SERPIHAN HATI ELLENA

SERPIHAN HATI ELLENA
BAB-69


__ADS_3

Ellena tersenyum melihat Tiya berdiri sambil melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman sebelah kolam renang. Taman itu layaknya mini rumah kaca dengan beraneka ragam tanaman.


Tiya terlihat cantik dengan jumpsuit berwarna hijau, sangat kontras dengan taman mini yang menjadi salah satu tempat favorit Ellena di mansion itu.


Hujan masih turun rintik-rintik membasahi bumi. Sekarang sudah pukul sebelas pagi menjelang siang.


"Kak", ujar Tiya saat melihat Ellena menghampirinya.


"Ada apa? Sepertinya penting sekali yang akan kau bicarakan pada kakak sehingga tidak menunggu waktu kakak berkunjung ke rumah kita".


"Ayo duduk dan bicara lah", ucap Ellena menggengam tangan Tiya untuk duduk di kursi besi yang ada di depan taman. Posisi kursi menghadap taman dan membelakangi pintu yang terhubung ke dalam rumah. Terlihat seorang pelayan muda mengantarkan coklat panas dan cemilan.


Tiya menarik nafasnya. Gadis itu terlihat menunduk. Ellena memperhatikan perubahan yang ada pada diri adik kesayangannya itu.


"Ada apa Ti, kau sepertinya menyimpan sesuatu. Berbagilah dengan kakak seperti biasanya. Jangan memendam masalah mu seorang diri", ucap Ellena lembut sambil menggenggam erat tangan Tiya.


"Kak... sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku".


"Janji apa, janji yang mana?", tanya Ellena menatap wajah Tiya yang masih tertunduk. Wajah Tiya nampak muram.


"Janji untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki manapun sebelum wisuda. Janji untuk tidak berpacaran sebelum aku menjadi seorang dokter", ucap Tiya pelan tanpa berani menatap Ellena. Tiya mengalihkan perhatiannya ke bunga-bunga indah yang sedang bermekaran di taman dan tampak begitu segar karena tersirami air hujan sejak pagi hari tadi.


"Waktu itu aku juga berjanji pada kakak untuk secepatnya menyelesaikan kuliah ku. Aku merasa bersalah pada kakak dan kak Aaron jika terus-terusan membiayai ku. Aku harus bisa menghasilkan uang sendiri secepatnya jika aku tamat kuliah. Kakak sudah sangat banyak membantuku. Kakak juga harus mengurusi ibu. Dari kakak menikah aku terus membebani kakak dan kak Aaron. Dan aku tahu biaya kuliah di kedokteran bukan sedikit", ucap Tiya dengan mata berkaca-kaca menatap Ellena.

__ADS_1


Ellena tersenyum mendengar perkataan Tiya. Tangan Ellena menggengam erat jemari Tiya. "Kenapa kau harus merasa bersalah seperti ini? Ibu memang sudah menjadi tanggung jawab ku, begitu juga dengan diri mu. Suami kakak tidak pernah mempersalahkan hal itu, Tiya. Tanpa kakak minta pun Aaron berinisiatif sendiri melakukannya. Ia sangat tahu bagaimana keadaan kita sebelum aku menjadi istri nya. Jadi apa yang sudah suami kakak lakukan untuk mu jangan di jadikan beban", ujar Ellena dengan bijak.


"Usia mu sudah dewasa dua puluh tahun, kau juga jangan merasa bersalah jika memiliki rasa pada seseorang".


"Apa kau sedang jatuh cinta sekarang? Apa laki-laki itu teman mu kuliah?", tanya Ellena pelan menatap lekat wajah adiknya yang juga menatap Ellena.


Tiya terdiam. Menit berikutnya iya menjawab dengan suara nyaris tak terdengar. "Iya kak, aku jatuh cinta dengan seseorang. Laki-laki itu bukan teman kuliah ku", ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Apa aku mengenalnya?"


Tiya mengangkat kepalanya pelan dan menatap Ellena dengan rasa bersalah. "Maafkan aku kak...(terdiam sesaat). Perasaan ini hanya aku yang merasakannya", jawab Tiya dengan suara bergetar sambil menepuk dadanya.


"Apa maksud mu?".


"Ada apa sebenarnya, Tiya. Kau ingin mengatakan bahwa kau bertepuk sebelah tangan? Mencintai laki-laki yang tidak mencintai mu?... Apakah itu yang ingin kau katakan?", tanya Ellena pelan.


Tiya kembali menatap Ellena. Dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Apa kakak mengenalnya?", tanya Ellena lagi.


Tiya terdiam. Gadis itu menundukkan kepalanya. Dengan ragu-ragu gadis itu menganggukkan kepalanya. "I-ya, kakak mengenalnya. Laki-laki itu kak Rayend. Kakak Rianti", ucap Tiya dengan suara terbata-bata sementara jemari tangannya saling meremas satu dan yang lainnya.


Seketika suasana hening tercipta, hanya terdengar gemericik air hujan yang menetes di dedaunan. Udara dingin dan sejuk seketika menyeruak.

__ADS_1


"Kau mencintai ku, Tiya...?"


...***...


JIKA INGIN UP LAGI TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA.


*


YUK BACA JUGA :



MARRIAGE AGREEMENT


PENGANTIN PENGGANTI


MENJADI YANG KEDUA


FIRST LOVE LAST LOVE


AIR MATA SCARLETT


__ADS_1


__ADS_2