SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
MANDA SANG MUCIKARI


__ADS_3

Sebulan telah berlalu semenjak David kehilangan Scarlet . David baru saja tiba di Bar saat Iwan datang menghampirinya. Dia duduk di kursi Bar, disamping David. Terlihat wajah Iwan kusut, mungkin karena sering begadang atau banyak pikiran.


"Aku penasaran dengan hilangnya Scarlet. Jejaknya hilang tidak berbekas sama sekali." kata Iwan menatap David, dia kasihan melihat laki-laki itu begitu murung setelah kehilangan Scarlet.


Iwan lalu mengambil red wine glass, serta menuangkan sedikit Red Wine.


"Minum bos.." Iwan menaruh minuman itu di atas meja di depan bos nya. David mengambil minuman itu menggoyangkan gelasnya dan menghirup bau earthy.


"Lala terus ke rumah, dia seperti momok yang menakutkan, aku takut pulang saat mabuk. Dia mencari kesempatan aku lengah."


"Tinggal di Apartemen saja bos, hindari wanita begitu. Saya sarankan supaya bos menutup semua akses, jangan sampai dia bertemu dengan bos. Perempuan begitu suka nekad."


"Kadang mama juga ikut campur, alasannya ingin cepat punya cucu, yang menyakitkan dia menuduh Scarlet mandul." kata David kesal, dia lelah dengan ocehan mamanya yang selalu menyudutkan Scarlet.


"Bagaimana kalau bos mencoba mencari hiburan ke tempat lain, misalnya ke Barista?"


"Malas, sebelum Scarlet ketemu lebih baik aku mengurung diri. Kerja juga tidak fokus, separuh jiwaku terbawa oleh Scarlet."


"Bos, disini banyak yang baru dan semua bening-bening, apa tidak tergoda?"


"Amit-amit, jangan sampai aku kena pengaruh wanita nakal. Aku tidak selera, aku takut kena penyakit." jawab David menoleh kepintu masuk. Matanya tiba-tiba menangkap sosok yang sangat familiar, Manda, wanita itu tampak berjalan tergesa-gesa dan duduk di sebuah kursi.


David akhirnya memutuskan untuk mendekati Manda dan saat David tiba, Manda tersenyum kocak.


"Tumben kelayapan, jangan menculik bidadari disini" kata Iwan yang ikut mendekati Manda. Manda mencibir.


"Disini tidak ada apa-apanya bro, Barista sekarang lagi booming, ada bidadari tiba-tiba jatuh dari langit."


"Masih perawan?" tanya Iwan tanpa basa basi. Manda lalu menggeleng singkat, kentara sekali kalau dia malas membahas bidadari yang dia maksud.

__ADS_1


"Aku tidak suka basa-basi, kamu lanjutin ceritamu yang terlanjur membuat aku penasaran." timpal David.


"Bagaimana kalau kita langsung bicara masalah harga dan bidadari itu bisa pindah kesini." tawar Iwan.


"Ini tidak di lelang atau apapun namanya. Dia baru semalam menari para bos sudah ngantre menawar. Aku masih tahan, masalahnya...." Manda tidak melanjutkan ucapannya tatapannya kosong ke depan. Dia menghembuskan asap rokoknya berulang kali.


"Apakah kamu mencintainya?" tebak Iwan. Manda adalah seorang lesbian, istilah ini di peruntukan bagi wanita yang mengarahkan orientasi seksual kepada sesama perempuan.


"Dia beda, tidak silau dengan uang. Aku belum bisa menyentuhnya lebih jauh, karena aku takut kehilangan dirinya. Seminggu aku berperang dengan perasaanku, antara uang dan keinginan memilikinya. Akhirnya aku putuskan untuk mencetaknya menjadi penari pole dance, targetku para bos yang melempar duitnya, tapi tidak bisa menyentuhnya."


"Genius,!! ngomong-ngomong, kita boleh donk ikut melempar uang?"


"Malam ini hari kedua dia tampil, kartu nama dari para bos menumpuk, penawaran terus berdatangan, aku tinggal pilih yang penawaran tertinggi."


"Katamu untuk menjadi milikmu, ngomong bolak balik." ketus Iwan. Manda menyeringai tidak peduli.


David mengangkat bahunya sambil menyesap wine yang di suguhkan oleh Iwan. Dia sangat tertarik dengan cerita Manda, tapi saat ini dia tidak ingin membuang waktu di tempat Manda, apalagi hanya menonton seorang penari pole dance. Bila ada penari striptis di depannya dia tidak tertarik. Menurutnya itu rugi.


"Sepertinya kita sama-sama terjebak dalam cerita Manda dan dia kesini hanya minum sebotol bir, situasi ini tidak menguntungkan bagi kita." sindir Iwan membuat Manda tertawa ngakak.


"Kalau begitu kita bernasib sama, sama bodohnya hahaha." sahut David ikut tertawa.


"Karena kita sudah bertemu, tidak ada salahnya kalau kita berangkat bareng ke Barista. Lagipula aku butuh modal dari bos, aku kurang biaya operasional untuk membuka tempat pole dance."


"Tanam impianmu untuk meminjam uang, bos lagi stres. Tidak boleh ada pinjaman tahun ini, yang pasti akan ada penagihan." sahut Iwan.


"Yaelah bang, aku butuh satu miliar saja. Nanti aku perkenalkan dengan bidadari sorga, asal jangan abang ke cantol."


"Aku tidak terpukau dengan asetmu, tawari bos saja, siapa tahu stresnya bisa hilang melihat pole dance." kata Iwan datar, gara-gara Scarlet hilang, pikirannya juga menjadi ikut kacau. Kesana kemari tidak mendapat hasil, Scarlet bak di telan bumi.

__ADS_1


"Aku juga tidak tertarik. Kamu bilang dia sudah menari, sekarang pinjam modal untuk operasional, maksudmu apa?" sahut David ragu.


"Operasional bos, bikin tempatnya yang mewah, sekarang ini aku pinjam tempat live musik, kalau ragu ini nomor penariku, siapa tahu bos ingin menyewa dia untuk menjamu tamu atau memeriahkan panggung hiburan di Bar ini atau di Hotel, asal jangan keblabasan. Ini penari tidak untuk diajak ke tempat tidur." jelas Manda. David mengangguk.


"Aku akan meminjamkan satu miliar, asal bayar tepat waktu. Untuk selanjutnya kamu bisa berurusan dengan Iwan."


"Syukurlah. Ku pikir bos tidak bisa diajak kerja sama. Aku bahkan sudah putus asa mengatur operasional." ucap Manda terkekeh, dia sangat senang bisa di percaya oleh David. Bos besarnya memang sering meminjam uang kepada David, David di kenal sangat dermawan dan sering membantu pengusaha kecil.


"Ngomong-ngomong, kalian mau pesan makanan, ini sudah waktunya makan siang." tanya Iwan yang perutnya sudah keroncongan.


"Boleh juga. Kebetulan aku pagi belum sarapan." jawab Manda.


Akhirnya mereka bertiga menikmati santap siang bersama dan berbagi pengalaman. Ternyata Manda dulu adalah wanita normal, semenjak keluar dari penjara dia menjadi lesbi. Dia Juga pernah menjadi istri, hanya saja dia di selingkuhi oleh suaminya.


"Maka dari itu aku kasihan kepada perempuan ini, suaminya mungkin selingkuh dan dia dijual oleh pacar suaminya." kata Manda mengingat Scarlet yang sering menangis.


"Laporin ke polisi kenapa malah kamu dekep orangnya, siapa tahu dia orang baik-baik."


"Memang orang baik-baik bos, kalau aku lepasin bos besarku akan marah. Aku sekedar mucikari recehan, mana berani melawan bos."


"Banyak alasan, bilang saja kamu sudah jatuh cinta sama penarimu." kata Iwan. Manda terkekeh.


Selesai makan, Manda memutuskan untuk kembali ke Club. Kali ini dia akan membelikan pakaian yang merangsang untuk penarinya supaya penonton menggila.


"Bos trimakasih, aku mau cabut dulu, gadisku pasti sudah bangun." kata Manda berdiri, dia mengambil sebatang rokok dan mengisapnya dalam-dalam.


"Oke..good luck!!"


*****

__ADS_1


__ADS_2