SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-67


__ADS_3

Hujan deras menjelang pagi hari mengguyur kota Jakarta.


Ellena yang masih tidur menggerakkan tubuhnya ketika merasakan lu*atan hangat di bibirnya. Wanita itu membuka matanya perlahan, masih dalam kondisi setengah sadar.


"Akh..."


Men*esah ketika merasakan remasan di dadanya. "Sayang", lirihnya sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Aaron.


"Di luar hujan deras, sekarang hari Minggu. Masih gelap juga. Hm...lebih baik kita tarik selimut lagi dan berusaha membuat anak kita", bisik Aaron menggoda istrinya.


"Ah, Ell...aku benar-benar sudah menginginkannya. Menginginkan benih ku tumbuh di perut mu", ucap Aaron sambil mengusap lembut perut istrinya.


Usia pernikahan mereka sudah satu tahun tapi tanda-tanda istrinya hamil belum juga nampak. Keduanya sudah rutin berkonsultasi dengan dokter kandungan terbaik di Jakarta. Kondisi Ellena maupun Aaron baik-baik saja.


Demi mewujudkan impian itu, keduanya rutin bercinta.


Aaron tengah asyik me*umat bibir Ellena, sementara jemari tangannya mencubit pelan puncak gunung kembar istrinya yang menurut Aaron ukuran dada istrinya itu kian hari semakin membesar. Begitupun Ellena membalas ciuman Aaron tak kalah panasnya.


"Drt..


"Drt..


"Drt..


"S-ayang, handphone milik mu berbunyi", ujar Ellena menghentikan ciumannya.


Sementara Aaron tidak menggubrisnya. Laki-laki itu seakan tidak mendengarnya, ia masih sibuk dengan pekerjaannya bahkan jemari-jemari tangannya menelusup ke dalam panties Ellena.


Bunyi telepon semakin berbunyi.


"Ah shitt... siapa yang berani mengganggu ku sepagi ini. Awas saja kalau itu Nikolas. Aku pastikan akan memecatnya saat ini juga!", umpat Aaron kesal.

__ADS_1


"Angkat lah siapa tahu ia menyampaikan berita penting", ucap Ellena menenangkan suaminya itu.


Dengan wajah kesal Aaron mengambil handphone miliknya di nakas, tanpa melihat siapa yang menelepon ia langsung menggeser tombol hijau.


"Lama sekali kau mengangkat telpon ku. Kau sedang apa teman...?".


Terlihat wajah Aaron semakin kesal. "Kau ini menelepon orang tidak tahu waktu. Hari masih gelap begini, mengganggu ku saja!", ketus Aaron.


"Apa kau dan Ellena ada di mansion kalian pagi ini? Aku ingin menemui kalian. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada kau dan istri mu", ucap Rayend di ujung telpon.


"Ada apa? Kau bisa mengatakannya sekarang jika memang penting, Rayend".


"Dua jam lagi aku menemui mu, kau harus membantu ku teman. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan masalah ku ini".


Aaron mengeryitkan alisnya mendengar perkataan Rayend. "Ada apa? Apa yang terjadi pada mu?".


"Kau akan segera tahu, nanti aku ceritakan semuanya. Bye..."


"Ada apa dengan kak Rayend, sayang?", tanya Ellena duduk di samping Aaron bersandar di ujung tempat tidur mereka.


"Aku tidak tahu, ia bilang akan menemui kita pagi ini. Ada hal penting yang ingin di katakan nya pada kita berdua", jawab Aaron masih terlihat berpikir. "Apa ada hubungannya dengan Tiya adik mu?".


"Hem, Tiya? Memangnya ada apa dengan Tiya, sayang? Apa adikku melakukan kesalahan lagi pada kak Rayend?".


"Sebenarnya di jamuan makan malam itu bukanlah pertemuan pertama Rayend dan Tiya. Beberapa hari sebelumnya mereka berdua bertemu di toko buku dan bertikai karena memperebutkan buku yang sama. Pada akhirnya Tiya melempar kepala Rayend dengan buku tebal".


"Rayend tidak tahu bahwa gadis yang bertikai dengan nya adalah Tiya adik mu. Tiya juga tidak tahu bahwa Rayend adalah kakak dari teman baiknya. Dan jamuan malam yang diadakan Rayend mempertemukan mereka kembali".


"Oh, jadi begitu ceritanya. Tapi Tiya tidak menceritakan apapun dengan ku. Padahal biasanya ia pasti akan bercerita dengan ku segalanya", ucap Ellena merasa aneh dengan adiknya.


"Lalu apa hubungannya kak Rayend ingin berbicara dengan kita?", tanya Ellena sambil menatap Aaron.

__ADS_1


"Sepertinya temanku itu menyukai adik mu, Tiya. Aku dan teman-teman ku tahu, pada malam itu Rayend tak henti menatap Tiya. Bahkan Yoga dan Dimas sempat menggodanya".


"Hah, benarkah sayang yang kau katakan?". Ellena benar-benar terkejut menatap lekat wajah Aaron.


"Aku kaget mendengarnya. Tapi kalau mau jujur... jika semua yang kau katakan itu benar, tentu saja aku merestui mereka. Aku mengenal Rayend, ia laki-laki yang baik dan melindungi".


"Sementara Tiya, selama ini hanya sibuk dengan pendidikan nya. Yang aku tahu, ia selalu berkata belum mau berpacaran jika ia belum menamatkan kuliahnya di fakultas kedokteran".


"Iya, kau benar. Rayend laki-laki baik, itu tidak usah di ragukan lagi. Tiya berada di tangan yang tepat jika mereka bersama", ucap Aaron sambil mengangkat tubuh Ellena ke atas tubuhnya yang masih bersandar di punggung tempat tidur.


"Kita lanjutkan yang tertunda lagi. masih ada waktu dua jam", ucap Aaron sambil melucuti satu persatu kain yang menutupi tubuh seksi istrinya.


Tubuh Ellena tidak pernah bisa nolak jika sudah di sentuh suaminya, karena ia pun menginginkan nya.


Percintaan liar pun tidak bisa di hindari. Bersama mereguk kenikmatan bercinta di pagi hari yang dingin.


...***...


YUK BACA JUGA :



PENGANTIN PENGGANTI


MARRIAGE AGREEMENT


MENJADI YANG KEDUA


FIRST LOVE LAST LOVE


AIR MATA SCARLETT

__ADS_1



__ADS_2