SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-75


__ADS_3

"Nanti pulang kuliah aku akan menjemputmu", ucap Rayend setelah mobilnya berhenti tepat di parkiran fakultas kedokteran tempat kekasihnya itu menuntut ilmu.


"Iya kak. Hm, kak aku turun sekarang itu Rianti sudah datang", ucap Tiya menunjuk temannya yang juga adik Rayend. Tiya hendak cepat-cepat turun dan membuka pintu.


"Kau tidak berpamitan dengan benar pada calon suami, hem? pergi begitu saja..?", ujar Rayend menahan lengan Tiya.


Tiya tersenyum mendengar komplain Rayend. "Oh iya kak, aku lupa. Harap maklum aku masih merasa aneh sendiri", ucap Tiya sambil mencium lembut tangan Rayend dan mencondongkan tubuhnya mengecup lembut wajah kekasihnya itu.


Rayend membingkai wajah Tiya dan me*umat bibir gadis itu. "Hhmstt..


Kedua mata Tiya melotot, kaget dengan perbuatan Rayend. Setelah puas baru Rayend menghentikan ciumannya.


"Kakak...kita sedang di parkiran sekarang bagaimana kalau di lihat orang-orang", protes Tiya cemberut sambil memukul lengan Rayend yang sedang mengusap bibir Tiya yang membengkak akibat ulahnya.


"Tidak ada yang akan melihat kita, kaca mobil ini tak terlihat sama sekali dari luar. Lain kali ucap salam yang benar pada calon suami mu,hem".


"Ihh. Kita belum sah. Aku tidak mau melewati batasan", ketus Tiya.


"Kau benar. Tapi apa salahnya kau latihan dari sekarang", goda Rayend.


"Sudah ah, aku turun sekarang. Lama-lama dekat kakak semakin banyak maunya", cicit Tiya sambil mencebikkan bibirnya kesal.


Rayend tertawa melihat gadis itu kesal. "Dia benar-benar menggemaskan, selalu membuat ku tertawa seperti ini", gumam Rayend menatap punggung kekasihnya yang menjauh.


"Ternyata Tiya lah jodoh ku. Saat aku memutuskan kembali ke Jakarta aku bertemu dengannya. Tidak ada yang tahu akan takdir hidup. Siapa sangka Tiya adik Ellena dan adik ipar Aaron. Sekarang aku baru menyadari cinta yang sesungguhnya pada gadis yang terpaut dua belas tahun dari ku".


*


"Tiyaaa..."


Terlihat Rianti dan Marcella bergegas menghampiri Tiya yang membalikkan tubuhnya.


"Tiya, kenapa kau tidak memberi tahu kami bahwa kau akan menikah dengan kakaknya Rianti. Sejak kapan kalian jadi sepasang kekasih? Apa saat jamuan makan malam itu kalian sudah pacaran? Pantas saja kak Rayend selalu menatap mu", ujar Marcella sekaligus memberondong pertanyaan teman baiknya itu.

__ADS_1


"Aku saja baru tahu pagi ini, dari mama ku. Kapan kau akan menikah dengan kak Rayend Tiya? Kalian benar-benar mengejutkan kami semua", ucap Rianti menatap lekat sahabatnya Tiya


"Uh, kalian ini... aku pusing dengan banyaknya pertanyaan kalian. Ayo kita duduk di kursi itu", ujar Tiya sambil melangkahkan kakinya ke taman yang terletak di samping fakultas mereka.


"Aku dan kak Rayend baru kemarin jadian. Tapi setelah jamuan makan malam itu, kak Rayend mengajak ku dinner. Dan setelahnya kami jadi akrab. Ya begitu saja. Kami sama-sama suka dan saling mencintai makanya saat kak Rayend mengajak ku menikah aku menerimanya".


"Kak Rayend komitmen setelah kami menikah ia mengizinkan aku melanjutkan kuliah ku hingga tamat. Ia bilang jika menunggu ku wisuda dulu maka kelamaan. Makanya kami memutuskan menikah secepatnya", ucap Tiya menatap kedua temannya itu .


Rianti tersenyum bahagia. "Ah Tiya, kau tahu aku dan keluargaku sangat senang saat kak Rayend memberi tahu akan menikah dengan mu. Papa dan mama malah langsung mengucap syukur. Bagi papa dan mama, kakak sudah memilih wanita yang di cintainya sepenuh hati saja sudah cukup. Dan memberikan mereka kelak cucu. Kau tahu pagi tadi saat sarapan kedua orangtuaku sudah berencana tentang pesta kalian nanti".


"Bagiku kalian menerima aku apa adanya saja sudah membuat ku sangat bahagia. Terimakasih Rianti", ujar Tiya memeluk tubuh Rianti.


"Ah kalian ini manis sekali, sekarang menjadi satu keluarga", ucap Marcella ikut memeluk keduanya.


*


Waktu terus bergulir...


Rayend menggengam erat tangan Tiya masuk ke mansion orang tuanya.


Menit berikutnya Rayend keluar bersama Leo dan Nita. Dengan hormat Tiya mengalami keduanya.


"Sayang...silahkan duduk", ucap Nita ramah seperti biasanya. Ia tahu Tiya gadis yang baik dan pintar.


Tiya dan keluarga Rayend berbincang dengan hangat.


"Apa kalian sudah memilih tanggal pernikahan kalian?", tanya Leo menatap Rayend dan Tiya bergantian.


"Aku ingin secepatnya pa, bila perlu besok juga aku siap menikah dengan kekasih ku ini", jawab Rayend yang sungguh sungguh.


Tiya melebarkan matanya mendengar penuturan Rayend. "Besok?"


"Tapi Tiya maunya tiga bulan lagi pa", ucap Rayend.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali nak, jika kalian saling mencintai bukankah hal baik itu jangan di tunda-tunda lagi", ucap Leo khas kebapakan yang sangat mengayomi putra-putrinya.


"HM...papa benar, aku setuju dengan pendapat papa", jawab Rayend menjentikkan jarinya. Membuat Marsha dan Rianti tidak bisa menahan tawa mereka.


"Ala bilang saja kalau kakak sudah tidak tahan mau merasakan malam pertama", ucap Marsha menggoda Rayend. Rayend mengusap tengkuknya mendengar perkataan adiknya itu.


"Papa benar nak, jika kalian terlalu lama pacaran bisa berbahaya loh. Godaannya semakin banyak. Apalagi Rayend pebisnis yang banyak berhubungan dengan wanita-wanita di luaran sana. Tiya juga masih kuliah bertemu dengan teman laki-laki. Kalau kalian sudah resmi kalian bisa menjaga janji suci pernikahan itu", ucap Nita memberikan nasihat sebagai seorang ibu.


"Bagaimana jika bulan depan saja kalian menikah? Rayend bisa mengerahkan orang-orangnya untuk mempersiapkan semuanya", ucap Leo.


"Atau kalau tidak kalian menikah secara resmi saja dulu, resepsi bisa menyusul. Mama maklum terutama untuk Tiya, seorang wanita jika menikah terburu-buru sering di nilai negatif karena hamil di luar nikah atau apapun itu. Apalagi Tiya masih kuliah", ucap Nita.


"Masalah restu tentu saja papa dan mama merestui pernikahan kalian. Bagi papa dan mama sejak Tiya sering ke rumah ini, Tiya sudah papa dan mama anggap anak sendiri", ucap Leo.


"T-erima kasih om Leo tante Nita", jawab Tiya dengan mata berkaca-kaca terharu.


"Sayang mulai sekarang kau panggil kami mama dan papa sama seperti Rayend ya", ucap Nita meminta pada Tiya.


"Iya ma", jawab Tiya.


Beberapa saat kemudian..


"Bagaimana masalah pernikahan, kalian?", tanya Leo.


"Bagaimana sayang", tanya Rayend pada Tiya yang terlihat sedang berpikir.


"Aku setuju dengan ide mama Nita, kita menikah secara resmi saja dulu. Bagaimana menurutmu?", jawab Tiya menatap Rayend.


"Baiklah. Aku juga setuju dengan mu. Kalau begitu kami menikah bulan depan dengan di hadiri keluarga inti saja, pa-ma. Untuk resepsi nanti bisa kita rencanakan kembali.


Terlihat Leo dan Nita menarik nafas dan tersenyum bahagia. Setelah mendengarkan keputusan putra mereka yang memutuskan memajukan pernikahannya bulan depan. Artinya hanya hitungan hari saja. Putra kesayangannya Rayend akan menikahi kekasihnya Tiya.


Semua yang ada di ruang keluarga tersebut begitu nampak bahagia. Terutama Rianti tak henti memeluk teman baiknya yang akan menjadi kakaknya dalam keluarga mereka nantinya.

__ADS_1


...***...


RAYEND DAN TIYA NGGAK NGUNDANG SIAPAPUN. PERNIKAHAN MEREKA TERTUTUP UNTUK UMUM 🤣


__ADS_2