
Setelah Hans menaiki pesawat dan tak terlihat lagi
Saina pun terkulai lemas lalu Karin memeluk Saina .
Saina tak dapat lagi menahan air matanya.
dia menanggis sesunggukan sambil memeluk Karin.
Ya tadi Saina menahan dirinya untuk tidak menanggis didepan Hans , agar Hans gak merasa khawatir atau berat meninggalkannya.
Saina sadar kalau dia ikut pasti Hans akan kesulitan menghadapi para awak media maupun menghadapi keluarganya .
Saina tahu diri posisinya sekarang ini belum bisa diterima oleh keluarga besar Hans.
Apalagi Saina sudah menduga bahwa sakitnya Bu Hani Mama nya Hans pasti karena berita itu.
Dan itu berarti semua itu karena dirinya.
Walaupun tidak secara langsung dialah penyebab Bu Hani jatuh sakit.
Saina gak mau Hans nantinya merasa menyesal karena dia merasa bersalah sudah menyebabkan Ibunya sakit.
Saina gak ingin karena dirinya Hans menjadi dilema .
Saina gak ingin Hans mengabaikan kebahagian orangtua dan seluruh keluarganya hanya karena dirinya.
Karena dia sadar dia bukanlah seorang yang istimewa yang bisa membuat keluarga Hans bisa menerimanya.
"Sudah Na Ayo kita pulang gak enak dilihatin orang."Ajak Karin kepada Saina
Sementara Bram hanya mengawasi Saina dan Karin .
"Ya Rin ayo kita pulang." ajak Saina kepada Karin sambil menghapus air matanya mencoba tersenyum kepada Karin.
Saina menarik nafasnya berlahan lahan lalu menghembuskannya berulang kali, sampai dia benar merasa lega dan plong karena sudah mengeluarkan rasa sedih yang coba ditahannya tadi di depan Hans.
"Bram aku mau pulang saja ." Ucap Saina kepada Bram.
"Ya sebaiknya kau pulang kerumah biar karin untuk sementara menemanimu , Aku sudah mengatur agar untuk beberapa hari ini kalian libur gak masuk kantor dulu sampai situasi kembali normal.
"Barang barang Kau dan Karin yang masih tertinggal dihotel ,Sudah Aku perintahkan untuk dikemas dan dikirim kerumahmu nanti.
"Ayo aku akan antar kalian sampai kerumah ."Ucap Bram kepada Saina dan Karin.
Saina hanya menganguk mengikuti langkah kaki Karin dan Bram yang berjalan disebelahnya.
__ADS_1
Mereka pun kembali menuju rumah Saina dalam satu Mobil sedangkan Mobil yang satu lagi mengikuti dari belakang.
Selama diperjalanan Saina hanya diam memandang Hampa keluar . Karin yang duduk disampingnya hanya bisa memandangi Saina membiarkan Saina dengan pikirannya.
Sesampainya didepan rumah Nenek, Saina dan Karin pun turun .
Brampun ikut turun.
"Na .."Panggil Bram kepada Saina.
Saina mendongok menatap Wajah Bram yang ada didepannya dan Karin.
"Mereka akan ikut tinggal disini ."Ucap Hans sambil menunjuk seorang pengawal pribadi Hans dan seorang supir.
"Untuk apa mereka disini."Ucap Saina mengeryit tak mengerti dengan Maksud perkataan Bram.
"Mereka disini untuk memastikan keselamatanmu dan untuk bisa menjaga dan mengantar kemanapun kau ingin pergi.
"Semua itu atas perintah Hans karena dia ingin memastikan keselamatanmu selama dia tak ada disini.
"Tapi itu bukannya terlalu berlebihan ."ucap Saina kepada Bram
"Aku bisa menjaga diriku sendiri kurasa aku tak membutuhkan mereka ."Ucap Saina lagi.
"Ini sudah menjadi perintah Hans dan kau tahu dia tak suka untuk dibantah.
Saina terdiam sembari berpikir ,dan pada akhirnya Saina pun setuju .
"Nak Saina sudah pulang "Seru Bi Darmi merasa senang melihat Saina.
"Iya Bi ."jawab Saina sambil tersenyum kepada Bi Darmi orang yang tinggal bersama mereka untuk membantu pekerjaan rumah disana.
"Nenek dimana bi?"Tanya Saina kepada Bi Darmi.
"Nenek didalam baru saja mau sarapan ?Jawab Bi Darmi lagi.
"Siapa Dar "Terdengar Suara Nenek yang bertanya dari dalam .
"Kau sudah pulang Na."seru Nenek dengan suara senang, Sambil keluar memeluk Saina.
"Senangnya cucunya dah pulang "Ucap Karin Melihat sambil cemberut.
"Oh cucu Nenek yang cerewet ini juga ada disini." Ucap Nenek sambil memeluk Karin juga.
Ya Karena seringnya mereka bersama Nenek Sri juga sudah menganggap Karin dan Sarah sebagai cucunya juga.
__ADS_1
"Pemuda tampan ini siapa?" tanya Nenek kepada Saina dan Karin ketika melihat Bram yang berdiri tak jauh dari tempat Karin berdiri.
"Oh itu."Perkenalkan Itu namanya Bramantyo suseno calon suaminy Karin ."Ucap Saina menjelaskan status Bram.
Karin mendelik mencubit pinggang Saina mendengar jawaban Saina tadi wajahnya pun berubah merah karena malu.
"Ya Nek perkenalkan Saya Bram calon suami cucu Nenek Yang cerewet ini ."Ucap Bram sambil menyalami Nenek dan tersenyum melihat ke arah Karin.
"Oh jadi ini calon mantu Nenek Ayo masuk , kalian pasti pada belum sarapan ," Ucap Nenek sambil mengajak Bram masuk .
Karin dan Saina hanya bisa tersenyum kecut ketika Nenek Sri mengandeng Bram mengajaknya masuk dan membawanya keruang makan.
Saina teringat para pengawal dan supir mereka pasti belum sarapan , lalu Saina menghentikan langkahnya
lalu keluar mengajak pengawal dan supir untuk masuk dan sarapan bersama mereka.
"Bi Darmi dengan cekatan menambah beberapa peralatan makan lagi untuk supir dan para pengawal.
para pengawal dan supir tadi sebenarnya sudah menolak halus ajak kan Saina karena merasa segan harus makan semeja dengan istri Bos mereka.
Tapi Saina memaksa mereka untuk masuk dan sarapan bersama.
Akhirnya merekapun masuk dengan perasaan segan.
"Nek ini pak supir dan pengawal dikantor yang mengantar kami pulang tadi , mereka juga belum pada sarapan ,Bolehkan mereka sarapan bersama kita?"Tanya Saina kepada Neneknya.
"Oh ya tentu boleh." Makasih sudah mau mengantarkan cucu cucu Nenek pulang dengan selamat sampai kerumah ."Ucap Nenek Sambil mempersilahkam mereka untuk duduk.
Dimeja sudah tersedia masakan Nenek dan Bi darmi
yang cukup banyak ada sambal terasi sayur asem dan goreng ikan dan ayam . dalam jumlah yang banyak.yang cukup dimakan untuk beberapa orang.
Ya Nenek Sri memang selalu memasak lebih setiap hari , karena Nenek Sri selalu membagikan masakan yang dimasaknya kepada para tetangga disekitar rumah yang kesusahan.
Dia juga kadang memberikan makanan untuk anak anak yatim yang ada dipanti asuhan yang terletak didekat rumah mereka.
Dan itu sudah dilakukan Nenek Sri selama bertahun tahun dia berprinsip bahwa rezeki yang mereka dapatkan bukan hanya milik mereka tapi juga merupakan rezeki orang orang disekitar mereka
**Ya selama kita mau selalu bersyukur dan mau berbagi kepada sesama kita tak akan pernah kekurangan.
Rezeki akan selalu datang dari arah yang gak pernah kita duga.
Seperti apa yang selama ini dilakukan Nek Sri yang selalu ikhlas dalam memberi tanpa menginginkan pujian ataupun imbalan.
walaupun Nek Sri hidup sederhana bersama cucu cucunya .
__ADS_1
selama ini mereka hidup dari hasil kebun yang dikelola orang kepercayaan Nek Sri.
Dan karena kebaikan Hati Nek Sri semua pekerja maupun tetangga sangat menghormati dan menyayangi Nek Sri .