
Bandara Soekarno Hatta, Jakarta..
Setelah menempuh penerbangan panjang dan melelahkan, pesawat pelat merah berhenti dengan sempurna di apron bandara internasional Soekarno-Hatta.
Aaron merenggangkan kedua tangannya. Kemudian memutar leher hingga terdengar suara tulang leher yang gemeretukan. Terlihat laki-laki itu mengusap tengkuknya. Semua itu tak luput dari mata Ellena yang masih duduk di sampingnya.
"Berlebihan", celetuk Ellena mengomentari tingkah suaminya itu dengan nada mengejek.
"Kau harus bertanggung jawab, setelah ini kau harus mengembalikan kondisi tubuhku", bisik Aaron di telinga istrinya.
"Kenapa salah ku? Kan sudah aku katakan aku ikut penerbangan kelas ekonomi", seru Ellena sambil melebarkan matanya.
"Tentu saja salah kau, karena aku ikut bersama mu akhirnya tubuhku sakit semua. Apa kau tidak lihat kursi ini tidak nyaman untuk badan ku, karena terlalu sempit. Bisa kau bayangkan dua puluh satu jam aku tersiksa duduk di sini", balas Aaron.
Ellena semakin melototkan kedua matanya menatap Aaron tapi sejujurnya ia menahan tawanya sendiri karena yang di katakan suaminya itu benar adanya. Sepanjang penerbangan Ellena memperhatikan Aaron yang tidak nyaman duduk di sampingnya. Bahkan ia tidak bisa memejamkan matanya.
"Oke. Apa yang harus aku lakukan mengembalikan kondisi fit tubuh mu?", tanya Ellena absurd.
"Nanti saat kita sampai di rumah kau akan segera tahu", jawab Aaron spontan penuh makna.
"Ayo kita keluar sekarang", ucap Aaron sambil menggenggam erat jemari tangan istrinya.
*
__ADS_1
New York, USA
"Ternyata Aaron benar-benar tidak mencintai ku lagi. Bahkan ia tidak perduli saat aku kesakitan", ucap Davina terisak berada di dalam pelukan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya.
Wanita yang tak lain adalah ibu kandung Davina terlihat menahan emosinya. Sambil mengusap lembut punggung putrinya yang menangis sejadi-jadinya dalam dekapannya itu menatap laki -laki paruh baya yang berdiri di depan jendela kaca menatap jauh ke depan.
"Bagaimana ini pa, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu pada laki-laki yang sudah menghancurkan perasaan putri semata wayang kita? Bisa kau bayangkan seandainya saja kita terlambat datang tadi ke apartemen Davina apa yang akan terjadi pada anak kita ini?", ketus Wilona ibu Davina dengan emosi pada ayah Davina yang berdiri sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
"Huhhh..."
Terlihat laki-laki itu menghela nafasnya dalam-dalam.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan Wil, aku tidak mau mengambil resiko jika melawan Aaron. Apalagi jika berhubungan dengan perusahaan. Perusahaannya sedang berada di puncak. Perusahaan kita jauh di bawahnya. Dengan kekuatannya itu sekali sentakan saja ia bisa membuat kita bangkrut dengan mempengaruhi para investor pergi dari perusahaan ku", jawab ayah Davina serius.
"Kau sangat lemah Albert! Bahkan kau belum berusaha melakukannya, tapi kamu sudah menyerah begitu saja. Jika Aaron tidak jadi menantu kita sebaiknya kau bikin pemuda itu tidak menjadi milik siapapun", hardik Wilona emosi.
"Sejak dulu aku sudah tidak setuju dengan ide mu, menutupi sakit Davina dari Aaron. Lihat lah hasil dari ide gila mu itu... semuanya kacau. Bahkan dengan sakitnya putri kita tidak memberikan pengaruh apapun pada Aaron. Semua ini salah mu, Wilona. Kau lah yang layak di salahkan atas apa yang menimpa Davina sekarang ini!!", seru Albert dengan suara meninggi.
Sementara Davina semakin terisak. "Aku mencintai Aaron ma, aku tidak bisa hidup tanpanya lagi", lirih gadis itu.
Wilona mengeratkan pelukannya. Ia mengakui dalam hal ini ialah yang salah. Tujuannya menutupi sakit Davina agar Aaron tidak menganggap putrinya wanita tak layak untuk menjadi istrinya. Wilona tidak mau Aaron dan keluarganya menganggap Davina wanita penyakitan.
Siapa sangka ternyata lamanya penyembuhan Davina membuat Aaron jengah dan berpaling. Malah orang yang di tugaskan Wilona mengorek informasi tentang Aaron di Jakarta mengatakan Aaron sudah menikah. Wanita yang di nikahi Aaron hanya lah wanita biasa saja. Itulah yang membuat Wilona tidak perlu kuatir. Ia pikir dengan bertemu Davina lagi pasti Aaron segera meninggalkan istri kampungannya itu.
__ADS_1
Saat mendapatkan kabar dari orang bayaran mereka yang mengatakan bahwa Aaron berada di New York, tentu saja bak mendapatkan angin segar bagi Davina dan orang tuanya. Mereka pun merencanakan agar Aaron segera melihat Davina.
Dipertemuan pertama tentu saja tidak membuahkan hasil dan membuat Davina kecewa. Makanya ia menemui Rayend yang merupakan sahabat baik Aaron. Davina meminta Rayend mengatakan kondisinya yang sebenarnya kenapa sampai ia meninggalkan Aaron beberapa tahun yang lalu.
Tetapi ternyata Wilona dan Davina salah. Bukannya kembali pada Davina...malah Aaron memastikan hubungan nya dengan Davina sudah berakhir karena ia telah bahagia dan mencintai istrinya sepenuh hati.
"Kita sudah tidak ada lagi harapan. Lupakan lah Aaron. Papa akan menjodohkan mu dengan anak rekan bisnis papa, Davina", tegas Albert mendekati tempat putrinya dan istrinya.
Mendengar keputusan ayahnya membuat Davina semakin menangis sejadi-jadinya..
...***...
YUK BACA JUGA :
MARRIAGE AGREEMENT
PENGANTIN PENGGANTI
AIR MATA SCARLETT
MENJADI YANG KEDUA
__ADS_1
FIRST LOVE LAST LOVE