SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-62


__ADS_3

"Tapi sebenarnya pertanyaan kak Marsha benar juga, kenapa kakak mau mengantar ku. Kakak pasti sangat sibuk setelah menjadi pemimpin perusahaan menggantikan papa", tanya Rianti bertanya pada Rayend yang fokus mengendari mobil mewahnya.


Rayend tersenyum mendengar pertanyaan Rianti. "Dari dulu kakak kan sayang kepada kalian, jadi tidak ada yang aneh bukan?"


Rayend mengusap tengkuknya. "Hm...jadi teman akrab mu hanya Tiya dan Marcella?"


"Iya. Kalau yang dekat hanya mereka berdua".


"Kapan kau dan teman-teman mu itu akan wisuda?", tanya Rayend absurd. Membuat Rianti aneh dengan pertanyaan itu.


"Sekarang kami semester empat. Tapi sepertinya Tiya bakalan duluan deh wisudanya. Dia sangat pintar, IPK-nya di tiga semester kemarin begitu sempurna. Sementara aku dan Marcella di bawah nya. Tapi wajar Tiya berhasil seperti itu karena ia di terima di fakultas kedokteran tanpa tes. Aku beruntung berteman dengannya karena ia sering sekali mengajari ku", ucap Rianti.


"Artinya masih sekitar dua-tiga tahun lagi tamat kuliah, lama juga ya", gumam Rayend menggaruk kepalanya dengan pandangan masih fokus menyetir mobilnya.


Rianti merubah posisi duduknya dan menatap penuh selidik sang kakak. "Kenapa kakak tanya-tanya begitu? Jangan bilang kakak menyukai temanku Tiya", tanya Rianti menatap lekat wajah tampan Rayend. "Tapi Tiya membenci kakak, karena buku yang kakak beli untuk ku kemarin. Kemarin pagi ia sangat kesal saat sampai ke kampus. Aku tidak tahu bahwa laki-laki yang membuat kesal itu ternyata kakak".


"Oh ya? Dia bilang begitu kepada mu? Apa yang teman bilang tentang kakak mu, hem?".

__ADS_1


"Laki-laki tua brengsek...", jawab Rianti.


Mendengar jawaban itu membuat Rayend tersenyum.


Menit berikutnya Rayend membelokkan mobilnya ke jalan menuju rumah Tiya.


Rianti menyadarinya. Ia semakin menatap selidik wajah Rayend.


"Kenapa kakak bisa tahu rumah Tiya? itu yang ingin kau tanyakan?", ujar Rayend sambil mengucek rambut adiknya yang duduk di sebelahnya. "Kakak sudah beberapa kali mengantar Ellena pulang kerumahnya".


Menit berikutnya mobil mewah itu berhenti tepat di depan pagar rumah bercat putih bersih itu. Sementara Rianti turun, Rayend menatap kondisi rumah Tiya yang sudah berubah, walaupun tampak depannya masih seperti dulu. Dan bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan rumah itu masih tertata dengan rapi.


Rayend memasang kaca mata hitamnya ketika kedua gadis itu hampir sampai ke mobilnya.


Tiya terdiam saat mengetahui Rayend lah yang berada di belakang kemudi. Sekilas ia menatap laki-laki itu dari belakang.


"Kenapa kau duduk di belakang juga Riri, aku bukan sopir", ketus Rayend pada adiknya yang hendak duduk di sebelah Tiya.

__ADS_1


"Sebentar lagi sudah mau sampai kampus juga. Kakak ini cerewet sekali", balas Rianti tidak memperdulikannya.


Jarak rumah Tiya ke kampus searah dan tidak begitu jauh. Rayend sengaja mengulur waktu sampai ke kampus adiknya. Laki-laki itu mengendarai mobil sangat lamban, bukan tanpa alasan. Rayend ingin menatap lebih lama wajah cantik yang duduk tepat di belakangnya.


Dengan kacamata hitam bertengger di wajah Rayend membuat laki-laki itu leluasa mencuri pandang ke bangku belakang melalui kaca spionnya. Beberapa kali Rayend mengusap-usap tengkuknya dan berdehem.


Begitupun Tiya, perasaannya campur aduk mengetahui Rayend lah yang mengantar mereka bukan mang Sapri yang biasa mengantar Rianti. Beberapa kali juga gadis itu menatap kaca spion yang mengarah padanya.


Beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai Rayend memasuki kawasan kampus tempat Rianti dan Tiya menuntut ilmu. Mobil tepat berhenti di parkiran fakultas kedokteran. Rianti langsung turun dan menutup pintu bagiannya.


Tiya baru hendak membuka handle pintu bagiannya, ketika tangan kokoh Rayend menghentikannya. "Malam besok aku akan menjemput mu. Kau tidak lupa kan dengan ucapan ku semalam? Kalau tidak aku akan menambah hukuman mu karena sudah melempar ku dengan buku tebal kemarin". Ucapan Rayend bernada ancaman mampu membuat Tiya terdiam sesaat.


"Kau cantik hari ini, aku menyukainya...", ucap Rayend menatap Tiya di balik sunglasses.


Sekilas Tiya menatap Rayend dengan mulut terbuka. Namun gadis itu tetap diam, tidak ada yang keluar dari bibirnya. Kaget dan merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya saat ini, ketika keluar dari mobil itu.


Tiya menatap mobil Rayend yang melaju perlahan, meninggalkan ia dan Rianti yang masih berdiri di tempatnya. Keduanya segera melangkahkan kaki mereka. Namun yang ada di kepala Tiya masih terngiang ucapan Rayend beberapa saat yang lalu. "Kau cantik dan aku menyukainya". Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Ada apa dengan ku dari semalam memikirkannya.

__ADS_1


"Rayend pasti sudah memiliki kekasih. Bahkan semalam saja banyak gadis cantik menghampirinya termasuk wanita yang menjadi model parfum, selalu dekat Rayend sampai sesi foto pun mereka berdekatan. Uhh", batin Tiya.


...***...


__ADS_2