
Dengan tidak semangat Ellena beranjak dari tempat duduknya. Bahkan beberapa kali ia menolehkan kepalanya ke belakang dan mengedarkan pandangannya ke semua penjuru siapa tahu seseorang yang di harapkan nya akan datang tepat waktu. Namun kenyataannya nihil.
Dengan langkah gontai Ellena melangkahkan kakinya menuju petugas yang nunggu di pintu masuk, mengecek satu persatu tiket penumpang dengan tujuan Jakarta.
"Aah Aaron benar-benar sudah melupakan aku. Bahkan ia tidak menelepon ku barang sebentar saja", ucap Ellena pada dirinya sendiri.
"Aku tidak suka menelpon seseorang, lebih baik aku katakan langsung di hadapan orangnya. Kenapa kau sepertinya tidak semangat begitu pulang ke Jakarta, hem? Apakah karena aku?".
Tiba-tiba suara yang sangat di nantikan Ellena kehadirannya menginterupsi pikiran Ellena.
Ellena menghentikan langkahnya. Tanpa menolehkan kepalanya kebelakang. Sesaat Ellena menggelengkan kepalanya. "Aku berhalusinasi".
"Kau tidak berhalusinasi Ell".
__ADS_1
Spontan Ellena memutar badannya menatap sosok laki-laki yang sangat di rindukannya berdiri tepat di hadapannya saat ini.
Ellena terdiam mematung di tempatnya dengan mulut terbuka dan mata berkaca-kaca. Melihat istrinya seperti itu Aaron segera mendekap tubuhnya, dan menenangkan kondisi Ellena. "Ayo kita pulang ke Jakarta", ucap Aaron.
Belum Ellena menjawab, petugas menghampiri mereka. "Maaf tuan, nona...anda harus segera masuk sekarang karena pintu akan segera di tutup.
Ellena mengurai pelukannya. Sementara Aaron menganggukkan kepalanya. "Kita harus masuk pesawat sekarang", ucap Aaron mengusap wajah pucat Ellena.
Ellena menganggukkan kepalanya. Lidahnya masih kelu. Namun perasaannya tidak bisa di pungkiri sangat... sangat bahagia begitu mengetahui suaminya ternyata memang datang ke bandara sebelum keberangkatannya dan ikut terbang bersamanya juga.
Aaron menggenggam erat jemari tangan Ellena menuju pesawat komersil.
"Sayang, kau tidak apa-apa karena aku ikut penerbangan kelas ekonomis. Pastinya tidak ada privacy", ucap Ellena sambil berlari-lari kecil mengimbangi langkah cepat Aaron.
Aaron tersenyum mendengar perkataan Ellena. Ia menghentikan langkah kakinya. Dan menatap Ellena dengan lembut. "Tentu saja penerbangan selama 21 jam semuanya akan baik-baik saja asalkan bersama mu", jawab Aaron mengecup lembut bibir istrinya. Yang berganti dengan lu*atan berhasrat.
"Maat tuan-nona kalian harus segera masuk pesawat sekarang!".
Lagi-lagi keduanya di ingatkan petugas. Kali ini awak kabin lah yang mengingatkan karena Aaron dan Ellena tepat berada di pintu masuk pesawat Boeing berukuran besar tersebut.
"Kita harus masuk pesawat sekarang", ucap Ellena sambil menyerahkan tiketnya kepada petugas. Begitu juga Aaron menyerahkan tiketnya yang sudah di pesan William tadi malam. Saat berada di ruang kerjanya di mansion Aaron segera memerintahkan William memesan tiketnya bagaimana pun caranya ia harus mendapatkan tiket itu.
__ADS_1
Saat di dalam pesawat, terlihat ramai orang-orang berwajah Indonesia dan maupun bule. Mungkin mereka berkunjung ke Indonesia untuk bekerja ataupun sebagai wisatawan asing.
Ternyata tempat duduk Ellena dan Aaron terpisah. Bukan Aaron namanya jika tidak pandai bernegosiasi. Dengan alasan istrinya sering mengalami mabuk saat penerbangan, Aaron berhasil membuat orang yang duduk di sebelah Ellena bertukar tempat dengannya.
"Ck...Kau ini, begitu pandai berbohong", ucap Ellena.
Sambil memasang sabuk pengaman miliknya. "Yang penting aku duduk di samping mu. Memangnya kau mau duduk dua puluh satu jam berdampingan dengan laki-laki tadi... orang asing? Tidak akan pernah aku izinkan Ellena...!"
...***...
YUK BACA JUGA:
PENGANTIN PENGGANTI
MARRIAGE AGREEMENT
AIR MATA SCARLETT
MENJADI YANG KEDUA
__ADS_1
FIRST LOVE LAST LOVE