SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-58


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di acara ku gadis kecil bodoh?".


Suara itu mengagetkan Tiya. Ia memang salah tapi memanggilnya dengan kata-kata bodoh rasanya terlalu berlebihan.


Sementara Rayend menatapnya tak berkedip. Laki-laki itu sangat terkejut begitu mengenali siapa gadis di hadapannya sekarang. Gadis yang telah membuat dirinya sial hari ini. Bahkan ini yang kedua kalinya gadis itu membuatnya lagi-lagi mendapatkan kesialan.


Meskipun gadis yang sekarang sangat berbeda seperti gadis yang ditemuinya di toko buku tadi pagi, namun Rayend sangat mengenalnya. Wajah itu tidak akan dilupakannya. Yang sudah berani berdebat dengannya bahkan melempar kepalanya dengan buku tebal. Belum pernah seumur hidupnya di perlakukan kasar begitu. Tentu perbuatan gadis itu menyulut emosi Rayend.


Meskipun rambut panjang itu ditata sangat pas dengan wajah dan bola mata yang bening, Rayend tetap mengingat nya.


"Maafkan saya pak", ucap Tiya lagi, memohon dan mendongak menatap wajah pria yang ditabraknya itu.


Sementara tangannya masih di dada Rayend.


Tiya melebarkan kedua matanya. Manik bening miliknya menatap lekat kedua mata Rayend yang sedang menghunuskan pandangan tajam intimidasi. Entahlah tatapan Rayend kali ini membuat tubuh gadis itu menjadi semakin gugup dan bergidik setelah bertatap mata dengan Rayend.


"K-au..."


"Ehmm..." terdengar dehaman di belakang tubuh Tiya.


"Apa yang kau lakukan Rayend", suara bariton milik Aaron menyadarkan Rayend dan Tiya yang berdiri begitu dekat. Sekilas terlihat begitu in*im.


Cepat-cepat Rayend menyingkirkan tangan Tiya yang masih menempel di dadanya.


"Tiya?", ujar Ellena kaget melihat adiknya ada di depannya. Ia tidak tahu kalau adiknya datang juga ke acara yang di selenggarakan oleh perusahaan Rayend.


Ellena menatap Tiya penuh selidik.


"Hm .." Tiya menggelengkan kepalanya, seolah memberi tahu Ellena ini tidak seperti pikiran kakaknya.


"A-ku tidak sengaja menumpahkan minuman ku ke pakaian bapak ini.

__ADS_1


"Lihatlah, pakaiannya jadi kotor karena ku", jawab Tiya penuh penyesalan.


Rayend menatap tajam gadis itu. Pak... sekarang bapak, gadis ini benar-benar menguji kesabaran ku. Namun Rayend terlihat mengangkat bahu nya, membenarkan perkataan gadis itu.


"Dia benar. Lihatlah akibat kecerobohan gadis kecil ini pakaian ku jadi kotor begini. Kau memang benar-benar menguji kesabaran ku ya!", ketus Rayend kembali menatap tajam wajah Tiya yang memucat.


Tiya tertunduk layaknya seorang tertuduh, layaknya seorang tersangka kriminal yang tertangkap basah dan sekarang sedang di sidang. "Maaf...aku benar-benar tidak sengaja. Tadinya aku hendak menyapa kak Ellena dan kak Aaron", lirihnya. Kali ini Tiya sadar dirinya lah yang salah, jadi wajar jika laki-laki itu marah kepadanya.


"Kak...?", seru Rayend menatap Aaron dan Ellena bergantian.


"Tiya ini adik istri ku, Rayend".


Jawaban Aaron tentu saja membuat Rayend kaget. "Benarkah?"


"Tiyaaa...kau kemana saja, ayo bergabung bersama ku dan Marcella", ucap Rianti menghampiri Tiya. "Kak Ell", sapa Rianti tersenyum melihat Ellena yang sudah dikenalnya sebagai teman kakaknya Marsha.


Rayend terkejut berkali-kali malam ini, menyadari adiknya ternyata berteman dengan gadis itu. Artinya Riri lah yang mengundangnya.


"Acaranya belum mulai, sebaiknya kau ganti pakaian itu atau kau mau melanjutkan acara mu dengan pakaian kotor begitu. Apa kata kolega mu, Rayend", ujar Aaron menginterupsi lamunan Rayend saat keduanya menjauh dari Ellena dan Tiya yang telah bergabung dengan teman mereka masing-masing.


"Iya kau benar Aaron", jawab Rayend. Matanya melirik ke tempat Tiya yang masih menatapnya dengan wajah penyesalan. Perasaan Rayend menghangat tidak emosi seperti tadi. Ia juga melihat Riri adiknya begitu akrab dengan Tiya. Rayend tersenyum menatapnya.


"Tuan, pakaian tuan sudah di bawah ke kamar anda".


"Terimakasih Gerry. Aku tinggal kau sebentar teman, aku akan mengganti pakaian ku", ucap Rayend pada Aaron yang menganggukkan kepalanya mempersilahkan Rayend pergi.


*


"Rianti, aku benar-benar jadi buruk di mata kakak mu. Maaf kan aku telah mengacaukan acara kakak mu", ujar Tiya.


"Ahh kau ini, tenanglah kakak ku bukanlah orang pendendam. Ia kakak yang sangat baik dan mudah memaafkan", jawab Rianti menenangkan perasaan temannya Tiya.

__ADS_1


"HM... mungkin ucapan mu benar, tapi masalahnya kejadian ini adalah yang kedua kalinya. Laki-laki yang bertengkar dengan ku di toko buku tadi adalah kakak mu. Bahkan aku melempar kepalanya dengan buku".


"A-pa...?", balas Rianti dan Marcella berbarengan sambil melebarkan kedua mata mereka menatap Tiya tak percaya.


Dengan wajah menyesal Tiya memastikan ucapannya, menganggukkan kepalanya. "Iya, laki-laki itu kakak mu. Uh...memalukan sekali bukan, ternyata aku juga memakai buku yang di belinya tadi", lirih Tiya.


Marcella dan Rianti bertukar pandang. "Hm... jangan-jangan kalian berjodoh", balas keduanya tertawa.


"Ah kalian ini, malah menggoda ku. Aku sangat malu pada kakak mu. Uh ...mana ia teman kak Aaron lagi", ucap Tiya dengan wajah memerah.


"Tenang lah Ti, itu bukan masalah kau tidak menggagalkan acara kak Rayend kok, lihatlah kakak ku baik-baik saja kan", ucap Rianti menunjuk Rayend dengan dagunya.


Sekilas Tiya menatap tempat yang di tunjuk Rianti. Terlihat Rayend sudah berganti pakaiannya dengan jas berwarna biru. Benar kata Rianti, ia terlihat baik-baik saja. Bahkan laki-laki itu terlihat semakin tampan dengan stelan barunya itu, batin Tiya. "Ups...


...***...


YUK BACA JUGA :



MARRIAGE AGREEMENT


PENGANTIN PENGGANTI


AIR MATA SCARLETT


MENJADI YANG KEDUA


FIRST LOVE LAST LOVE


__ADS_1


__ADS_2