.
Scarlet melepaskan pegangannya dari Tuan Andrian, dia hampir jatuh, untunglah para pengawal cepat menolongnya. Dan Amel diseret ke luar sambil berteriak dan menangis.
"Jangan ulangi lagi, aku menggajimu bukan ikut berdebat disana. Siapkan air hangat untuk mandiku!" katanya keras membuat Scarlet berhenti meringis. Tuan marah, wajahnya merah membara. Scarlet diam, dia masih merasa sakit di kepalanya.
"Duduklah Tuan." kata Scarlet lirih, dia tidak tahu kenapa hatinya sakit. Dia merasa trauma mengingat David yang suka keras padanya.
"Minumlah, tenangkan hatimu." Scarlet menyodorkan air putih ketangan Tuan Andrian.
"Aku akan menyiapkan mandimu." Scarlet menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat di bathtub. Dia menuangkan essential oil sedikit bersamaan dengan jatuhnya air memenuhi bathtub.
****
__ADS_1