SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-70


__ADS_3

"Kau mencintai ku, Tiya...?"


Suara khas laki-laki menghentakan Tiya. "Suara itu..", Batinnya.


"Tidak mungkin Rayend kan", ucap Tiya menggelengkan kepalanya. "Akhir-akhir ini aku selalu berhalusinasi tentang pria itu", ucap Tiya polos tanpa malu mengakui tentang pikiran liarnya sambil menatap bunga-bunga di depannya tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun.


Ellena tersenyum mendengar perkataan adiknya itu. "Kau harus melihat siapa yang ada di belakang mu, Tiya!".


Ucapan Ellena membuat tubuh Tiya gemetaran. Seketika gadis itu menolehkan kepalanya kebelakang. "K-au...", ucapnya tak percaya. Tiba-tiba suara Tiya tercekat sementara lidahnya kelu. Namun gadis itu langsung berdiri dari tempat duduknya menghadap Rayend yang tak henti menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.


"Lanjutkan lagi pembicaraan kalian, aku senang mendengarnya", ucap Rayend menggoda Tiya yang diam mematung sambil tertunduk.


Sementara Ellena berdiri dengan wajah sumringah. "Kalian berdua harus bicara. Aku akan menemui suamiku".


"Huhhh... Terdengar hembusan nafas Tiya. Gadis itu beranggapan kakaknya mau lepas dari tanggung jawab. Membuatnya begitu malu di hadapan Rayend. "Kakak tega sekali membohongi ku, aku sangat malu kak", gumam Tiya dengan nada protes menatap Ellena yang tersenyum penuh arti.


"Kau sudah dewasa, mengakui perasaan mu bukan lah suatu dosa sayang. Apalagi itu sebuah hubungan yang sehat", balas Ellena sambil menggenggam erat tangan Tiya, memberikan support pada adiknya itu.


"Kakak merestui hubungan kalian, Ti...jangan pernah berpikiran tidak enak lagi kepada kakak dan suami kakak, atas apa yang sudah kami lakukan untuk mu. Jalani lah hidup sebaik mungkin bersama laki-laki yang kau cintai dan bertanggung jawab, itu sudah membuat kakak sangat bahagia", ucap Ellena penuh kasih sayang.


Perkataan Ellena nyatanya mampu membuat hati Tiya terharu, gadis itu memeluk erat tubuh Ellena. "K-kak terimakasih untuk semuanya".


Ellena tersenyum. "Kakak akan selalu ada untukmu. Sekarang bicaralah dengan Rayend, ia sudah menunggu mu dari tadi", ucap Ellena lembut sambil mengurai pelukannya dan membalikkan badannya.

__ADS_1


Ellena tersenyum pada Rayend dan mengedipkan satu matanya sambil menepuk pundak laki-laki itu.


Seketika suasana hening nampak jelas di sana. Gemericik air hujan membasahi bunga-bunga indah yang sedang bermekaran di taman itu.


Udara dingin nyatanya tak mampu mengaliri tubuh Tiya yang terasa panas.


Tiya terdiam tak bergeming sedikitpun bahkan wajah cantiknya terlihat semakin memutih pucat. Rayend yang masih berdiri ditempatnya menatap lembut wajah gadis itu.


Rayend melangkahkan kakinya mendekati Tiya. Tanpa aba-aba laki-laki itu memeluk tubuh mungil yang terdiam di hadapannya. Tindakan Rayend mengejutkan Tiya. Tubuhnya semakin gemetaran dan hawa panas semakin mengaliri tubuh nya.


"Aku sudah mendengar semua pengakuan mu, Tiya. Aku sangat bahagia mengetahui semua isi hati mu", bisik Rayend di telinga Tiya. "Aku mencintaimu.."


Tiya merasakan tubuhnya mau ambruk mendengar ungkapan perasaan Rayend padanya. Seakan tak percaya, lagi-lagi gadis itu seolah bermimpi. Bahkan ia merasakan kakinya begitu lemah saat ini. Andai saja Rayend tidak memeluknya mungkin sekarang tubuh itu akan terduduk di lantai yang dingin.


Rayend mengurai pelukannya dan menatap kedua manik gadis itu. "Kau tidak sedang bermimpi, apa yang kau rasakan saat ini nyata. Aku mencintaimu Tiya", ucap Rayend bersungguh-sungguh.


Untuk yang pertama kalinya Tiya berani mengangkat wajahnya dan membalas tatapan itu. "Kakak curang...menguping pembicaraan kami. Aku akan menarik semua ucapan ku tadi", ketus Tiya sambil mencebikkan bibirnya .


Rayend tersenyum mendengarnya. "Ucapan yang sudah keluar dari bibir mu tidak bisa di tarik kembali karena aku sudah menyimpannya di sini", ucap Rayend sambil membawa jemari tangan Tiya ke dadanya.


Tindakan Rayend mampu membuat perasaan gadis itu menghangat. Tiya melebarkan kedua matanya. "A-ku sangat malu, kak", ucap Tiya dengan suara bergetar lirih.


Rayend tersenyum mendengarnya. Laki-laki itu menggengam jemari tangan Tiya dan mengajaknya duduk di kursi yang tadi diduduki Ellena dan Tiya.

__ADS_1


"Kenapa kau harus malu, kita sudah sama-sama dewasa bukankah hal yang wajar jatuh cinta", ucap Rayend menggenggam jemari tangan Tiya yang terasa dingin seperti es dan membawa ke atas pahanya.


"Uhhh, ternyata kakak berhasil membuat kak Ell mengkhianati ku".


Rayend tersenyum mendengar komplain Tiya yang masih belum terima dengan kerjasama ia dan Ellena bahkan juga Aaron.


"Ternyata kalian semua bekerjasama. Sangat salah aku datang kemari, seharusnya aku datang menemui Rianti saja", ucap Tiya menatap Rayend dengan tatapan lembut.


"Bukankah artinya kita berjodoh, pagi-pagi aku datang kemari meminta pendapat pada Aaron dan Ellena. Siapa sangka kau pun datang ke sini dengan tujuan yang sama. Kau tahu artinya itu apa, hem? Artinya alam semesta merestui hubungan kita, Tiya", ucap Rayend tersenyum bahagia.


Pada akhirnya senyuman manis terlukis di wajah cantik Tiya yang mencerna perkataan Rayend. Gadis itu setuju dengannya. Secara sangat kebetulan keduanya datang menemui orang yang sama.


Sesaat keheningan datang. Tidak ada yang bicara. Tiya dan Rayend sibuk dengan pikiran masing-masing.


Menit berikutnya..


Huhhh, terdengar tarikan nafas Rayend. Terlihat Rayend berpikir sejenak sebelum membuka mulutnya. Laki-laki itu mengeratkan genggaman tangannya pada jemari tangan Tiya.


"Tiya...Ada yang ingin aku bicarakan pada mu, tentang masa depan hubungan kita.."


...***...


MUMPUNG HARI SENIN NIH, BAGI VOTENYA YA 🙏

__ADS_1


__ADS_2