
Nyonya Winda dan Indah menangis terus menerus melihat Scarlet yang tidak sadarkan diri, dia sangat sedih. Semua Makian dan umpatan habis dia tujukan kepada David dan Cyndi, Istri muda Alex R. Xander.
Scarlet cepat di tangani oleh dokter dan di bawa ke ruangan observasi.
"Tante kita duduk di waiting room, tante bersabar ya..." kata Andrian menuntun tante Winda dan Indah ke Waiting Room.
Di Waiting Room sudah di penuhi oleh keluarga Xander. Keluarga yang sangat solid dan bertanggung jawab. Pembicaraan mereka masih seputar Scarlet, yang dituduh sebagai penghuni Barista, wanita nakal dan lainnya.
Indah menghapus air matanya, dia masih memakai pakaian tunangan. Dia kemudian ikut bergabung dengan sepupunya yang lain. Saudaranya yang berada disini sekarang ternyata menggosipkan keberadaan Scarlet dan masa lalunya yang mengundang cemoh. Indah angkat bicara. Andrian yang tahu persis siapa sebenarnya Scarlet juga ikut bercerita, walaupun Andrian ada yang disembunyikan yaitu perasaan sukanya terhadap Scarlet yang tidak pernah pupus.
"Begitulah sebenarnya, tante Yuli dan Lala menjual Scarlet ke Pak Rudy, disana dia dilatih pole dance oleh Manda, mucikari yang mencintainya. Tidak pernah dia menjual diri, sampai aku menebusnya...." kata Andrian.
Keluarga Xander bersyukur dan mereka akan merehabilitasi nama baik Scarlet sesuai biodata dan saksi yang mendukung, walaupun disisi lain akan ada korban baru, seperti nyonya Yuli, Lala dan perbuatan Cyndi yang bisa dilaporkan ke jalur hukum.
"Kita semua harus bicara ke Om Alex sebelum mengambil tindakan ini, David tidak mungkin diam ketika mamanya di laporkan ke Polisi. Yang penting kita sebagai keluarga Xander sudah tahu siapa Scarlet."
"Tante masih ada ganjalan di hati, sebelum Scarlet di tes DNA....." celetuk nyonya Winda, tapi sebelum tante Winda bercerita, seorang suster mendatangi mereka dengan tergesa- gesa.
"Maaf tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian, pasien saat ini sudah sadar dan sebentar lagi akan diadakan operasi caesar. Saat ini pasien memerlukan donor darah golongan darah AB, tolong di siapkan terlebih dahulu, karena golongan darah ini tidak tersedia." Golongan darah ini sangat langka, tapi kebetulan yang punya golongan darah ini keluarga Xander.
"Aku siap mendonorkan." Indah yang pertama kali mengacungkan telunjuk dia sangat antusias mendonorkan darahnya untuk Scarlet.
"Tante yakin Scarlet anakku." teriak tante Winda membuat semuanya kaget.
"Tante, kalau ingin tahu siapa Scarlet sebenarnya, tante tes DNA. Supaya tidak ada keraguan dan sakit hati dari Ibu Panti dan Bunga." usul Andrian.
__ADS_1
"Ya Andrian, itu akan tante lakukan kita berdoa supaya Scarlet, dan bayinya bisa di selamatkan." kata nyonya Winda sedih.
Pukul. 14.15 pintu ruangan operasi terbuka. Seorang dokter keluar menghampiri mereka. Nyonya Winda menyambutnya dengan khawatir.
"Selamat sore dokter, bagaimana keadaan putri saya?" nyonya Winda cepat menghampiri dokter Arman.
"Selamat nyonya, putri nyonya sudah melahirkan seorang putra, mereka dalam keadaan baik dan operasinya sukses." Jawab dokter Arman ramah.
"Pasien masih belum sadar, dan putranya dalam keadaan sehat dengan berat badan normal." lanjut dokter Arman lagi.
"Syukurlah, trimakasih dokter, kapan saya bisa melihat putri saya?"
"Setelah pasien di pindahkan ke ruang perawatan. Nyonya nanti bisa bertanya sama suster terlebih dahulu." kata dokter Arman. Nyonya Winda sangat senang mendengar khabar ini, dia tidak habis-habisnya bersyukur atas semua anugrah yang di dapat.
Setelah mereka mendengar pembicaraan dokter, keluarga besar Xander menjadi lega, mereka satu persatu pulang dan tinggal nyonya Winda saja. Indah pun mau pulang, maklum belum ganti baju, padahal Andrian masih ingin di rumah sakit, dia belum melihat Scarlet. Sejujurnya dia ingin menemani Scarlet di saat begini, tapi dia harus menahan diri dan berusaha menutupi rasa yang masih ada terhadap Scarlet.
Setelah menanyakan kepada bagian informasi, Iwan menuju ruang rawat Scarlet. Dia mengintip ke dalam dari kaca pengintip, ternyata di dalam tidak ada yang menjenguk. Perlahan Iwan membuka pintu, dia menjinjit kaki dan mendekati Scarlet.
Iwan menatap perempuan cantik 'itu dalam-dalam. Memperhatikan raut wajahnya yang tertidur pulas, suara nafas keluar dengan halus. Tangan kirinya masih tertancap jarum infus. Iwan duduk di kursi tunggu yang terletak di samping bed nya Scarlet.
Mata Scarlet terbuka, dia mengerjap, lalu mengusap matanya beberapa kali. Dia menoleh ke arah laki-laki di sampingnya, dia kaget melihat Iwan duduk di samping bed menatapnya sambil menyunggingkan senyum.
"Iwan.." desisnya, suaranya terdengar bergetar. Sedetik kemudian, tangan kirinya mengusap lelehan bening yang mengalir ke pipi Scarlet.
Lelaki itu mengangguk sembari mengukir senyum tipis. Dia merasa bersalah berada disini tanpa David. Netranya menatap lekat ke arah Scarlet yang mulai sesenggukan. Iwan hanya diam, menunggu Scarlet tenang.
__ADS_1
"Nyonya, tenangkan dirimu, aku minta maaf baru bisa datang." kata Iwan mengambil tissue dan di sodorkan kepada Scarlet. Ingin rasanya menghapus cairan bening itu dari pipi Scarlet.
Iwan bersedih memikirkan nasib wanita itu. Rasanya tidak tega dia membiarkan perempuan sebaik ini harus disakiti oleh laki-laki seperti David. Meski David adalah teman dekatnya, Iwan tidak pernah berada di pihak David dalam tindak tanduk David yang merugikan Scarlet.
"Nyonya..., bos menyuruhku untuk datang menemuimu, dia bukannya tidak mau datang, tapi dia merasa sangat bersalah. Apakah kamu mau mengizinkan bos menjengukmu?" kata Iwan hampir berbisik.
Scarlet diam, hati dan jiwanya sudah hancur. Terus terang dia tidak ingin melihat David sedetikpun. Tapi diamnya Scarlet seolah di artikan lain oleh Iwan.
Iwan membuka ponselnya dan mulai mencari aplikasi perpesanan hijau. Dia mencari nama David di sana. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Iwan merasa sangat bersalah, seharusnya Iwan memberi nasehat kepada David supaya David lebih bertanggung jawab sebagai seorang suami. Iwan tidak peduli dianggap mencampuri urusan rumah tangga mereka.
"Bos, Scarlet sudah ketemu tolong ke rumah sakit sekarang. Aku kasihan melihat Scarlet menangis. Mungkin Scarlet membutuhkanmu." tulis Iwan yang ditujukan untuk David.
"Baiklah! aku akan ke sana sekarang. Kamu jangan pergi dari sana, siapa saja yang ada disana?" balas David.
"Tidak ada yang menunggu, mungkin aku yang akan menunggunya." tulis Iwan kesal.
Waktu terus berjalan. Satu jam telah berlalu, namun, belum ada tanda- tanda kehadiran David di sini. Iwan menjadi kesal, dia menatap Scarlet yang sudah mulai tenang.
Mendapat pesan dari Iwan, David setengah berlari menuju mobilnya. Cyndi buru-buru mengekor dan ikut naik ke mobil.
"Cyndi...kamu tidak usah ikut, aku akan menemukan istriku, aku tidak ingin ada pertengkaran dengan Scarlet." tegur David menoleh kepada Cyndi.
"Mengertilah boy, aku takut di rumah, pengawalmu tidak mungkin akan menolongku jika Xander melabrakku. Kamu tidak usah khawatir, aku akan diam di mobil dan tidak ikut turun."
"Kamu jangan ikut turun ya, jangan bikin istriku marah." tegas David. Cyndi mengangguk licik.
__ADS_1
*****