SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-64


__ADS_3

Beberapa saat mobil melaju dengan kecepatan sedang menebus kegelapan malam jalanan ibu kota. Tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya terdengar alunan musik lembut Sometimes When We Touch (Dan Hill) dari speaker.


Seakan menggambarkan keadaan di dalam mobil mewah itu, terasa romantis tapi saling berdiam diri. Rayend mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, malah terbilang pelan sambil menatap jalanan yang luas terbentang. Sementara gadis di sebelahnya lebih banyak mengalihkan perhatiannya keluar jendela atau pun sesekali menundukkan kepalanya.


Tiya merasakan suasana yang tidak nyaman. Kalau mau jujur ini pertama kali baginya keluar malam-malam dengan seorang laki-laki. Kejadian yang menimpanya dengan Rayend begitu membekas di hati Tiya. Hal yang tidak mengenakkan tentunya. "Huhh.." Terdengar helaan nafas gadis itu.


Ehem..", terdengar dehaman Rayend. "Apa kau menyukai Italian food?", tanya Rayend sekilas menatap Tiya yang sedang menunduk.


"Iya. Aku menyukainya".


"Oke, kita makan di sana".


Detik berikutnya..


"Aku tidak menyangka kau adik Ellena. Kalau di perhatikan wajah kalian tidak mirip", ucap Rayend membuka percakapan diantara mereka berdua.


Tiya tersenyum mendengarnya. "Kakak lebih mirip ayah. Sementara


aku mirip dengan ibu", jawabnya pelan dengan suara sangat lembut ditelinga.


"Yap...kau ada benarnya juga, kau dan ibu mu memang mirip.


"HM...pak, aku minta maaf karena aku sudah melempar mu dengan buku tebal waktu itu. Sebenarnya buku itu untuk aku pakai bersama dengan Rianti juga. Pada akhirnya kelompok kami hanya memiliki satu buku praktikum yang bapak beli saja. Sekali lagi aku meminta maaf atas semua yang terjadi. Aku melempar kepala mu dan menumpahkan minuman ke pakaian mu, pak".


"Apa aku sudah terlihat sangat tua?", ucap Rayend sambil melihat wajahnya melalui kaca spion. "Perfecto...aku tidak terlihat tua sama sekali", Seloroh Rayend tersenyum sambil mengusap dagunya dengan tangan kiri.

__ADS_1


Tentu saja perbuatan Rayend seperti itu membuat Tiya lucu, ia menahan tawanya.


"Kau selalu memanggil ku pak-bapak. Aku tidak akan menerima maaf mu itu jika kau masih memanggil ku seperti itu lagi".


"Tapi...


"Tidak ada tapi-tapi. Kau boleh memanggil nama ku saja".


"T-Tapi pak...(terhenti) karena Rayend menghunuskan tatapan tajam pada Tiya yang masih memanggilnya pak.


"Kak..", ucap Tiya pelan.


"Yes. Begitu jauh lebih baik", ucap Rayend mengucek rambut gadis itu. Tiya melebarkan kedua matanya.


"Kak, rambut ku kusut", ucapnya spontan.


Rayend membuka pintu, begitu juga Tiya keduanya melangkah bersama masuk kedalam restoran. Restoran itu terbilang cukup ramai. Seorang pelayan mengantarkan keduanya ke tempat sesuai reservasi Gerry.


Rayend suka dengan pilihan asistennya, tempatnya lebih privacy dan tidak ramai.


Terlihat dua orang pelayan mengantarkan hidangan. Beberapa jenis makanan yang berasal dari negara Italia itu.


"Aku sudah meminta Gerry memesan makanan kita. Kau bisa memesan lagi apa yang kau inginkan", ucap Rayend menatap Tiya sekilas.


"Ini sudah cukup kak, badan ku bisa melar jika makan malam dengan porsi yang banyak", jawab Tiya. Sekarang gadis itu terlihat lebih enjoy tidak kaku seperti pertama naik mobil tadi.

__ADS_1


Rayend tersenyum mendengar jawaban Tiya. Laki-laki itu menopang wajah dengan tangannya menolehkan wajahnya pada Tiya yang sudah mulai nyaman berbicara dengannya.


Benar kata Rianti, Tiya gadis yang pintar dan enak di ajak bicara. Tiya termasuk pendiam jika baru mengenalnya, tapi jika sudah akrab ia termasuk tipe gadis ceria pada umumnya.


"Kakak tahu tidak kenapa negara Italia di juluki Lo Stivale (sepatu bot)", tanya Tiya sambil menikmati pasta kesukaannya.


"Tidak. Kenapa memangnya?", ucap Rayend tak bergeming sedari tadi hanya menatap penuh minat gadis cantik yang duduk di sampingnya. Bahkan Rayend tidak makan apapun. Laki-laki itu lebih suka melihat Tiya yang makan.


"Ternyata karena peta negara itu berbentuk seperti kaki", jawab Tiya tersenyum.


"Begitu rupanya", jawab Rayend tersenyum.


"Uh, aku sangat ingin berkunjung ke negara itu. Italia adalah negara yang sangat ingin aku kunjungi jika nanti aku punya banyak uang", ucap Tiya antusias sambil memejamkan matanya dan tersenyum bahagia.


Rayend tersenyum melihat gadis itu. "Aku yakin suatu hari nanti impian mu pasti terwujud".


"Ngomong-ngomong, kak Rayend tidak makan? Lihatlah aku sudah menghabiskan pasta. Dan sekarang aku akan mencicipi pizza nya", ujar Tiya sambil mengambil sepotong pizza dan membawanya ke atas piring yang sudah di sediakan.


Ia memotong-motong pizza itu dan memasukkan kedalam mulutnya dengan garpu. Terlihat matanya melebar dan tersenyum. "HM...ini enak sekali. Kakak harus mencobanya", ujar Tiya tersenyum sambil menusuk pizza yang sudah di potong nya dan memberikannya ke mulut Rayend. Rayend membuka mulutnya menerima suapan Tiya. "Enak kan?".


"Iya enak". Rayend mengambil sepotong pizza juga dan memakannya. Namun tanpa menggunakan garpu. "Aku lebih suka memakannya seperti ini", ucap Rayend memegang pizza dan menggigit nya.


"Kakak benar juga". Tiya mengambil lagi sepotong pizza dan memakannya seperti Rayend. Baru beberapa gigitan. Terdengar gadis itu batuk. Dan matanya memerah.


"Tiya...kau kenapa?", tanya Rayend sedikit panik sambil membukakan minuman mineral dan memberikan nya pada gadis itu. Namun batuk Tiya semakin menjadi. Bahkan suaranya seperti tercekat ketika hendak berbicara.

__ADS_1


"K-kak...


...***...


__ADS_2