SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
SIAPA PENOLONGKU


__ADS_3

"Aku cukup sekali membuat kekeliruan dalam hidupku, semoga kamu mengerti. Tidak ada dalam benakku untuk menjual diri." bisik Scarlet dengan dingin.


Scarlet lalu meraih minuman yang ada di hadapannya, meminumnya hingga tandas. Ada rasa vanila dan cacao yang lembut mengalir masuk ketenggorokannya. Rasanya berbeda dengan bir yang tadi dia minum.


"Kamu minum Red Wine yang aku pesan, kalau bisa tolong dibayar lunas." jelas David pura-pura kaget. Wajah Scarlet langsung membara.


Tapi aku tidak memesannya, kenapa kamu taruh di atas meja di depanku."


"Karena aku tadi duduk disitu, dan aku belum sempat minum."


"Berapa harganya." tanya Scarlet


dengan ekspresi bingung.


"Cukup 500 ribu saja nona." kata Iwan tersenyum. Wajah Scarlet pucat. Dia mengeluarkan isi dompetnya dan menghitung semua isi celengan yang dia pecahkan tadi.


"Apa kamu tidak punya uang?" tanya David meremehkan.


"Punya, tenanglah." sahut Scarlet hampir menangis. ,Untunglah uang yang dia bawa cukup, walaupun ada recehan juga.


"Ini uangnya Bang, maaf ya uangnya tidak sama. Terima kasih ya Bang." Kata Scarlet tidak ikhlas. Dia berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. David menangkap tangan Scarlet yang mau pergi.


“Mau kemana?” Tanya David ikut berdiri.


“Pulang” ketus Scarlet. Tidak tahu kenapa, dia selalu sensi kalau melihat pria ini. Bawaannya pengen marah melulu.


"Aku baru saja sampai di sini, kamu sudah mau pergi. Duduklah temani aku, layaknya seorang kekasih yang pernah menyatu."


"Aku tidak ingat, kejadian pertama yang ingin aku lupakan sepanjang  hidupku." sinis Scarlet.


David menggertakkan giginya menahan emosi. Dia menyentak tangan Scarlet sehingga Scarlet jatuh di pelukannya. Reflek Scarlet melingkarkan tangannya ke leher David. Mereka saling pandang, dan David langsung mengecup bibir Scarlet.


"Iss..genit, semua orang melihat kita apa kamu tidak malu, atau kamu salah satu dari mereka yang


menganggap wanita adalah obyek mainan semata. Kamu menilai aku sama dengan wanita disana." kata Scarlet mengangkat dagunya.

__ADS_1


"Jangan berprasangka, aku akan mengantar kamu pulang. Berhentilah mencari orang yang melunasi hutangmu. Bisa saja mereka salah satu dari teman facebook mu yang menonton vidio tentang kebrutalan nyonya Damayanti. Kamu harus bersyukur, karena masih ada orang yang perhatian padamu."


"Aku bersyukur sekali dan berdoa supaya orang itu di kasi jodoh yang baik, rejeki yang melimpah dan kehidupan yang bahagia."


"Aaminn!!"


Scarlet melihat tepat ke mata David, dia rada-rada curiga pada David. Tapi tidak mungkin.


"David kamu kerja apa? apa kamu punya uang seratus juta?" tanyanya penasaran.


"Aku kerja serabutan, kamu jangan berpikir aku banyak uang."


"Apakah Made yang membayar hutangku, masalahnya ada orang mau bayar hutangku dan minta bertemu di Bar ini."


"Hanya pengusaha yang bisa membayar seratus juta tunai, orang itu tidak mungkin berkeliaran di Bar karena dia orang yang sibuk."


"Begitukah? semoga dia selalu dalam lindunganNYA."


"Seandainya kamu bertemu dengan orang yang menolongmu itu, apa yang akan kamu lakukan?"


"Hebat, semoga kamu bertemu suatu hari nanti. Aku antar kamu pulang."


"Tidak mau, titik!!" Scarlet berdiri mau pergi dari hadapan David. Tapi David cepat menariknya.


Scarlet kembali tersentak ketika David menyatukan bibir mereka. Awalnya hanya kecupan-kecupan kecil, tapi selanjutnya David tidak sabar mendaratkan bibirnya kembali secara intens. Dia menggertakan giginya menahan gairahnya yang mulai naik. David menyusupkan lidahnya ketika Scarlet tanpa sadar mendesah.


Scarlet tersadar, dan langsung cepat menolak dada David serta berusaha melepaskan diri ketika David ingin meremas dada kirinya. Dia menarik napasnya dalam-dalam berusaha menormalkan pernapasannya. Dia menjadi malu seperti tidak berharga. Untunglah David menyadari bahwa Scarlet sangat marah.


“Hemm.. pelan-pelan, cari kamar Bos!’’ goda Iwan yang dari tadi menonton ciuman panas mereka. David tersenyum canggung dan menatap Scarlet dengan gairah yang masih membara. Sontak pipi Scarlet memerah mendengar godaan Iwan.


Apalagi kini Scarlet sadar kalau aksi mereka dilihat banyak orang. Dia melihat sekelilingnya. Di dalam keremangan lampu Bar, hampir semua pasangan sedang bercumbu. Ternyata mereka bukanlah satu satunya pasangan yang bercumbu di tempat seramai ini. Bahkan Scarlet melihat ada pasangan yang lebih berani. Mungkin mereka mabuk. pikir secarlet merinding.


Scarlet mengambil tasnya yang terjatuh tadi, dia menoleh sekali lagi kepada David lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya. David dari tadi ternyata tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari Scarlet.


 "Apa lihat-lihat, sudah puas membuat aku malu?" tanya Scarlet galak. Seketika senyum David terbit melihat tingkah Scarlet yang kesal.

__ADS_1


“Aku mau pulang sekarang, jangan mengejarku atau menarik tanganku, hargai aku sedikit saja."


“Pulanglah, tidak ada yang akan mengejarmu. Apa yang kamu tunggu kenapa masih disitu?”


“Itu sebuah kode, agar bos segera mengantarnya pulang." bisik Iwan sambil melihat Scarlet.


"Ohh..jadi begitu, aku baru saja sampai, mana mungkin aku pergi lagi, minuman yang aku pesanpun belum berkurang, jadi jangan harap aku akan mengantarmu pulang."


"Lebih baik buang pikiran curigamu, saat ini aku menunggu taksi online yang baru saja aku pesan."


"Kenapa tidak menunggu di luar nona?” Tanya Iwan penasaran.


"Terus terang aku takut dengan orang-orang disini, aku di dalam saja disosor orang, apalagi di luar yang gelap. Aku rasa Disini lebih aman, di luar banyak orang mabuk, aku tidak mau mengambil resiko di perkosa orang mabuk” Jawab Scarlet santai.


David tersenyum disindir mengusap wajahnya dengan kasar, terkadang dia merasa heran pada dirinya, setiap melihat Scarlet gairahnya melonjak.  Padahal pacarnya cantik-cantik dari dulu, tapi tidak bisa membuatnya melambung.


Scarlet langsung pergi tanpa pamit, dia tidak menoleh kepada David. Pria itu sangat tega melecehkannya terus menerus tanpa malu. Ingin sekali Scarlet menendang pria itu sampai ke Solo, bila perlu sampai planet Mars.


Scarlet menarik nafas dalam dan membuangnya kasar, dia menunggu gojek di luar saja, daripada dicurigai oleh Iwan. Dia tidak ingin menjadi bahan olokan David dan Iwan.


Sementara itu Iwan dan David lagi berdebat tentang Scarlet. Iwan tidak tega melihat Scarlet terus menjadi obyek permainan bos nya.


"Aku kasihan melihatnya, kenapa bos tidak mengantarnya pulang?’’ tanya Iwan memandang David.


"Aku ingin mengerjakan sesuatu." jawab David sekenanya.


Iwan bukan hanya sekedar Bartender tetapi dia juga merupakan tangan kanan David di dalam mengelola Bar ini. Hubungan mereka sangat erat, bukan hanya sekedar atasan dan bawahan, mereka juga bersahabat dari dulu. Itulah sebabnya Iwan terlihat sangat akrab sama David.


"Bos, kalau mau membuang Scarlet, aku akan menikahinya." ujar Iwan menatap David yang sibuk menyesap minumannya.


"Boleh saja, kalau sudah bosen melihat Matahari esok pagi." sahut David dingin. Iwan terkekeh geli.


Iwan tidak mengerti jalan pikiran David, dia senang dengan Scarlet tapi sekarang dia malah membiarkan gadis itu pergi sendirian.


*****

__ADS_1


__ADS_2