SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-71


__ADS_3

"Tiya...Ada yang ingin aku bicarakan pada mu, tentang masa depan hubungan kita", ucap Rayend tanpa sedetikpun mengalihkan pandangannya dari wajah cantik gadis yang duduk terpaku di sampingnya.


"Hubungan kita? Kakak belum mengungkapkan perasaan pada ku, dan aku belum memberikan jawaban apapun. HM...bukankah untuk menjadi pasangan kekasih itu harus saling mengungkapkan perasaan dulu?", tanya Tiya membalas tatapan Rayend.


"Alright, aku akan melakukannya sekarang", ucap Rayend sambil berjongkok dihadapan Tiya.


"Chintiya Carolina, aku Rayendra Leonard ingin melamar mu segera. Maukah kau menjadi istri ku? Menikah dengan ku dan menua bersama ku", ucap Rayend bersungguh-sungguh.


Perkataan Rayend benar-benar membuat Tiya terdiam. Gadis itu terlihat bingung dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan yang terucap dari mulut Rayend.


"Ti...", ucap Rayend sambil menggenggam jemari tangan Tiya yang terasa semakin dingin. "Aku menunggu jawaban mu".


"K-kak... A-ku..."


Tiya tidak melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba terhenti dengan sendirinya. Gadis itu begitu terkejut dengan apa yang di lakukan Rayend. Tentu saja bukan hal seperti itu yang di inginkan Tiya. Ia meminta Rayend menyatakan cinta untuknya. Tetapi Rayend malah melamarnya dengan spontan seperti itu.


Rayend kembali menggengam jemari tangan Tiya. "Aku serius dengan lamaran ini. Usia ku sudah dewasa, cukup umur untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Seperti yang kau bilang pada teman-teman mu. Aku laki-laki tua. Memang perkataan mu benar. Maka sudah saatnya aku segera menikah dengan wanita yang aku cintai".


Tiya melebarkan kedua matanya. "Tapi bukan begitu maksud ku kak, saat aku mengucapkan kata-kata itu situasi antara kita sangat berbeda. Aku sedang kesal", jawab Tiya meluruskan maksud dari ucapannya.


"Bukan masalah", balas Rayend tersenyum.


"Tapi aku serius ingin menikah dengan mu, Tiya. Pertemuan kita memang sangat singkat, tapi aku tidak meragukan mu karena aku mengenal baik kakak mu Ellena dan Aaron. Kau juga teman baik adikku. Aku tidak akan ragu mengajak mu menikah dan menjadikan dirimu istri ku".


Terlihat Tiya memejamkan matanya mencerna apa yang barusan di dengarnya dengan jelas.


"Kak... a-ku ingin menjadi seorang dokter. A-ku belum siap untuk menikah", ucap Tiya pelan sambil menunduk menatap jemari-jemari kokoh Rayend yang meremas tangannya.


Rayend mengangkat dagu Tiya agar menatapnya. "Setelah menikah kau tetap melanjutkan kuliah mu sampai menjadi seorang sarjana. Aku janji akan mendukung dan tidak akan mengekang mu dalam meraih impian mu menjadi seorang dokter, Tiya".


"Hanya satu yang tidak dapat aku tolerir...yaitu menunda kehamilan. Aku tidak mengizinkan, jika kau menundanya", ucap Rayend dengan tegas.


Sesaat keduanya terdiam, saling bertatapan dengan penuh makna. Rayend masih berjongkok dihadapan Tiya dan mengungkung kedua paha gadis itu dengan tangannya.

__ADS_1


"Berikan aku waktu kak, berikan aku waktu untuk memikirkan tentang pernikahan yang kau tawarkan. Jujur saja... tidak pernah terpikirkan sedikit pun oleh ku untuk menikah di usia muda. Mengertilah, semua ini sangat cepat dan mengejutkan bagi ku", ucap Tiya tanpa sedikitpun berkedip menatap Rayend.


Rayend tersenyum mendengarnya. "Tentu saja, kau bisa memikirkannya dan aku akan menunggu jawaban mu", jawab Rayend mengusap lembut wajah Tiya yang terdiam membisu.


"Meskipun kau belum memberikan jawaban mu, kita tetap sepasang kekasih kan?", tanya Rayend dengan lembut.


Spontan Tiya menganggukkan kepalanya dengan bersungguh-sungguh.


Rayend tersenyum mendengarnya. "Kita harus merayakan hari jadi kita ini. Ayo kita pamit pada kakak mu", ujar Rayend sambil menarik tangan Tiya agar mengikuti nya.


"Kak tunggu...", ucap Tiya menghentikan langkah Rayend. "Kakak tahu dari mana nama lengkap ku?".


Rayend tersenyum mendengar dipertanyakan seperti itu keluar dari bibir mungil Tiya. "Bukan hal sulit. Mengetahui semua tentang mu sangat mudah", jawab Rayend.


Rayend kembali melangkahkan kakinya dan menarik tangan Tiya. "Uh, kakak belum menjawab pertanyaan ku".


Keduanya masuk kedalam rumah dengan senyuman menghiasi wajah dan bergenggaman tangan dengan mesra.


Terlihat pelayan yang sedang menyiapkan hidangan di meja makan. Ada juga Hardi yang menyapa Rayend dan Tiya dengan ramah. Laki-laki itu mengatakan Aaron dan Ellena ada di ruang kerjanya.


"Tok..


"Tok..


"Masuk!". Terdengar suara bariton Aaron.


Ceklek..."Apa kami menggangu kalian?", ucap Rayend menatap Aaron dan Ellena bergantian karena Ellena duduk di sandaran tangan kursi kerja Aaron sambil memeluk bahu suaminya.


"Hm..Eh...Tentu saja tidak", jawab Ellena salah tingkah sambil berdiri. Ia tersenyum melihat Rayend menggengam erat jemari tangan Tiya yang tersipu malu.


"Apa kalian sudah jadian sekarang?", tanya Aaron spontan.


"Tentu saja teman. Dan aku pastikan sebentar lagi kita akan jadi iparan", jawab Rayend yakin. Wajah Tiya semakin memerah mendengar perkataan Rayend.

__ADS_1


"Aku dan Tiya harus pergi sekarang. Ada yang harus kami bahas", ujar Rayend absurd. "Terimakasih bantuan kalian kakak ipar", Seloroh Rayend.


Di sambut tawa Aaron dan Ellena. "Ingat kalian belum menikah jangan kebablasan. Kau harus menahannya teman", seru Aaron meledek Rayend.


"Tenang saja. Aku tahu batasannya", ketus Rayend sambil mengusap tengkuknya.


"Aku titip adikku pada mu", ucap Ellena.


"Tenang saja Ell, adik kesayangan mu aman bersama ku", balas Rayend sesaat sebelum pulang.


...***...


HARI SENIN NIH, BAGI VOTE YA 🙏


*


SEGERA LAUNCHING NOVEL KE-7 EMILY. NANTIKAN 🙏




SINOPSIS/BLUR :






TEMA : WESTERN ITALIA.

__ADS_1


RATE : 21++


__ADS_2