
"Drt..
"Drt...
"Drt..
Dengan tidak berminat Aaron melihat layar handphone miliknya, terlihat nama William di layar.
"Ada apa?", tanya Aaron tidak berminat.
"Tuan...saya sudah mendapatkan informasi tentang istri tuan. Sepertinya nyonya Ellena di bawa teman anda, tuan Rayend. Terlihat dari salah satu rekaman CCTV di areal taman. Saya sudah mengirimkan melalui email tu.."
William tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Aaron buru-buru menutup panggilan itu.
Aaron segera mengambil iPad-nya di dalam laci nakas dan membuka email nya. Terkirim beberapa part video.
Terlihat dengan jelas tubuh limbung Ellena mendekap tas sandangnya ke bagian depan tubuh. Sambil sesekali memegang kepalanya. Hingga menit berikutnya terlihat Rayend mendekatinya, dan berlari memegang tubuh Ellena yang terlihat akan terjatuh.
Terlihat Rayend menepuk wajah Ellena sebelum ia mengangkat tubuh lemah itu ke dalam mobil. Mobil Rayend cukup lama tak bergerak, kemudian baru melaju.
"Shitt..
Terlihat wajah Aaron begitu kesal. Dalam diam, Aaron mencerna kondisi istrinya yang sedang tidak baik-baik saja. Tanpa pikir panjang ia mengambil kunci mobilnya dan keluar kamar. Dengan amarah yang tiba-tiba menelusup dalam jiwanya Aaron membanting pintu mobil dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
*
Ellena mengerjapkan netra nya. Kedua matanya mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Ia tahu sekarang ia berada di dalam sebuah kamar mewah bernuansa coklat tua dan abu-abu.
"Akh...Dimana aku sekarang?", lirih Ellena lupa kejadian sebelumnya.
Ellena bangun, duduk bersandar di tempat tidur sambil menundukkan kepalanya menatap tubuhnya masih lengkap dengan pakaiannya.
Huhh..
Ellena menarik nafas dalam-dalam, berucap syukur.
Ceklek..
Ellena menatap kearah pintu, Rayend masuk kamar sambil membawa nampan berisi makanan.
Ellena menundukkan kepalanya sambil menautkan jemari tangannya. Wajah cantik Ellena terlihat sangat muram.
Rayend menatap wajah cantik Ellena, meskipun terlihat pucat dan nampak begitu sedih tidak mengurangi kecantikan alami Ellena.
"Aku membawakan mu makanan, makan lah dulu", ujar Rayend sambil membawa nampan berisi makanan keatas tempat tidur tepat di depan Ellena.
Ellena mengangkat wajahnya menatap Rayend. "Terimakasih kak", ucap Ellena pelan.
__ADS_1
Huhh.. Rayend membalas tatapan Ellena. "Ada apa dengan mu Ell? Tadi aku melihat mu di depan taman kota Manhattan tiba-tiba kau pingsan. Kau terlihat sangat terguncang. Ada apa?".
Tiba-tiba mata Ellena terasa panas, buliran-buliran bening menetes tanpa ia kehendaki.
"A-ku mendengar perbincangan kalian. Aaron tidak mencintai ku kak, ternyata perasaannya hanya untuk Davina. Wanita yang kemarin aku lihat memanggil Aaron begitu intim. Aku mendengar dengan jelas wanita itu memanggil suami ku dengan kata-kata sayang ", isak Ellena.
"Aku benar-benar tidak mengenal suamiku. Laki-laki yang menikahi ku beberapa bulan yang lalu. Laki-laki yang selalu mengatakan kata-kata cinta pada ku, ternyata sama sekali tidak mencintai ku. Semuanya semu", Ucap Ellena berlinang air mata.
Tanpa di pinta Rayend, Ellena mengingat pertama kali bertemu dengan Aaron. Menceritakan semuanya pada Rayend. Termasuk ancaman Aaron padanya saat meminta ganti rugi karena Ellena yang menabrak mobilnya. Hingga Ellena memutuskan untuk bersedia menikah dengan Aaron. Ellena pun mengatakan ia sangat mencintai Aaron selama beberapa bulan hidup bersama.
"Aku sangat mencintai nya...", ujar Ellena mengakui perasaannya dengan suara pelan dan nyaris tak terdengar.
Dengan berurai air mata, Ellena menghapus dengan punggung tangannya.
Tubuhnya bahkan terlihat berguncang menahan sedu sedan.
"Aku hanya ingin pulang ke Jakarta kak. Aku tidak mengenal siapa pun di sini. Bantu aku pulang..."
Lagi-lagi Ellena terisak menahan kepedihan hatinya.
Ting tong..
...***...
__ADS_1
VOTE YA