
Ceklek..
Dengan keras Aaron mendorong pintu Penthouse mewah yang di datanginya dengan amarah yang membuncah menguasai dirinya.
"T-Tuan..
"Dimana istri ku!!", teriak Aaron menatap tajam pelayan yang berdiri membeku di samping pintu yang sudah terbuka lebar.
"Anda mencari siapa T-uan?"
"Di mana kamar Rayend", teriak Aaron tidak bisa menahan emosinya lagi. Satu persatu laki-laki itu membuka pintu ruangan. Aaron semakin kesal saat tidak menemukan kamar Rayend dan keberadaan istrinya.
Kedua matanya menatap kelantai atas. Tanpa pikir panjang ia menaiki tangga lengkung. "Brengsek kau Rayend", umpat Aaron dalam hatinya.
Saat di lantai atas, kedua matanya menangkap sosok yang ia cari keluar dari sebuah ruangan yang memiliki pintu luas dan berukir. Darah Aaron mendidih sampai ke ubun-ubun. Amarah Aaron sangat terlihat dari wajah dingin dan tidak bersahabat. Mata Aaron menghunuskan sorot tajam begitu melihat Rayend, terlebih di belakang laki-laki itu terlihat Ellena yang terlihat kacau wajah pucat dan mata bengkak.
"Brengsek kau Rayend, berani kau bermain-main dengan ku, hah..", teriak Aaron tanpa pikir panjang berlari dan langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Rayend yang tidak menyangka Aaron akan bertindak agresif seperti itu. Rayend terhuyung ke belakang.
Bugh
Bugh
__ADS_1
Ellena yang menyaksikan tindakan Aaron begitu kasar pada Rayend membuat Ellena tercekat. Wanita itu begitu kaget, menyaksikan kekerasan yang di lakukan suaminya itu.
"Apa-apaan kau ini Aaron, datang-datang langsung marah-marah", hardik Rayend segera bangkit dan tidak tinggal diam membalas tindakan Aaron.
Rayend pun memberikan pukulan keras pada wajah Aaron. Kedua laki-laki tampan yang memiliki postur tubuh hampir sama tinggi tegap dan atletis bergelut terlibat perkelahian sengit. Sementara Ellena tidak tinggal diam, wanita itu berteriak-teriak. Menyebabkan pelayan yang tadi membukakan pintu untuk Aaron ikut berteriak juga menyaksikan perkelahian antara tuannya dengan tamu tak di undang yang tiba-tiba membuat onar di Penthouse majikannya.
Tanpa pikir panjang, pelayan menghubungi pihak keamanan gedung.
Ellena semakin menjerit meminta kedua menghentikan perkelahian. Namun bak sudah dirasuki setan keduanya tidak peduli dengan jeritan Ellena.
Malah Aaron dan Rayend semakin menjadi saling menyakiti. Darah segar terlihat mengucur dari pelipis dan bibir ke duanya. Keduanya masih diliputi emosi yang membuncah sehingga tidak ada yang mau mengalah. Aaron dan Rayend sama-sama kacau. Bahkan jas maupun kemeja keduanya terlihat robek memanjang.
"Kalian tinggalkan Penthouse ku sekarang juga, ini urusan ku dan laki-laki ini!!", perintah Rayend pada empat orang keamanan yang datang melerai.
"Kau juga... selesai kan pekerjaan mu dan pulanglah!", perintah Rayend pada pelayannya dengan nafas masih tersengal-sengal.
Tanpa menjawab mereka semua menganggukkan kepalanya dan undur diri.
Setelah semuanya pergi..
Aaron dan Rayend melanjutkan perkelahian antara keduanya, malah kali ini semakin sengit. Berguling-guling di karpet dan saling tindih sambil memberikan bogem mentah bergantian.
__ADS_1
"Aaron... Rayend Hentikan!!"
"Kalian saling menyakiti!'. Namun seakan menulikan pendengarannya keduanya tidak menggubris ucapan Ellena. Wajah Aaron dan Rayend penuh darah akibat pergulatan itu.
Hingga Ellena spontan menarik pinggang Aaron. Dan memeluknya dari belakang. Agar Aaron menjauhi Rayend yang terlentang di lantai. Aaron sudah mengangkat kakinya hendak menendang tubuh Rayend yang tidak siap.
"Ya Tuhan, aku mohon berhentilah berkelahi. Kalian bisa saling membunuh", teriak Ellena berurai air mata. Ia tidak mungkin membiarkan salah satunya mati dihadapannya saat ini.
Seketika emosi Aaron dan Rayend mereda. Kalau mau jujur yang menyebabkan amarah Aaron reda bukan karena permintaan Ellena untuk menghentikan perkelahiannya dengan Rayend yang bisa menyebabkan kematian diantara mereka. Tetapi karena Ellena memeluk tubuhnya lah yang menyebabkan emosi Aaron mendadak surut.
Sementara Rayend melihat bagaimana Ellena memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Jangan coba-coba menambah keruh keadaan seseorang, brengsek", ketus Aaron menatap tajam Rayend yang masih terduduk di karpet berwarna gelap itu.
"Aku bisa menerima mu menutupi keadaan Davina tiga tahun yang lalu dari ku, tapi tidak untuk istriku. Aku tidak akan membiarkan mu melakukan kebohongan lagi", hardik Aaron pada Rayend sambil menarik tangan Ellena meninggalkan tempat itu.
Namun Ellena menahan tubuhnya sekuat tenaga. "Aku tidak akan ikut dengan mu...pulanglah!"
...***...
KALAU MAU TAHU KENAPA AUTHOR NGGAK UP KEMARIN TU...JAWABANNYA KARENA KESAL DAN KECEWA DENGAN PF NOVELTOON. JADI NGGAK SEMANGAT UP. 2 HARI LIBUR, BIKIN KANGEN DENGAN KALIAN PEMBACA SETIA KARYA EMILY. APALAGI YANG RAJIN NINGGALIN JEJAK VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA...KALIAN LAH PENYEMANGAT PARA PENULIS ITU 🙏
__ADS_1