
"S-ayang aku sangat merindukanmu..."
"Davina..", batin Aaron pada dirinya sendiri.
Aaron menatap tajam gadis cantik dihadapan nya.
"Ayo kita pergi", ucap Aaron pada Ellena.Tidak menggubris wanita yang memanggilnya. Setelah menutup pintu mobil di sisi istrinya Aaron mengitari mobil hendak masuk mobil di belakang kemudi.
"Sayang kau harus dengarkan alasan ku kenapa aku pergi dari mu... karena aku sakit. Aku di vonis sakit Aaron", teriak Davina dengan suara bergetar menahan tangisannya.
Sekilas Aaron melihat gadis itu yang masih berdiri di tempatnya sambil memegang kepalanya.
"Tolong dengar kan alasan ku Aaron. K-au bisa tanyakan dengan teman baik mu Rayend...", Teriak Davina ketika melihat Aaron naik mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Davina yang berdiri terdiam.
Ellena dan Aaron masih bisa melihat wanita itu berdiri mematung di tempatnya dari kaca spion.
"Siapa gadis itu sayang. Ia memanggil mu dengan akrab. Kenapa kau tidak peduli padanya?", tanya Ellena memberondong suaminya dengan banyak pertanyaan.
"Tidak penting. Bukan siapa-siapa", jawab Aaron terdengar sangat ketus ketika menjawab pertanyaan Ellena.
Setelah itu hingga sampai ke apartemen tidak ada lagi yang berbicara. Ellena lebih banyak mengalihkan perhatiannya pada luar jendela sementara Aaron fokus menyetir, namun pikirannya di penuhi sosok Davina dan ucapan gadis itu yang terus berkelebat di kepala Aaron.
Begitu mobil sudah berada di private parking, Aaron membawa semua barang belanjaan istrinya ke unit dan langsung kamar mereka.
"Sayang kau bersihkan lah tubuh mu dan istirahat lah aku ada pekerjaan di ruang kerja ku sekarang", ucap Aaron langsung membalikkan tubuhnya tanpa menatap istrinya sedikitpun.
Ellena terdiam di tempatnya menatap punggung lebar suaminya yang menjauh keluar kamar mereka. Ellena tidak mengerti dengan perubahan sikap Aaron yang tiba-tiba terasa dingin kepadanya setelah bertemu dengan wanita yang memanggilnya sangat intim tadi.
__ADS_1
Ellena sejenak berpikir. "Siapa dia sebenarnya?", batin Ellena pelan. Tiba-tiba jantung Ellena berdebar kencang. "A-pakah ia D-davina, wanita masa lalu Aaron?", ucap Ellena memijat pelipisnya sambil menggelengkan kepalanya.
Kalau melihat perubahan suaminya Ellena sadar, wanita tadi bukanlah orang asing buat Aaron. Semuanya bisa di lihat dari perubahan sikapnya. Bahkan tiba-tiba sikap Aaron dingin kepada Ellena yang tidak tahu apa-apa.
"Ahh sudah lah, sebaiknya sekarang aku berendam saja. Tubuh ku lelah".
*
"Davina...
"Kenapa tiba-tiba kau hadir lagi. Aku sudah bersusah payah melupakan mu".
"Di saat aku sudah tenang dan bisa menata hidup ku kembali kenapa kau datang lagi di hidup ku", ucap Aaron menyandarkan kepalanya sambil memejamkan kedua matanya.
"Rayend..
Tiba-tiba Aaron ingat dengan ucapan sesaat Davina tadi yang mengatakan bahwa Rayend mengetahui semuanya tentang dirinya.
Aaron tersentak berdiri. Sambil menghentakkan tangannya dengan keras ke meja kaca yang ada di sudut ruangan itu. "Brengsek kau Rayend, aku tidak pernah menyangka kau mengkhianati persahabatan kita", Teriak Aaron tidak bisa lagi menahan emosinya.
Dengan perasaan kesal laki-laki itu menghamburkan semua buku-buku yang ada di atas meja kerjanya. Termasuk pigura foto mesra ia dan Ellena yang di ambil di taman Central Park yang berada di pusat kota Manhattan.
Terlihat kaca pigura itu retak dan tergeletak di lantai ruang kerja Aaron.
Tanpa Aaron sadari di depan pintu ruangan itu, Ellena berdiri terpaku. Sejak awal suaminya berada di kamar itu Ellena berdiri di depan pintu. Saat hendak masuk keruangan itu, Ellena mengurungkan niatnya karena terdengar suaminya itu berteriak emosional dan menghamburkan barang-barang bahkan terdengar benda-benda pecah.
Tubuh Ellena bergidik mendengar semuanya. Bahkan ia mendengar Aaron menyebutkan nama Davina dengan jelas.
__ADS_1
Sesaat kemudian Ellena mendengar langkah kaki Aaron hendak ke luar ruang kerja, cepat-cepat Ellena pergi dari pintu menuju kamar tidur dengan perasaan campur aduk. Lebih tepatnya sedih.
Dengan mata berkaca-kaca Ellena merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi meringkuk seperti bayi. Ellena memejamkan matanya saat mendengar ada yang membuka handle pintu. Ia tahu itu suaminya.
Aaron menatap Ellena yang tertidur di sisi tempat tidurnya dengan gaun tidur.
Huhh .. Aaron menarik nafas dalam-dalam sambil menatap wajah polos istrinya yang terlelap. Ditariknya selimut tebal menutupi tubuh Ellena. Kemudian Aaron menuju walk in closet yang menyatu dengan ruang wardrobe. Netra Aaron melihat pakaian yang sudah di siapkan Ellena untuk nya. Laki-laki itu langsung masuk ke kamar mandi menguyur tubuhnya di bawa shower, Ellena bisa mendengar gemericik air dari kamar mandi.
Sesaat Ellena membuka matanya yang menghangat. "Ternyata wanita itu Davina. Wanita masa lalu Aaron. Yang dikatakan Alyssa sebagai wanita yang sangat istimewa di hati Aaron.
Tapi ternyata ucapan Alyssa memang benar, Davina memang benar-benar special bagi Aaron. Ellena bisa melihatnya, bagaimana pertemuan sesaat tadi begitu mempengaruhi kondisi Aaron. Bahkan sikapnya langsung berubah dratis padanya.
"Ternyata ia belum melupakan D-davina. Aku tahu Aaron masih memiliki perasaan mendalam pada gadis itu. Bahkan tujuh tahun perpisahan tak berarti dengan pertemuan singkat tadi", lirih Ellena dengan tubuh bergetar. Bahkan matanya berkaca-kaca.
...***...
YUK BACA JUGA:
MARRIAGE AGREEMENT
PENGANTIN PENGGANTI
MENJADI YANG KEDUA
FIRST LOVE LAST LOVE
__ADS_1
AIR MATA SCARLETT