SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
KEMARAHAN DAVID


__ADS_3

"Susi, tolong bilang kalau aku sudah pulang kalau ada yang mencariku, dan ingat kunci Tokonya." kata Scarlet sambil menaruh kunci Toko.


"Baik Nona." sahut Susi memandang Scarlet yang buru-buru pergi.


"Oke, aku duluan."


David berjalan menuju Toko, ada perasaan tidak enak menyelimutinya. Baru dia mau masuk Toko, Susi telah berada di depannya.


"Maaf Tuan kami sudah tutup, Tuan bisa datang besok." kata Susi ketika David mau masuk ke Toko.


"Saya mencari Scarlet." Kata David mulai curiga.


"Oh.. dia sudah pulang Tuan, kami juga mau pulang." ada rasa mencelos di hati David, dia merasa Scarlet akan menghindarinya. Tatapan tajam Scarlet yang penuh arti tadi pagi menyiratkan kalau Scarlet saat ini sedang membencinya.


"Oke. makasi mbak."


David pergi tanpa bertanya lagi, dia tahu cepat atau lambat, Scarlet akan pergi menghindarinya. David ingin melihat sejauh mana usaha Scarlet untuk menjauh darinya.


David kembali kedalam mobil dan pergi meninggalkan toko bunga dengan perasaan hampa.


Dua minggu telah berlalu, David memang sangat sibuk, orang tuanya sering menyuruh supaya David cepat menikah dan mengurus usaha Papanya, tapi David masih berkelit.


David mengetukkan jarinya ke meja, dia sedang berpikir apa kira-kira yang membuat Scarlet menjauh dan menghindarinya. Hampir sebulan Scarlet menghindarinya, parah. David bukannya tidak bisa menemui gadis itu, David hanya ingin memberi Scarlet waktu untuk merindukannya.


Tapi kenyataannya Scarlet semakin menjauh. Tentu saja membuat David ketakutan tidak karuan. Dia pikir Scarlet akan mengejarnya setelah di tiduri, seperti gadis lain yang ingin pertanggung jawaban. Scarlet malah semakin menjauh. Kurang asem.


"Tokk..tokk...tokk.."


Lamunan David buyar mendengar ketukan di pintu. Dia menyuruh masuk. Iwan nongol dengan wajah sumbringah dan langsung duduk di sofa. Dia kemudian menaruh map biru itu diatas meja.


"Siang bos."


"Kamu sudah dapati hasilnya? aku sudah tidak sabar ingin tahu kenapa gadis itu berulah.


"Mungkin dia ingin dinikahi bos."


"Mana mungkin, dia itu wanita aneh. Dikasi apapun tidak mau, apalagi.di nikahin pasti tidak mau. Apa dia tidak mencintaiku ya."


"Pasti ya hahaha...."


"Busyet dah, cinta itu bisa datang kapan saja, dia bukannya takut ditinggal setelah di tiduri, malah dia yang meninggalkan aku. Sungguh terlalu."

__ADS_1


"Mungkin dia betah jadi orang miskin dan senang kerja keras." sahut Iwan berdiri dan menuju kulkas. Dia mengambil minuman bersoda, lalu duduk kembali.


David membuka amplop yang berisi beberapa foto Scarlet.


"Brengsek!! apa ini?" dia membanting foto-foto Scarlet ke meja. Di foto itu terlihat Scarlet sedang makan siang dengan seorang pria.


"Dia kencan dengan seorang pria, yang di kenalnya di Kampus. Dia memang cantik, apalagi memakai baju pilihanmu. Sayang dia tidak tahu bahwa kamu membelikannya."


David mengeraskan rahangnya, emosinya membumbung tinggi. Dia ingin menendang pria itu, beraninya mendekati gadisnya.


"Kau sudah menyelidiki siapa pria itu? kurang ajar sekali. Scarlet mulai bertingkah, dia belum pernah aku marahi."


"Pria itu adalah dosennya, tepatnya dosen Scarlet, berumur 26 tahun, masih single dan setia. Pernah pacaran, tapi sudah putus. Dia baru sekali mengajak Scarlet makan." jelas Iwan.


"Dasar curut, beraninya mendekati wanita milikku. Brengsekk!! David menyeringai dingin. Matanya berkilat.


"Sabar bos, masih ada lagi empat kandidatnya."


"Singkirkan semua tikus itu! Dimana Scarlet sekarang?!" pekiknya dengan wajah membara.


Dia harus memberi pelajaran kepada wanita itu.


"Ohh..gitu, jadi prempuan itu mau diajak makan supaya lulus skripsi?"


"Tidak mungkin bos, Scarlet memang ingin mencari suami dan malam ini dia akan kencan pukul. 19.30 di Cafe Belalang."


"Apa? kurang ajar!!" David esmoni, dia mengepalkan tangannya.


"Kau baik-baik saja Bos?" Iwan berdiri dan menghampiri David.


"Sorry....tumben aku di pecundangi oleh seorang wanita, aku bisa gila kalau sampai ada yang menjamah milikku."


"Aku harus menemui Scarlet." kata David menyambar kunci mobil.


"Hati-hati bos, bicarakan baik-baik. Jangan ada tawuran." pesan Iwan. David tidak menjawab dia melangkah lebar menuju mobilnya.


David memacu pajeronya ke Kampus Scarlet. Malam ini jalanan sangat ramai, David tidak peduli, dia sikut kiri dan serempet kanan. Banyak makian pengguna jalanan yang dia serempet. David tidak peduli.


Lima belas menit dia menunggu di parkiran Kampus, baru kelihatan Scarlet berjalan keluar bersama teman-temannya. Tapi tidak ada satupun teman ceweknya, apa dia tidak risih dengan teman cowoknya.


"Tertawalah Scarlet, jangan berpikir kamu bisa lepas dariku." gumam David. Dia menunggu sampai satu persatu teman Scarlet bubar. Ketika temannya semua sudah pergi Scarlet melangkah mau pergi.

__ADS_1


David langsung keluar dari mobil dan menghampiri wanita itu.


"Ikut aku." David menarik tangannya.


Scarlet terkejut saat tiba-tiba David muncul dan menarik tangannya.


"Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan tanganku David!" dia hampir teriak.


"Tidak!! Kamu harus ikut aku, kamu pantas di hukum." Pria itu kemudian mendorong Scarlet pelan masuk ke mobil. Dia cepat naik ke mobil serta memasang sabuk pengaman untuk Scarlet.


"Hukuman apa? Aku tidak berbuat kesalahan, jangan seenaknya. Kamu pikir ini zaman Belanda."


"Kamu berbuat salah, gara-gara kamu aku membatalkan proyekku." sahut David kesal. Dia membatalkan shooting iklannya di Jakarta karena, David tidak mau Scarlet menemui dosennya dan membuat wanita itu jatuh kepelukan laki-laki itu.


"Aku tidak peduli, aku ingin pulang dan harus bersiap. Aku ada janji makan malam dengan teman."


"Makan malam dengan Dosenmu, hebat sekali." kata David sinis.


"Dari mana kamu tahu dosenku, aku jadi curiga padamu." Scarlet menoleh pada David, dia memandang dengan sinis, apa pria ini menguntitnya.


"Aku tahu sepak terjangmu, kamu sengaja menghindar dariku supaya bebas berjalan dengan laki-laki lain. Dasar wanita murahan!"


"Hati-hati kalau ngomong, aku tidak sehina itu. Aku hanya makan dan berkenalan dengan mereka, tidak lebih!" Scarlet menekan kata "tidak lebih"


"Berkenalan dengan pria asing, lalu selanjutnya apa, bergulat di balik selimut. Begitukah maksudmu? atau sekalian saja kamu pasang tarif supaya ada yang menolong biaya hidupmu."


"David!! kamu pikir aku wanita bayaran." pekik Scarlet menangis.


"Memang kamu hina!" teriak David menumpahkan kekesalannya. Dia sangat cemburu membayangkan Scarlet dipegang tangannya oleh laki-laki lain.


"Memangnya apa urusanmu kalau aku dekat dengan pria lain, berbuat mesum dengan mereka. supaya kamu tahu, aku akan memberikan tubuhku kepada mereka semua. Aku akan melacurkan diriku sekalian." nada suara Scarlet meninggi.


"Brengsek...!" Maki David geram. Dia menggertakan giginya, tanda dia sangat marah. Kalau saja David tidak


sedang menyetir, mungkin dia akan memperkosa Scarlet dengan brutal sebagai hukumannya.


Membayangkan Scarlet tidur dengan pria lain membuat emosi David naik. David mengeraskan rahangnya, tangannya mencengkram setir mobil dengan kuat.


David menginjak pedal gas, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah gila memikirkan gadis itu. Scarlet ketakutan, tapi dia pantang memperlihatkan takutnya. Dia juga sudah pasrah, kalau memang harus mati, ya matilah, daripada dihina begini. Hatinya sangat sakit. Bukankah yang membuat dia berbuat begitu karena David dengan wanita lain. Siapa duluan yang murahan.


*****

__ADS_1


__ADS_2