SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
GELISAH


__ADS_3

Malam semakin kelam, rembulan dan bintang-bintang bersembunyi dibalik awan gelap, membuat malam menjadi kelam. Hembusan angin menyeruak, masuk ketulang sumsum serasa menguliti seluruh tubuh. Rinai hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi pelataran rumah mewah itu. Scarlet tidur dengan gelisah, pesan mbak Indah masih terngiang, yang memerintahkan supaya Scarlet pergi jauh dari kehidupan David.


Mbak Indah meneleponnya, dia bertanya tentang Toko kuenya yang tutup. Pada saat itu Scarlet langsung menjelaskan semua kejadian yang menimpa dirinya. Mbak Indah marah, membuat Scarlet berjanji menuruti kemauan kakaknya supaya pergi dari rumah David. Bisakah dia pergi dari rumah David?


Syukurlah malam ini David tidur di luar, jadi dia bebas bisa tidur sendiri. Seharusnya David memberi tempat tidur, karena dia adalah tamu disini, bukan istri David lagi. Sebenarnya dia tidak peduli David tidur dimana, baginya David adalah pecundang, yang selalu mempermainkan hatinya, hidupnya hancur karena David. Padahal dia sudah merasa senang, jauh dari campur tangan David, bisa menata hidupnya kembali, tapi, David lagi datang dengan cerita baru.


"Yank, makan dulu." David masuk tanpa ketuk pintu, membuat Scarlet kaget, lamunannya buyar seketika.


Scarlet berdiri dari sofa, dia memang sudah lapar sekali. Tanpa malu dia mengikuti David ke ruang makan.


"Makan yang banyak supaya kuat ngoceh." kata David menatap Scarlet ketika mulutnya penuh berisi roti cane.


"Kalau aku sudah kuat, aku akan menendangmu sampai ke Solo, supaya kamu hilang dari hadapanku." sahut Scarlet datar. Dia memang sangat lapar, rasanya ingin makan semuanya apa yang dihidangkan.


"Makanlah." perintah David pendek, saat ini dia tidak nafsu makan, hatinya terluka dan sangat sakit, tadi mbak Indah menelepon, dengan marah-marah, meminta agar David mengembalikan adiknya, karena Indah berencana akan mengirim Scarlet keluar negeri.


"Kenapa kamu sedikit makan?" tanya Scarlet melihat David lebih banyak melamun daripada memasukan nasi ke mulutnya.


"Lagi tidak mood makan." jawab David datar.


"Karena pacarmu belum datang, yang biasa nemanin makan?" sindir Scarlet menatap David. Rasa kesal masih menggelayut di hatinya kalau ingat Cyindi.


"Karena aku takut kamu pergi dari sini. Aku akan makan banyak kalau kamu tetap tinggal disini." jawab David membuat Scarlet diam. Dia memang akan pergi jauh dari sini. Meninggalkan segalanya, mungkin orang menilainya pengecut, pergi meninggalkan masalah. Tapi itulah keinginan mbak Indah, supaya dia bisa hidup lebih tenang.


Pukul. 03.15, Scarlet terbangun, dia merasa masih terlalu pagi untuk bangun atau sekedar duduk di teras untuk menghirup udara segar. Tapi dia sulit untuk tidur kembali.


Scarlet memikirkan perintah mbak Indah untuk kabur dari rumah David, sebenarnya dia ragu untuk pergi, karena pengawal David banyak, pasti dia akan di temukan lagi.

__ADS_1


Scarlet turun dari ranjang, dia menuju kamar mandi dan membersihkan diri setelah itu dia keluar kamar, berjalan menuju ruang tamu. Dilihatnya David tidur di sofa panjang, sebotol black label berada di atas meja, tapi isinya sudah habis, berarti David malamnya minum dan mabuk. Bau minuman keras memenuhi ruangan. Ponsel David tergeletak di lantai berkapert, David memang ceroboh.


Laki-laki itu tidur sangat pulas, suara dengkurannya yang halus membuat Scarlet menatap wajah tampan itu dengan seksama, jujur pria itu membuat hatinya bergejolak. Tapi kalau ingat peringainya, perasaan Scarlet perih.


Dia lalu berjongkok, mengambil ponsel David dan iseng membukanya David dari dulu memang tidak pernah mengunci ponselnya, seperti suami- suami yang lain, karena dia sangat care kepada Scarlet. Tidak ada yang disembunyikan. Scarlet menjelajahi galeri foto. Membiarkan visualisasi kenangan berpendar dalam benak, hatinya sendu. Beberapa tangkapan layar begitu mengaduk-aduk perasaannya, dia begitu sentimentil,


Netra cokelatnya mengamati satu persatu momen indah bersama David. Dia menjadi rindu masa-masa masih berdua dengan David.


David menggeliat bangun, merasa ada yang menatap dirinya. Scarlet cepat berpaling lalu berujar,


"Apa kerjamu setiap hari mabuk dengan Cyndi?" David tidak langsung menjawab, dia mengumpulkan tenaga dan ingatannya.


"Ya, untuk bisa melupakanmu, tapi bayanganmu selalu datang seperti hantu." sahut David serak.


"Jadi kau ingin melupakanku dengan cara main kuda lumping dengan Cyndi, begitu maksudmu?"


Terdengar tangisan bayinya, Scarlet buru-buru mengetuk pintu kamar bayinya. Suara tangis Sean terdengar tambah nyaring.


"Sini aku gendong." kata Scarlet mengambil bayinya dari tangan baby sitternya.


"Nyonya, kemarin saya di telepon oleh Kakak nyonya, saya di suruh membawa baby Sean ke rumah nyonya Winda. Kalau saya tidak mau saya akan di pecat."


"Kita akan sesegera mungkin pergi dari sini, jauh keluar negeri. Mungkin kita akan menetap disana." jawab Scarlet tenang, dia tidak menyadari kalau David mendengar pembicaraan Scarlet dan baby sitternya.


Rasa kecewa begitu kentara dari raut wajah David. Pengorbanan David selama ini sia-sia saja. Dia menuju ruang tamu, menunggu Scarlet keluar bersama bayinya. Pahitnya penantian demi menunggu kehadiran istri di sampingnya menjadi ujian kesabaran tersendiri bagi David.


David merupakan suami possesive, dia sangat cemburu dan sedikit egois walaupun dia bertanggung jawab. Perhatian dan kasih sayang selalu tercurahkan untuk istrinya. Namun, itu dulu.

__ADS_1


Semenjak kena rayuan Cyndi sifat David dan perangainya berbeda. Sikap manisnya, hilang. Dia bukan David yang dulu. Canda tawa via telepon, tidak pernah dilakukan lagi semenjak pelakor itu merampas kebahagiaannya.


"Yank, boleh aku gendong anaknya?" David berdiri mendekati Scarlet yang baru keluar dari kamar. Scarlet kaget melihat David berada di sana.


"Kamu sudah dari tadi disini?" tanya Scarlet curiga. Dia tidak ingin David tahu rencana yang akan di lakukan.


"Baru habis mandi, kita sarapan dulu. Tapi sebelumnya aku mau belajar menggendong bayi dulu." Scarlet memandang David, ada rasa kasihan. Tidak lama lagi dia mau kabur dari rumah David dengan bayinya.


"Tapi hati-hati." kata Scarlet. David berusaha menggendong bayinya, dia terlihat kaku, dan bayinya menangis. Baby sitter langsung megendongnya.


"Dia pasti menangis, karena bukan bapaknya. Nanti aku ajak ke Barista bayiku pasti tertawa disana." sindir Scarlet, sambil tersenyum mengejek.


"Mulutnya dijaga kalau bicara, jangan bikin aku naik darah."


"Mana pelakor yang biasa kamu bela itu. Apa kamu sudah di tendang, berapa habis sama dia?"


"Sayank....berhenti gak, kamu bikin gemes saja. Jangan katakan kalau aku akan diam. Aku bisa lebih liar." bisik David.


"Uss...sarapan, ahh." kata Scarlet berkelit ketika David ingin memeluk tubuhnya. Mereka berdua berjalan menuju meja makan. Scarlet duduk berhadapan dengan David, saling pandang dan mengukur ke sabaran masing-masing.


"David...aku ingin melihatmu menikah. Carilah wanita yang baik dan sabar." ucap Scarlet pelan.


"Buat apa, aku sudah punya istri dan anak. Apa kamu punya rencana meninggalkanku?"


"Ohh...tidak begitu maksudku. Aku ingin melihat kamu bahagia.


******

__ADS_1


__ADS_2