
"Apa perut mu sudah lapar?", tanya Rayend saat ia dan Tiya sudah berada di dalam mobil.
"Belum. Bahkan aku tidak lapar sama sekali. HM... lebih tepatnya kenyang", jawab Tiya tersenyum duduk di samping Rayend yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini kota Jakarta masih di guyur hujan. Menambah suasana romantis diantara pasangan yang baru jadian itu.
"Kalau kau belum terlalu lapar kita lunch ditempat romantis. Tapi tempatnya cukup jauh".
"Kita mau kemana kak? Sekarang hujan", tanya Tiya menatap Rayend yang tersenyum.
"Kau akan segera tahu", jawab Rayend sambil menarik gemas ujung hidung kekasihnya itu.
"Uh, main rahasia segala", balas Tiya cemberut. Rayend tertawa melihat Tiya seperti itu.
"Kenapa kakak ketawa, tidak ada yang lucu".
"Kau tahu, tingkah mu itu mengingatkan aku pada pertemuan pertama kita di toko buku tempo hari Tiya".
"Uh...Jangan di ingat lagi, aku sangat malu atas kejadian itu kak. Hm, apa lemparan ku benar menyakiti mu?", tanya Tiya merubah posisi duduknya menghadap Rayend.
"Tentu saja, bahkan jika aku sendirian aku masih sering merasakan kesakitan di leher bagian belakang, akibat ulah mu", ucap Rayend serius.
__ADS_1
"Hah? Benarkah? Mana... coba aku periksa", ucap Tiya spontan menyentuh leher bagian belakang Rayend sambil mengangkat wajahnya melihat dengan teliti bagian yang terkena lemparan buku akibat ulahnya waktu itu.
Tindakan Tiya menyentuh lehernya bukannya membuat Rayend tenang tapi berakibat fatal. Tubuhnya mendadak panas. Bahkan air conditioner mobil mewah nya tidak mampu mendinginkan tubuhnya. "Ah shitt..."
Mobil yang sedang melaju itu tiba-tiba menepi. Sampai-sampai Tiya di buat kaget. "Kenapa menepi?".
"Agar kau bisa memeriksa ku dengan teliti dan benar", balas Rayend dengan cepat dan penuh makna. Bahkan ia membuka beberapa kancing kemejanya agar kekasihnya bisa menurunkan kerah baju nya.
Ternyata memang benar, Tiya melakukannya seperti apa yang ada dipikiran Rayend. Bahkan gadis itu mengangkat tubuhnya bertumpu pada lututnya yang ada di atas jok mobil. Tiya melihat kondisi leher Rayend. Mengusapkan jemari tangannya dengan lembut. Sementara Rayend menundukkan kepalanya sambil menahan tawanya dan menikmati sentuhan lembut jemari lentik Tiya.
"Tidak ada apa-apa kok, semuanya baik", ucap Tiya serius dan kembali duduk dengan benar di kursinya.
"Oh begitu ya?".
"Di sini", ucap Rayend sambil membawa jemari tangan Tiya menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Sementara kedua netra hitam itu tak sedetikpun mengalihkan perhatiannya pada sorotan lembut manik Tiya.
"K-kak...", ucap Tiya dengan suara bergetar ketika merasakan debaran jantung Rayend. Begitupun dirinya yang kesulitan mengendalikan degup jantung nya sendiri.
Wajah Rayend mendekati wajah cantik kekasihnya itu. Detik berikutnya bibirnya menyentuh bibir mungil Tiya. Mengecupnya pelan. Rayend merasakan bibir dingin Tiya yang bergetar.
__ADS_1
Menerima tindakan Rayend, Tiya terdiam tak bergeming. Rayend merasakan Tiya tidak protes dengan tindakannya, membuat Rayend semakin memperdalam ciumannya.
Yang awalnya hanya sebuah kecupan ringan berubah menjadi lu*atan bergairah yang penuh hasrat. Keduanya terhanyut dan terbuai. Bahkan Tiya membuka mulutnya, meskipun ia tidak membalas ciuman itu. Namun bagi Rayend yang sudah berpengalaman, itu sama saja dengan memberinya izin.
Saat ini hujan deras kembali turun. Menambah suasana romantis dan sejuk. Namun di dalam mobil itu hawa terasa panas sekali.
Menit berikutnya Rayend menyudahi ciuman mesra itu. Tiya yang seperti terhipnotis perlahan membuka matanya dan mengendurkan Cengkraman tangannya pada lengan Rayend.
Rayend masih menempelkan keningnya pada kening Tiya sementara kedua tangannya membingkai wajah mungil gadis itu yang memucat. "Ah sayang aku benar-benar tidak bisa menahan diri ku maafkan aku".
"Aku tidak tahan jika harus menunggu mu wisuda dua-tiga tahun lagi, sayang. Aku tidak tahu apakah bisa menahan diriku untuk tidak menyentuh mu dan terus menjaga tubuh mu hingga selama itu", ucap Rayend menatap lekat wajah Tiya yang nampak masih syok dengan nafas menderu.
Keduanya bertatapan mesra, namun menit berikutnya Tiya memeluk erat pinggang Rayend dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang laki-laki itu.
Terlihat gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam.
"Apakah kakak akan menepati janji kakak, setelah kita menikah aku tetap boleh menyelesaikan kuliah ku?", ucap Tiya pelan.
"Tentu saja. Kau boleh melanjutkan kuliah mu. Yang akan berubah hanya status mu. Jika sudah menikah kita berdua sama-sama menjaga status pernikahan kita. Tentu saja aku tidak mau kau dekat dengan laki-laki manapun lagi. Begitu juga dengan ku, aku janji hanya kau lah wanita ku. Dan satu lagi aku tidak mau menunda kehamilan. Usia ku terus bertambah, aku sangat menginginkan anak dari wanita yang aku cintai", tegas Rayend.
__ADS_1
Tiya memejamkan matanya sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Rayend. "Kalau begitu aku bersedia menjadi istri mu kak. Aku mencintaimu kak Rayend...Ayo kita menikah!"
...***...