
Waktu terus bergulir, hari berganti hari..
"Sayang apa aku harus membawa pakaian kita banyak-banyak selama melakukan perjalanan ke Amerika?", tanya Ellena pada Aaron yang saat ini berada di atas tempat tidur masih bekerja. Kedua netra Aaron masih fokus pada layar iPad.
"Bawa sedikit saja. Disana aku sudah meminta asisten ku mempersiapkan perlengkapan kita", jawab Aaron tanpa mengalihkan perhatian nya.
"Baiklah, semuanya sudah selesai", ucap Ellena tersenyum. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi menggosok gigi dan memakai krim malam.
Ellena memoleskan bodylotion ke seluruh tubuhnya.
Harum lembut menyeruak. Aaron pernah bilang ia sangat menyukai aroma lembut tubuh Ellena.
Setelah selesai Ellena naik ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping Aaron yang masih sibuk membaca berkas-berkas.
Tak butuh waktu yang lama, Ellena sudah tertidur pulas. Aaron melihat istrinya itu sekilas, dan mengusap wajahnya. Aaron tersenyum. Kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya, karena besok ia dan istrinya akan terbang ke New York menemui ke dua orang tuanya yang menetap di sana. Sekalian Aaron akan mengajak Ellena berbulan madu.
*
"Selama aku pergi kau yang menggantikan aku di perusahaan. Kau harus segera mengabari ku jika ada hal penting", ucap Aaron memberikan perintah kepada asisten nya.
"Baik tuan", jawaban Nico dengan hormat.
"Apa kebutuhan ku dan istriku selama di Amerika sudah siap?".
"Sudah tuan, semua sudah saya komunikasikan dengan William".
"Baik, sekarang kita ke bandara", ucap Aaron melangkah keluar ruangan.
Terlihat Ellena sudah siap. Wanita itu sudah siap. Ini penerbangan pertama untuknya. Tentu saja ada perasaan takut. Apalagi penerbangan pertama dan akan berada di udara selama hampir dua puluh dua ja. menuju kota New York.
Namun Aaron berhasil menenangkan perasaan Ellena. "Tidak perlu takut karena kau pergi bersama ku", ucap Aaron beberapa hari yang lalu.
*
Saat ini Ellena dan Aaron sudah berada di dalam pesawat pribadi. Ketika akan tinggal landas Ellena memejamkan kedua matanya. Perasaannya campur aduk. Yang ada di pikirannya bagaimana jika take off nya gagal, mereka semua pasti akan mati.
__ADS_1
Aaron tertawa melihat istrinya itu begitu menggemaskan. Namun ia maklum karena ini penerbangan pertama Ellena dan durasinya sangat lama.
Ellena merasakan ketenangan, bahkan tidak merasakan apapun yang terdengar hanya suara musik lembut. Ellena membuka kedua matanya. "Apakah kita sudah di surga?", tanyanya sambil melebarkan netra nya.
Aaron tersenyum mendengar perkataan Ellena. "Kau masih aman didalam pesawat. Perjalanan masih lama. Jika kau merasa mual sebaiknya tidur di kamar", ucap Aaron mengusap wajah Ellena yang terlihat pucat pasi karena ketakutan.
"Tapi kenapa kita seperti tidak terbang, rasanya seperti aku berdiam diri di rumah", ucap Ellena melototkan kedua mata indahnya.
"Kau ini sangat menggemaskan sekali", ucap Aaron mencubit ujung hidung istrinya.
Sesaat kemudian..
Terasa guncangan pesawat.
Spontan Ellena mencengkram kuat pergelangan tangan Aaron.
"A-da apa ini. A-pa sekarang kita akan benar-benar mati?", ucap Ellena dengan suara bergetar ketakutan. Wajahnya semakin memutih seperti tidak di aliran darah di tubuhnya.
Aaron menenangkannya. "Tenanglah, hanya sedikit guncangan. Sebaiknya kau kekamar saja ayo aku antar", ucap Aaron beranjak berdiri sambil menggenggam tangan Ellena.
Aaron membuka brazer berwarna biru mudah yang dipakai Ellena. Sekarang Ellena hanya memakai kemeja tipis berwarna putih di padukan dengan celana panjang tiga perempat berwarna senada.
Krekk ..
Pesawat terasa berguncang lagi. Ellena kembali menjerit ketakutan dan menghambur kepelukan suaminya.
"Tidak usah takut. Kau bersama ku", ujar Aaron mengangkat dagu Ellena dan me*umat bibirnya dengan lembut.
Ellena merasakan perasaannya sedikit tenang, tenyata ciuman Aaron manjur membuat perasaan ketakutan itu pergi darinya.
Suasana malam dan dingin di dalam kamar membuat Aaron yang tadinya hanya berniat ingin membuat perasaan Ellena tenang berubah menjadi gairah yang membuncah.
Aaron semakin memperdalam ciumannya, begitu pun Ellena merasakan ciuman Aaron bisa membuat rasa takut yang menguasai dirinya beberapa saat yang lalu pergi entah kemana. Saat ini keduanya berciuman dengan mesra. Hingga tubuh Ellena terhempas di atas tempat tidur berukuran sedang tersebut.
Satu persatu Aaron melucuti pakaian istrinya hingga polos. Kemudian ia membuka pakaiannya sendiri. Aaron menyerang Ellena, membuai area-area sensitif di tubuh istrinya itu.
__ADS_1
Guncangan pesawat sebenarnya semakin intens, namun tidak membuat Ellena menjerit ketakutan. Tapi jeritannya berubah menjadi jeritan kenikmatan saat Aaron menghentakkan miliknya ke inti Ellena yang sudah berkedut-kedut.
Tiga puluh menit berlalu..
"Ah sayang, aku sudah mau keluar", ujar Ellena dengan suara bergetar lirih menahan gairah tubuhnya yang semakin membuncah.
"Jangan di tahan sayang, keluarkan saja", bisik Aaron yang semakin menghujamkan miliknya di inti Ellena. Hingga ia merasakan miliknya berkedut dan merasakan pusat tubuhnya seakan mau meledak.
Aaron mengeluarkan erangan, sementara Ellena kembali menjerit-jerit. Keduanya melenguh panjang saat Aaron menyemburkan cairan hangat ke inti Ellena.
Keduanya kembali berciuman, dengan nafas yang masih menderu.
Untuk Aaron bercinta di atas ketinggian dan didalam pesawat adalah pengalaman pertama yang ia lakukan. Begitupun Ellena. Ini merupakan penerbangan pertama dan ia bercinta dengan suaminya.
Namun sekarang Ellena tidak takut lagi terhadap guncangan pesawat. Ia lebih menikmati dekapan erat Aaron yang masih memainkan dua gundukan kembar milik Ellena.
Yang pada akhirnya lagi-lagi tubuh keduanya memanas berakhir mengulangi permainan panas mereka.
...***...
KARYA EMILY LAINNYA :
FIRST LOVE LAST LOVE
MENJADI YANG KEDUA
PENGANTIN PENGGANTI
AIR MATA SCARLETT
MARRIAGE AGREEMENT
__ADS_1