SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-59


__ADS_3

Rayend terlihat memberikan kata sambutan di atas panggung. Acara itu banyak di hadiri oleh rekan bisnis Rayend terutama yang bekerjasama dengan perusahaannya. Juga petinggi dan karyawan perusahaan yang di pimpinnya.


Launching produk terbaru berupa parfum pria dan wanita sudah selesai di laksanakan. Sesaat ruangan di setting menjadi temaram. Nampak seorang model laki-laki dan wanita memperagakan berbagai pose di atas panggung begitu juga layar berukuran besar terpampang di depan dan kedua sisi ballroom hotel berbintang tersebut. Decak kagum dari tamu undangan di berikan untuk keberhasilan acara tersebut.


Di akhir acara tamu undangan memberikan ucapan selamat kepada Rayend sebagai CEO baru yang telah berhasil meluncurkan produk terbarunya pada malam ini.


Tiya yang duduk satu meja dengan Rianti dan Marcella tidak bisa dipungkiri begitu kagum melihat kemegahan acara itu. Apalagi yang menjadi model parfum adalah artis papan atas yang namanya sedang bersinar. Bahkan tak henti ketiganya berbisik-bisik mengomentari model pria yang sempat memamerkan tubuh maskulin dengan perut sixpack nya di atas panggung.


Namun di sela-sela itu sebenarnya Tiya lebih tertarik dengan pemilik acara yang menurutnya begitu cerdas dan lugas dalam menyampaikan pidato singkatnya. "Pantas saja ia mampu memimpin perusahaan yang besar. Rayend sangat tegas saat berbicara. Hem...pasti dia atasan yang sulit untuk bawahannya ", batin Tiya tersenyum sendiri membayangkan nya. Gadis itu ingat bagaimana arogan kakak temannya itu. "Uh... kenapa juga aku memikirkan nya lagi".


*


Beberapa jam berlalu...


Tamu undangan sudah meninggalkan hotel, pulang ke tempat masing-masing.


Sementara Ellena masih berbincang dengan teman-teman. Bertemu dengan ketiga temannya sangat membuat nya bahagia. Apalagi ketika Ellena menyampaikan kabar bahwa ia akan melanjutkan kuliahnya kembali, ketiga temannya sangat senang mendengar kabar baik itu.


Sementara Aaron berbincang-bincang dengan Rayend dan dua teman mereka lainnya. Berulang kali Rayend menyesap minumannya sambil menatap Tiya yang duduk di meja yang cukup berjarak dengan meja ia dan teman-temannya. Sehingga tidak akan membuatnya ketahuan jika mencuri-curi pandang pada gadis yang duduk tepat berhadapan dengannya itu.


Berulangkali Rayend menatapnya terutama saat Tiya tertawa bersama adiknya Rianti dan teman mereka lainnya. "Ternyata kalau tertawa lepas seperti itu dia cantik sekali, sangat berbeda dengan gadis yang aku temui di toko buku tadi", batin Rayend. Tanpa ia sadari bibirnya tersenyum sendiri.


"Ray...kami pamit dulu. Sukses selalu untuk mu", ujar salah satu temannya yang duduk di sisinya.

__ADS_1


Rayend tidak menjawabnya. Bahkan laki-laki itu masih tersenyum dan menyentuh ujung gelasnya dengan telunjuknya yang di gerakan memutar.


"Ray...kau ini kenapa tersenyum sendiri seperti itu. Dimas dan Yoga pamit pulang kepada mu", ucap Aaron aneh melihat tingkah temannya itu.


Perkataan Aaron menyadarkan Rayend, seketika raut wajah berubah serius. "Hm...apa?"


"Ckckck apa kau sedang jatuh cinta, Rayend? Aku perhatikan kau melihat ke sana terus, apa salah satu dari ketiga gadis belia itu kekasihmu? Kenapa tidak kau kenalkan kepada kami sekarang", ujar Yoga.


Mendengar perkataan Yoga membuat Aaron yang duduk di hadapan Rayend menolehkan kepalanya menatap gadis-gadis belia yang di maksud Yoga. "Mereka?"


Sementara Rayend mengusap-usap tengkuknya mendengar perkataan temannya. "Itu adikku dan temannya".


"Tidak ada yang salah, jika kau menyukai teman adikmu, justru itu lebih baik bukan. Kau lebih mudah mengambil hatinya. Ayolah Ray kau harus segera menyusul kita bertiga yang sudah menikah. Kami menunggu undangan mu, teman", ucap Dimas menggoda Rayend sambil berdiri dari tempat duduknya pamit pulang bersama Yoga. Yang di setujui temannya yang lain.


Rayend menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Adik ipar mu itu, adalah gadis yang membuat ku kesal hari ini. Yang bertikai dengan ku di toko buku. Yang melempar kepala ku dengan buku tebal. Dan menumpahkan minumannya pada ku malam ini", ujar Rayend menjelaskan pada Aaron yang menatap seolah tidak percaya.


"Hah? Jadi Tiya yang sudah membuat mu begitu kesal pagi tadi", ucap Aaron menahan tawanya.


"Sudah aku katakan kepada mu, jangan terlalu membenci...nanti kau malah suka", ujar Aaron tidak bisa menahan tertawanya.


"Diam lah! Istri mu kemari", ketus Rayend kesal melihat Aaron mentertawakan dirinya.


"Sayang, apa kau masih mengobrol dengan kak Rayend?", tanya Ellena.

__ADS_1


"Mulai sekarang kau rubah panggilan itu Ell, karena sebentar lagi Rayend menjadi adik ipar kita", seloroh Aaron tanpa tedeng aling-aling lagi.


"Shitt, kau ini brengsek sekali", seru Rayend kesal.


"Apa maksud mu, sayang?"


Detik berikutnya.. terlihat Rianti dan temannya menghampiri meja Rayend.


"Kak, teman-teman ku pamit pulang.


Marcella pamit pada Rayend. Sementara Tiya berbincang-bincang sebentar dengan Ellena dan Aaron yang berdiri dan pamit pada Rayend mereka akan pulang juga.


Saat yang lain berbincang-bincang, Tiya mengulurkan tangannya pada Rayend. "Maafkan dua kejadian hari pak, dari hatiku yang terdalam aku benar-benar minta maaf", ucap Tiya dengan tulus.


"Huhhh...gadis ini, benar-benar", batin Rayend sambil menjabat tangan Tiya.


"Well, aku maafkan. Tapi kau tetap harus bertanggungjawab atas perbuatan mu yang membuat kepala dan leher ku cedera", bisik Rayend pelan sementara wajahnya terlihat seperti biasa saja, sehingga tidak menarik perhatian yang lainnya.


"Kau harus menemani ku makan malam weekend ini..!", ketus Rayend.


Sementara Tiya melebarkan kedua matanya, mendengar perkataan laki-laki itu.


...*** ...

__ADS_1


Jika ada typo besok author revisi ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian 🙏


__ADS_2