SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-74


__ADS_3

"Kau kekantor saja duluan. Aku ada pekerjaan pagi ini hingga siang nanti", ucap Rayend pada Gerry asistennya yang saat ini ada di apartemen Rayend.


"Baik tuan. Tapi pukul dua nanti tuan ada meeting dengan rekanan kerja perusahaan", jawab Gerry sambil membacakan jadwal bos-nya itu dari iPad miliknya.


Rayend merapikan dasinya di cermin yang ada di ruang tamu. "Iya. Kau ingatkan lagi nanti, tiga puluh menit sebelum meeting di laksanakan jika aku belum datang ke kantor".


"Kau boleh langsung ke kantor sekarang Gerry, karena arah kita berbeda", perintah Rayend.


"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi tuan".


"Hem".


Rayend menyesap susu plain yang di siapkan bi Salma dan menikmati oatmeal dengan potongan pisang dan blueberry. Laki-laki itu menyantap habis sarapan paginya.


Sesaat ia kembali merapikan jasnya. Dan mengambil kunci mobil.


Pagi ini Rayend sudah janji akan mengantar Tiya kuliah pukul sepuluh nanti. Tapi sebelumnya Rayend akan berbicara dengan ibu Tiya, memberi tahu niat baik ia untuk menikahi putrinya.


Kemarin saat Rayend mengantar Tiya pulang, ia tidak bisa bertemu ibu Tiya karena sedang pergi ke acara keluarga mereka.


Kemarin adalah hari yang sangat istimewa bagi Rayend, karena Tiya menerima cintanya. Bahkan setelah nya Tiya juga menerima lamarannya. Semua spontan. Rayend mengira kekasihnya akan memberikan jawaban hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan lamanya ternyata kemarin Tiya memberikan jawaban yang sangat di nantikan nya itu.


Bahkan seharian ia dan Tiya berpelukan mesra di sebuah cottage yang di sewa Rayend di salah satu tempat wisata yang menyajikan suasana romantis dengan view pantai yang sangat indah.


Semalam pun Rayend hampir tidak bisa memejamkan matanya. Di pikirannya hanya ada Tiya... Tiya dan Tiya. Mengingat tentang kebersamaan mereka di siang itu tak henti berciuman mesra. Hingga mampir saja membuat akal sehat Rayend hilang jika Tiya tidak mengingatkannya.


Kejadian siang itu benar-benar mempengaruhi pikiran Rayend. Pada akhirnya di tengah malam buta laki-laki itu menghubungi Tiya yang ternyata sama sepertinya tidak bisa tidur sama sekali. Hingga dini hari tadi keduanya baru menutup panggilan telepon.


*

__ADS_1


Mobil yang di kendarai Rayend berhenti tepat di depan rumah bercat putih nan asri tersebut. Rumah mungil tapi sangat indah dengan halaman luas dan berbagai bunga hias.


Rayend turun dari mobilnya. Ia tak perlu menekan bel lagi karena Tiya sudah menyambutnya dengan senyuman menghiasi wajah cantiknya.


"Ti, apa ibu mu ada? Aku ingin bicara dengannya. Kau juga harus menemani ku ketika aku berbicara dengan ibu mu", ucap Rayend mengusap lembut wajah Tiya.


"Iya kak, aku panggil ibu. Kakak duduk dulu ya", ucap Tiya sambil membalikkan badannya masuk ke sebuah ruangan.


Tak lama berselang terlihat Tiya kembali keluar ruangan itu bersama ibunya. Rayend segera berdiri dan menyambut tangan wanita paruh baya yang selalu bertutur kata lembut itu.


"Silahkan duduk nak Rayend", ucap Aryati ramah duduk di depan Rayend dan putri bungsunya. Terlihat bi Yana menyuguhkan teh hangat dan kue yang di buat sendiri oleh ibu Tiya semalam. Wanita itu memang selalu rajin tidak mau berdiam diri saja.


Semenjak Ellena menikah, ia tidak mengizinkan ibunya bekerja berat lagi. Namun Aryati tetap tidak mau berdiam diri. Ia masih membuat kue untuk dimakan sendiri dan mengerjakan rajutan-rajutannya.


"Terimakasih bu", jawab Rayend hormat.


"HM begini bu...ada yang ingin saya bicarakan mengenai hubungan ku dan putri ibu Tiya. Saya dan Tiya sudah menjadi menjalin hubungan sebagai kekasih".


"Maaf sebelumnya bu, saya mengajak Tiya menikah sebelum ia menjadi sarjana. Mengingat Tiya wisuda masih lama sementara usia ku semakin matang", ucap Rayend.


Aryati melihat kebahagiaan di wajah putri bungsunya itu, ia tahu Tiya sangat ingin menjadi dokter. Tapi jika ternyata jodoh Tiya sudah datang di saat ia belum bisa mewujudkan impiannya tentu saja Aryati tidak akan menghalangi niat baik itu. Apalagi Rayend dimata Aryati laki-laki yang sudah dewasa dan sopan. Ia yakin Rayend akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab seperti suami Ellena Aaron.


"Jika Tiya sudah bersedia menikah tentu saja ibu akan memberikan restu kepada kalian nak. Berpacaran terlalu lama juga tidak baik", ucap Aryati bijak sebagai seorang ibu.


"Bagaimana dengan keluarga nak Rayend?".


"Setelah Tiya pulang kuliah sore nanti, aku akan mengajaknya menemui keluarga ku. Tiya bukan orang asing bagi keluarga kami karena berteman baik dengan adikku Riri", ucap Rayend.


"Kak Rayend juga berteman baik dengan kak Aaron bu", ujar Tiya menjelaskan pada ibunya.

__ADS_1


"Terimakasih bu, karena sudah merestui aku dan Tiya".


Aryati tersenyum mendengarnya.


Tiya melihat arloji di tangannya. "Kak aku harus ke kampus sekarang".


"Baik", ucap Rayend menaruh gelas minumannya. Keduanya berpamitan pada Aryati. Ketika mereka sudah di depan pintu terlihat mobil berwarna putih masuk ke pekarangan rumah itu. Rayend tahu itu mobil temannya Aaron. "Sayang nanti saja naik mobilnya, itu Aaron", ujar Rayend pada Tiya.


Aryati tersenyum saat tahu siapa yang datang. Ellena dan Aaron. Begitu turun mobil keduanya memberi salam pada Aryati juga pada Rayend dan Tiya.


Nampak Aaron dan Rayend berbincang di dekat mobil Rayend.


"Kau mau kuliah dek?", tanya Ellena.


"Iya kak. Kakak juga bukannya sudah mulai kuliah lagi, kenapa tidak kuliah sekarang. Apa kakak mengambil jam sore?".


"Huhh, sepertinya kuliah ku harus tertunda lagi. Karena aku positif hamil".


"Apa? Berarti ada keponakan ku di perut kakak sekarang", ucap Tiya senang sambil mengusap lembut perut Ellena.


"Benarkah kau hamil nak?", tanya Aryati tersenyum bahagia. Ellena menganggukkan kepalanya. "Iya bu sudah enam minggu", jawabnya.


"Mas...kau pasti bahagia di atas sana melihat dua putri kita bahagia. Ellena akan memberikan kita cucu, sementara Tiya sebentar lagi akan menikah dengan laki-laki yang baik juga", ucap Aryati sesaat menatap ke langit.


Ellena menatap Tiya begitu mendengar perkataan ibunya.


"Tiya, kau dan Rayend akan menikah? Benarkah?", Tanya Ellena sumringah.


Tiya menganggukkan kepalanya dengan pasti, "Iya kak, kemarin kak Rayend melamar ku", jawab Tiya di sambut pelukan Ellena yang terlihat sangat bahagia mengetahui adiknya akan segera menikah dengan Rayend.

__ADS_1


...***...


JANGAN LUPA VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA 🙏


__ADS_2