SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-49


__ADS_3

"Kita harus bicara Davina", ujar Aaron dengan tegas.


Davina menatap lembut wajah Aaron. "Ada apa sayang? Apa kau tidak merindukan aku?", tanyanya sambil mendongakkan wajahnya menatap wajah Aaron.


"Lupakan aku mulai sekarang. Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi sejak kau pergi dari kehidupan ku Davina", ucap Aaron dingin dan tanpa ekspresi.


"A-pa maksud mu Aaron? Aku sangat mencintaimu sayang. Aku meninggalkan mu saat itu bukan tanpa alasan. Aku sakit. Aku putus asa sehingga menutupi semuanya dari mu", ujar Davina membalikkan tubuhnya duduk di sofa.


"Kalau kau mau tahu, saat itu aku benar-benar frustasi dengan kondisi ku Aaron. Aku tidak mau membuat mu bersedih dan mengasihani aku, makanya aku pergi menjauh dari mu. T-Tapi perasaan ku benar-benar hancur menghadapi kenyataan takdir ku itu", lirih Davina saat butiran bening menyentuh wajahnya.


Aaron melangkahkan kakinya menatap keluar jendela kaca yang ada di ruangan itu. "Sekarang semuanya tidak sama lagi seperti tujuh tahun yang lalu saat kau pergi tanpa kabar pada ku".


"Saat ini aku sudah menikah dengan wanita yang sangat aku cintai. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi Davina! Aku sudah menemukan kebahagiaan ku dan Aku berharap kau akan menemukan kebahagiaan mu juga", ucap Aaron serius sambil membalikkan tubuhnya menatap Davina yang duduk terdiam di sofa.


"A-ku mencintai mu Aaron, mengerti lah", ucap Davina terisak.


"Tidak ada lagi yang tersisa dari hubungan kita di masa lalu Davina, buat ku itu hanyalah sebuah kenangan masa lalu ku. Hubungan kita telah berakhir begitu kau tidak mempercayai ku kala itu dan lebih memilih menjauh dari ku Davina. Dan semua itu terjadi atas kehendak kau sendiri yang membuat hubungan kita berakhir bukan aku!", tegas Aaron.


Terdengar tangisan Davina yang semakin menjadi. Terlihat gadis itu memegangi dadanya. "A-ku menyesal... M-Maaf kan aku Aaron. A-ku sangat menyesal", ucap Davina dengan suara tercekat dan bergetar dengan mata di penuhi kabut kesedihan.

__ADS_1


"Akh..."


Terlihat wajah Davina memucat sambil menekan dadanya.


*


Ellena menatap jam tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh empat puluh lima menit, artinya sebentar lagi ia akan masuk pesawat. Saat ini Ellena masih duduk di ruang tunggu bergabung bersama penumpang lainnya. Netra nya tak henti menatap jarum jam. Bahkan berulang kali ia membaca catatan kecil yang di tinggalkan Aaron untuknya.


Ellena menelaah satu persatu kata yang di tulis Aaron untuk nya. Ellena menangkap bahwa Aaron mengatakan akan segera datang menemuinya sebelum jam keberangkatan nya. Tapi lihatlah hingga sekarang laki-laki itu tidak ada menunjukkan batang hidungnya.


"Ahh... ternyata aku salah mengartikan maksud tulisan ini. Aaron pasti sedang bernostalgia bersama Davina mengingat masa-masa indah mereka", batin Ellena sambil memegang mawar merah yang tadi pagi di taruh di nampan sarapan paginya.


Ellena beranggapan semalam adalah pertemuan terakhir mereka, duduk berdekatan untuk yang terakhir dan berbicara singkat untuk yang terakhir kalinya. Tiba-tiba manik Ellena meneteskan kristal bening yang jatuh menyentuh wajahnya.


Ellena tertunduk hingga terdengar suara lantang operator yang memanggil penumpang tujuan Jakarta untuk segera masuk ke pesawat karena sebentar lagi pesawat akan tinggal landas.


"Huhhh... Ellena menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Bayangan masa depan suram terbentang di hadapan Ellena.


"Ternyata dia tidak datang", ucap Ellena terisak.

__ADS_1


"Semalam adalah perjumpaan terakhir kita. Selamat tinggal Aaron, aku pastikan kau tidak akan melihat ku lagi. Setelah sampai Jakarta aku tidak akan kembali ke mansion mu", lirih Ellena sambil beranjak dan mengusap tetesan air mata yang membasahi wajahnya.


...***...


YUK BACA JUGA :



MARRIAGE AGREEMENT


PENGANTIN PENGGANTI


AIR MATA SCARLETT


MENJADI YANG KEDUA


FIRST LOVE LAST LOVE


__ADS_1


__ADS_2