SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-28


__ADS_3

Keesokan harinya, Aaron dan Ellena sarapan bersama.


Kebetulan hari ini weekend, mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


"Sayang, kau ingin melakukan apa hari ini?", tanya Aaron.


"Tidak ingin kemana-mana, aku ingin menghabiskan waktu di rumah saja membaca buku dan belajar memasak makanan kesukaan mu, bolehkan?" tanya Ellena.


"Tentu saja boleh", jawab Aaron tersenyum sambil mengusap rambut hitam bergelombang Ellena.


"Setelah ini kita pulang ke rumah", ucap Aaron sambil menyeruput teh herbal hangat nya .


*


"Ellena, kemungkinan bulan depan aku akan mengajak mu menemui orang tua ku di Amerika. Sekalian kita melakukan traveling bulan madu kita yang sudah tertunda", ucap Aaron saat berada di dalam mobil yang dikendarainya dengan kecepatan sedang melintasi jalanan pusat ibu kota.


"Ehh...sayang, bagaimana jika kedua orang tua mu tidak menyetujui ku. Aku berasal dari keluarga sangat sederhana bagaikan langit dan bumi dengan keluarga mu. Pendidikan ku juga terputus ditengah jalan karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkannya", jawab Ellena sambil menundukkan kepalanya.


"Kau tenang saja, kedua orang tua ku adalah orang yang moderat mereka tidak melihat kasta dalam suatu hubungan. Aku yakin kau dan mama ku akan cepat akrab karena mama orang yang menyukai kesederhanaan", jawab Aaron sambil menggenggam tangan Ellena.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Bagaimana dengan ayahmu?", tanya Ellena ingin mengetahui sekilas tentang ayah mertuanya.


"Papa sama seperti ku, ia keras dalam bekerja tetapi lembut saat menjadi suami dan kepala keluarga".


"Ehm.. seperti nya keluarga mu, keluarga yang menginspirasi, sayang. Aku sangat menginginkan keluarga yang hangat seperti itu. Menurut ku materi bisa dicari tetapi kehangatan dalam suatu hubungan keluarga tidak pernah akan terulang jika sudah mengalami kehancuran. Jadi, kita harus menjaga dan merawat dengan baik sebuah hubungan itu", seru Ellena sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Aaron yang sedang mengendarai mobil menuju rumah mereka di distrik kota Jakarta.


Setelah berapa lama berkendara mobil itu sudah berhenti di carport kediaman Aaron.


Ellena dan Aaron bergenggaman tangan memasuki rumah. Pelayan yang melihat pun menyapa dan membungkuk kan kepalanya dengan hormat.


Bi Darsi yang melihat kehadiran Ellena di pantry, segera menyapanya.


"Selamat pagi nyonya, apa yang nyonya lakukan di pantry nanti pakaian nyonya bisa kotor loh", ucap bi Darsi.


"Bibi sedang membuat apa?"


"Bibi sedang membuat brownies panggang untuk kudapan sore nanti, ini resepnya nyonya besar. Tuan Aaron menyukai nya", jawab bi Darsi tanpa mengalihkan pandangannya karena masih fokus pada adonan.

__ADS_1


"Ehm bibi bisa mengerjakan yang lain, sementara aku melanjutkan membuat adonan itu", ucap Ellena pada Darsi.


"Jangan, nanti nyonya kotor", sela bi Darsi tidak enak.


"Tidak apa-apa bi, aku sudah diizinkan suami ku kok membuat cemilan untuk nya", jawab Ellena.


Akhirnya Darsi mengizinkan Ellena membantunya berkutat di pantry.


Tampak Ellena antusias mempelajari resep yang di catat bi Darsi. Ia mengikuti step by step cara pembuatannya. Dan juga mengikuti beberapa petunjuk tehniknya agar menghasilkan brownies yang lembut dan tidak seret di tenggorokan saat menelannya.


Dengan sesekali Ellena tertawa mendengar ucapan bi Darsi.


Mereka tidak menyadari Aaron sudah bersandar di pintu pantry melihat semua aktivitas keduanya di pantry.


Aaron senang melihat istrinya bisa tertawa lepas seperti itu.


"Aku akan selalu membuat mu tertawa bahagia, sayang", batinnya meninggalkan pantry dan menuju ruang kerjanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2