
Tiya dan teman-temannya sedang menikmati jam istirahat di kantin bersama teman-temannya. Jam makan siang seperti sekarang kantin kampus mereka memang ramai di kunjungi mahasiswa. Selain menikmati makan siang ataupun sekedar minum setelah belajar, ada juga yang memilih kantin tepat menyelesaikan tugas yang di berikan dosen mereka.
Tiya dan dua temannya baru saja selesai makan siang. "Ayo kita kembali ke kelas, sebentar lagi jam ujian kita mulai. Kelompok kita akan menyampaikan persentase", ucap Tiya pada temannya yang bernama Marcella dan Rianti.
"HM...kalian langsung saja ke kelas, aku harus ke parkiran sekarang karena kakak ku sudah datang mengantarkan buku kita untuk praktikum. Tolong kalian bawakan tas ku", jawab Rianti bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Tiya dan Marcella.
Tiya menatap punggung temannya Rianti yang berlari meninggalkan dirinya dan Marcella, bahkan tasnya pun tertinggal di atas meja. "Uh...untung ada kakaknya Rianti, akhirnya kelompok kita memiliki buku itu. Padahal aku juga tadi hendak membelinya tapi gara-gara laki-laki brengsek itu akhirnya kita hanya memiliki satu buku saja".
"Tidak apa-apa Ti, yang penting kan kelompok kita masih memiliki satu buku. Kau sepertinya memiliki ingatan mendalam ya dengan pria yang merebut buku mu itu? buktinya sampa sekarang kau masih saja mengulang cerita pertemuan kalian. HM...pasti laki-laki itu sangat tampan ya?", ledek Marcella pada Tiya yang melangkahkan kakinya meninggalkan kantin kampus.
Di ledek seperti itu oleh temannya membuat Tiya mendorong pelan bahu Marcella. "Uh...tampan apanya, yang ada dia pria tua yang menyebalkan", jawab Tiya.
Sejenak Tiya terdiam. "HM...aku akui sih kalau penampilannya boleh juga, seperti eksekutif muda gitu", Selorohnya mengingat kembali wajah laki-laki yang membuat perasaannya dongkol beberapa jam yang lalu.
"Ehem...ehem...tuh kan, akhirnya kau mengakui terkesan padanya Ti", goda Marcella sambil tertawa dengan langkah cepat mendahului temannya Tiya yang terlihat melototkan kedua matanya. Tiya menggelengkan kepalanya. "Bukan seleraku. Masak aku menyukai om-om yang benar saja".
*
Waktu terus bergulir, senja telah berganti malam.
Ellena menelisik penampilannya di depan cermin. "Sayang...apa masih ada yang kurang dari penampilan ku ini?", tanyanya pada Aaron yang memasangkan kancing lengan kemejanya.
__ADS_1
Aaron segera menatap istrinya dari atas ke bawah. Laki-laki itu tersenyum melihat Ellena dan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya sambil mengecup lembut Wajahnya. "Kau selalu mempesona Ell, apapun yang kau pakai selalu pas".
"Hm...ini pertama kalinya aku mendampingi mu ke acara jamuan sayang. Aku tidak mau membuat mu malu menggandeng ku".
Aaron tertawa mendengar ungkapan Ellena. "Tidak ada laki-laki di dunia ini malu menggandeng wanita secantik diri mu sayang".
"Gombal. Ternyata suamiku sekarang menjadi laki-laki yang pandai merayu ya", ujar Ellena tersenyum membalikkan badannya menghadap Aaron sambil merapikan simpul dasi suaminya.
"Kau sangat tampan sayang", puji Ellena menjijitkan kakinya dan mendaratkan kecupan lembut pada bibir Aaron.
"Uh...andai saja bukan Rayend yang mengundang kita, pasti sudah aku batalkan. Aku lebih memilih menyantap tubuhmu", bisik Aaron bergairah.
Ellena tersenyum mendengarnya. "Sekarang sebaiknya kita pergi, sebelum kau berubah pikiran.."
*
Keduanya belum tahu seperti apa kakak Rianti sang pemilik acara. Kata Rianti kakaknya adalah laki-laki tampan dan sempurna yang baru saja kembali ke Jakarta.
Sementara mobil Aaron dan Ellena baru saja berhenti di depan lobby hotel berbintang tempat acara yang di adakan Rayend.
Aaron dan Ellena, memasuki ballroom .
Tampak dari kejauhan terlihat pemilik acara sedang berbincang-bincang dengan tamu undangan lainnya. Rayend melihat kedatangan Aaron temannya. Laki-laki pamit pada pada teman bicaranya hendak menghampiri Aaron dan Ellena.
__ADS_1
Tak jauh dari Rayend, Tiya yang sedang menikmati minuman juga melihat kakaknya Ellena dan Aaron.
Gadis itu tampak terkejut, ia tidak menyangka kakaknya juga menghadiri undangan itu. "Marcel...aku pamit sebentar ya itu ada kakak ku. Aku akan menyapa mereka", ucap Tiya.
"Oh tentu saja, aku akan menunggu mu di sini. Aku akan mencicipi kue ini, semuanya enak-enak", jawab Marcella masih asyik makan. Bahkan ia tidak mengalihkan matanya pada berbagai macam kue yang tersusun rapi di atas meja panjang di hadapannya.
Tiya melangkah agak cepat ingin menemui Ellena, tanpa melihat kiri-kanannya lagi. Tanpa sadar ia menabrak seseorang.
Brugh..
Tiya terperanjat menyadari kesalahan nya, gadis itu tidak bisa menghindari gelas di genggamannya menumpahkan minuman berwarna merah pada pakaian seorang. Tiya tidak melihat orang yang ditabraknya ia langsung mengambil tissue dari dalam clutch yang dipakainya.
Tiya mengelapkan tissue ke tuksedo berwarna dongker dengan da*aman kemeja putih, yang sudah di tumpahi minumannya.
"Ohh my God..."
"M-maafkan saya pak, saya benar-benar ceroboh. Saya benar-benar tidak sengaja" ucap Tiya tanpa melihat siapa yang sudah ditabraknya itu. Netranya menatap kemeja putih dan tuxedo dongker yang sudah kotor akibat perbuatannya.
"Oh... bagaimana ini"
"Apa yang kau lakukan di acara ku gadis kecil bodoh...!"
...***...
__ADS_1
MAU UP CEPAT? TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA...VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA 🙏