
Pagi telah menyingsing. Ellena baru saja selesai mandi membersihkan tubuhnya. Pagi ini ia ingin sekali memasak sarapannya sendiri.
Tiba-tiba ia ingin memakan nasi uduk komplit. Dulu saat sebelum menikah setiap pagi ia memasak nasi uduk. Selain untuk makan pagi ia dan keluarganya, Ellena juga menitipkan nasi uduk buatannya di warung sebelah rumahnya. Walaupun keuntungannya tidak seberapa setidaknya Ellena bisa menyisihkan uang untuk membantu orangtuanya.
Ellena tersenyum melihat suaminya masih tertidur pulas dengan posisi tertelungkup sambil memeluk bantalnya. Perlahan Ellena membuka pintu kamar agar tidak membangunkan Aaron.
Saat tiba di pantry, Ellena melihat bi Darmi di temani dua orang pelayan menyiapkan sarapan. Ketika melihat Ellena ketiganya mengucapkan selamat pagi dengan hormat.
"Nyonya membutuhkan sesuatu, bibi bisa menyiapkannya".
"Tidak bi, hanya saja aku sangat ingin menyantap nasi uduk. Aku akan membuatnya bi", ujar Ellena tersenyum.
"Oh jangan nyonya, nanti tuan Aaron bisa memarahi bibi. Nyonya tunggu saja, bibi akan membuatnya sekarang", ucap bi Darmi.
"Tapi aku ingin memuatnya sediri bi, suami ku tidak akan marah. Bibi tenang saja", balas Ellena tersenyum sambil bergerak menyiapkan semuanya. Tentu saja ia di bantu bi Darmi mengerjakannya namun resep sesuai keinginan Ellena.
Setelah hampir satu jam memasak di pantry, akhirnya nasi uduk dan menu lainnya selesai juga. Dengan wajah berseri-seri Ellena menata hidangan di atas meja. Terlihat Aaron menuruni tangga sudah lengkap dengan pakaian kerjanya.
"Sayang apa yang kau lakukan?".
Bi Darmi yang berada di samping Ellena merasa tidak enak. "Maaf tuan, bibi sudah melarang nyonya memasak, tetapi nyonya tetap melakukannya".
"Bibi tenanglah, suami ku tidak akan marah kok", ujar Ellena menenangkan bi Darmi.
"Tiba-tiba aku ingin memakan nasi uduk, kau mau mencicipi masakan istri mu?", tanya Ellena sambil memeluk lengan Aaron.
"Tentu saja. Aku tidak tahu, kalau istri ku memiliki keahlian lain selain melayani suaminya di tempat tidur", bisik Aaron di telinga Ellena.
__ADS_1
"Ihh, kau ini. Tentu saja aku bisa mengerjakan tugas istri yang lainnya. Memasak dan membereskan rumah. Kau saja yang melarang ku mengerjakan semua itu", seru Ellena mencebikkan bibirnya.
Bi Darmi tersenyum melihat keduanya. Wanita yang sudah lama mengurusi Aaron senang melihat keharmonisan rumah tangga tuannya itu.
"Ayo kita makan, sepertinya enak", ujar Aaron duduk di samping istrinya. Ellena mengambilkan sepiring nasi uduk komplit dan menata di hadapan Aaron.
Di meja itu tersaji banyak pilihan makanan lainnya seperti roti bakar dan pancakes. Sementara minuman Ellena dan Aaron sama-sama suka susu plain saja. Sebenarnya Aaron menyukai minuman kopi pahit, namun semenjak menikah Ellena sering komplain jika suaminya itu rutin meminum kopi pahit kesukaannya.
Aaron memakan nasi uduk buatan Ellena dengan lahap. Tentu saja Ellena senang melihatnya. "Bagaimana rasanya sayang? Jawablah dengan jujur", tanya Ellena sambil menatap wajah tampan Aaron.
"Enak, sangat enak. Seenak rasa tubuh mu", goda Aaron.
"Uh...berhentilah menggoda ku!", jawab Ellena sambil memukul pelan lengan Aaron.
"Aku suka melihat wajah mu jika merona seperti itu. Kau menggemaskan".
*
"Good morning..."
Semua orang yang baru saja hendak makan pagi bersama menoleh kearah Rayend yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Kakak. Tumben pagi-pagi ke sini", ujar Marsha.
"Ayo, kita makan pagi bersama", ucap Leo ayah Rayend.
Sementara Nita ibunya meminta pelayan menambah piring di meja untuk putranya yang baru saja datang.
__ADS_1
Meskipun Rayend bukan anak kandung Nita, tapi wanita paruh baya itu sangat baik dan penyayang. Itulah yang membuat Rayend menerimanya menjadi ibu sambungnya sepuluh tahun yang lalu. Begitupun dengan ke dua anak bawaannya Marsha dan Rianti yang biasa di panggilnya Riri, adalah anak-anak yang baik. Mereka bertiga cepat akrab dan saling menyayangi.
Rayend mengucek rambut Rianti yang terlihat sedang asyik mengetik pesan WhatsApp. "Kau tidak pernah berubah kalau di meja makan masih saja memainkan handphone mu, anak manja".
"Kakak, jangan merusak rambut ku", protes Rianti kesal.
"Pagi ini aku harus menjemput teman ku, Tiya. Karena ia membawa banyak buku-buku tugas kelompok kami. Aku harus pergi cepat ke kampus", ucap Rianti melahap makanannya dengan cepat-cepat.
Nita menggelengkan kepalanya melihat putri bungsunya itu. "Pelan-pelan sayang. Kau tidak akan terlambat di antar mang Sapri".
Sementara Rayend terdiam mendengar perkataan adiknya. Laki-laki itu tampak mengetuk-ngetuk meja makan. "Kau pergi dengan ku ke kampus", ucap Rayend sambil menyesap teh hangat miliknya.
"Hah...? Beneran kakak akan mengantar ku ke kampus? Tapi aku harus menjemput Tiya teman ku, kak. Yang semalam hadir di acara perusahaan", ujar Rianti menjelaskan.
"No problem, kemana pun kalian pergi akan kakak antar".
Leo dan Nita tersenyum melihat anak-anak mereka begitu akur seperti itu.
Sementara Marsha yang sedang makan merasakan hal aneh dengan kakaknya. "Tumben seorang CEO super sibuk seperti kak Rayend memiliki banyak waktu seperti pagi ini", ucap Marsha dengan pandangan penuh selidik menatap Rayend yang cuek saja mendengar perkataannya.
"Biasa saja. Bukan lah hal aneh , jika seorang kakak mengantar adiknya dan mengenal juga teman-temannya. Teman mu aku kenal semua, tetapi aku tidak mengenal teman-teman Riri", jawab Rayend memberikan alasan.
"Oh...begitu rupanya", balas Marsha tersenyum. Namun tetap saja ada yang aneh dengan kakaknya itu.
...***...
KIRIM VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA 🙏
__ADS_1