SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-68


__ADS_3

Waktu terus bergulir..


Dua jam kemudian..


"Tok


"Tok


Ellena yang sedang berada di ruang wardrobe segera membuka pintu kamar.


"Maaf nyonya mengganggu anda, nyonya di minta tuan keruang kerjanya sekarang", ucap seorang pelayan memberitahu Ellena dengan sopan.


"Katakan pada suamiku sebentar lagi aku turun".


"Baik nyonya", jawab pelayan sopan membalikkan badannya. Sementara Ellena kembali keruang wardrobe, bercermin di meja hias. Mengikat rambutnya dan memoles lippgloss bening di bibirnya.


Beberapa saat kemudian, Ellena segera menemui suaminya di ruang kerjanya. Ia nampak cantik dengan setelan blouse putih dipadukan dengan culottes berwarna pastel dusty pink.


Ceklek..


Ellena membuka handle pintu ruang kerja suaminya. Ternyata di dalam ruangan itu Aaron tidak sendirian tetapi sudah ada Rayend juga di sana. Keduanya sedang berbincang-bincang di sofa. Obrolan keduanya terhenti saat pintu terbuka.


"Sayang masuklah, ada yang ingin Rayend bicarakan pada mu", ujar Aaron tersenyum.


"Hai Ell, apa kabar mu?".


"Baik kak. Surprise sekali, ingin bicara dengan ku. Ada apa sebenarnya", seru Ellena membalas senyuman Rayend. Ellena duduk di sebelah Aaron.


Rayend menatap Aaron sesaat.

__ADS_1


"Katakan saja, apa yang ingin kau katakan", ucap Aaron membuka pembicaraan sambil menyilangkan kakinya. Sementara jemari tangannya menggenggam tangan Ellena dan membawa nya ke atas pahanya.


Terlihat Rayend menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada kalian berdua...Aku menyukai Tiya adik mu El. Lebih tepatnya bukan hanya sekedar suka, tapi aku telah jatuh cinta padanya. Sejak pertemuan kami seminggu yang lalu", ungkap Rayend terus terang.


Ellena dan Aaron saling bertatapan. Tidak aneh bagi Aaron mendengar pengakuan temannya itu. Tapi buat Ellena cukup mengagetkan. Ia menatap Rayend. Dan tampak jelas keseriusan dan kesungguhan dari sinar matanya.


"Semalam aku dan Tiya makan malam bersama. Aku menyadari perasaan ku yang sebenarnya pada adik mu itu. Setelah obrolan singkat kami, aku tahu gadis seperti Tiya lah yang aku cari selama ini. Gadis pintar dan apa adanya tidak neko-neko tentang kehidupan", ucap Rayend. "Ia sangat mengagumkan".


Ungkapan perasaan Rayend itu benar-benar membuat Ellena terkejut begitu pun Aaron, karena ia tidak pernah melihat Rayend memiliki perasaan mendalam seperti itu pada wanita manapun selama ini.


"Wow...kau benar-benar sedang jatuh cinta, teman", ucap Aaron.


"Ya...begitulah", jawab Rayend tersenyum dan mengangkat satu bahunya.


"Apa Tiya sudah mengetahui perasaan mu padanya?", tanya Ellena.


"Sebaiknya secepatnya beritahu Tiya. Sejujurnya aku tidak bisa memutuskan apa-apa. Jika benar kalian memiliki hubungan istimewa, tentu saja aku mendukungnya. Aku tahu siapa kak Rayend", ucap Ellena tersenyum.


Rayend menghembuskan nafas nya. Senyuman bahagia terlukis di wajah tampan itu. "Terimakasih Ell".


"Sebenarnya bukan tentang perasaan ku saja aku kemari. Tujuan ku menemui kalian berdua karena aku membutuhkan bantuan. Kalian tahu usia ku sudah dewasa. Kau tahu dengan pasti aku bukan tipe pria brengsek yang suka main-main dengan perasaan", ucap Rayend menatap Aaron.


"Aku akan mengungkapkan perasaan ini pada Tiya.Tapi sejujurnya aku tidak bisa menunggu lama-lama, aku ingin segera menikah dengannya. Aku tidak mau lama-lama berpacaran yang bisa menyebabkan kebosanan dan kegagalan".


"Aku meminta bantuan mu Ell, berikan masukan pada Tiya tentang sebuah hubungan berumah tangga. Setelah menikah aku tidak akan mengekang nya, Tiya tetap kuliah mewujudkan impian menjadi seorang dokter gigi. Aku akan mendukungnya", ucap Rayend bersungguh-sungguh.


"Aku tahu ia pasti akan mendengarkan nasihat mu sebagai kakaknya", ucap Rayend yakin. "Aku mohon..."


Ellena belum menjawab ketika ketiganya mendengar bunyi panggilan telepon di handphone milik Ellena.

__ADS_1


Ellena melihat layar handphone, nama Tiya tertera di sana. "Adikku...", ucap Ellena menatap Rayend dan Aaron. Ellena memberi isyarat keduanya jangan bersuara sambil menggeser tombol hijau dan menghidupkan speaker handphone nya.


"Iya dek?"


"Kakak di mana, aku sedang di mansion kakak. Bi Darmi tidak melihat kakak katanya. Kak...ada yang ingin aku bicarakan dengan kak Ell", ucap Tiya. Suaranya terdengar lirih sekali.


Ellena menatap Rayend yang mengusap dagunya sambil menyandarkan punggungnya. "HM...kakak menemani suami kakak di ruang kerja. Kau tunggu di taman, aku ke sana sekarang", ucap Ellena sambil memutus panggilan telepon.


"Kalian dengar sendiri, adikku sedang menunggu di taman sekarang. Ada yang ingin di bicarakan nya dengan ku. Aku harus segera menemui nya sekarang".


"Ell...aku mohon bantu aku. Jangan katakan ada aku di sini. Setelah kalian bicara baru aku akan menemui adikmu dan bicara dengannya".


...***...


YUK BACA JUGA:



PENGANTIN PENGANTIN


MARRIAGE AGREEMENT


MENJADI YANG KEDUA


AIR MATA SCARLETT


FIRST LOVE LAST LOVE


__ADS_1


__ADS_2