Setangkai Layu

Setangkai Layu
Membuka Jalan


__ADS_3

Hening...hanya suara deru mesin mobil yang lirih terdengar, tanpa sapaan apalagi percakapan diantara keduanya. Kinar memilih memandang jauh ke luar lewat kaca jendela di sisi kirinya, menatap gerak semu pepohonan rindang yang dilaluinya. Sementara di tengah fokus kemudinya, Roman berkali-kali melirik gadis ayu itu. Ingin membuka pembicaraan namun gamang, harus bagaimana memulainya.


Terselip getir dalam hatinya, mengingat gadis yang kini berada di sebelahnya adalah gadis yang telah dia rusak raga juga masa depannya.


"Turun di sebelah sana saja," satu kalimat singkat memecah keheningan sesaat.


"Di gang itu," tunjuknya lagi.


Perlahan Roman pun menepikan mobilnya, berhenti di sebuah gang sempit yang tak mungkin bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.


"Apa rumahmu masih jauh?" tanya Roman.


"Hanya beberapa meter saja, makasih udah mengantar saya," Kinar menarik handle di sisinya, beringsut keluar.


Diikuti Roman yang juga beranjak turun, sepertinya dia khawatir.


"Sudah terlalu larut, jalanan sangat sepi. Tidak baik seorang gadis berjalan sendiri," ujar Roman yang sudah berada di sisi Kinar, membuatnya terkejut.


"Rumah saya ltidak jauh, aman buat balik sendiri. Tuan tidak usah repot-repot," tolak Kinar.


"Aku baru merasa lega setelah melihat kamu masuk dengan aman ke dalam rumahmu," Roman bersikekeh.


"Justru saya merasa tidak aman jika hanya berdua, di suasana sepi seperti ini," kata Kinar membuat Roman terhenyak, kalimat Kinar begitu menohoknya. Seolah dia tau pelaku kejadian malam itu.


"Aku akan menjagamu," ucap Roman di tengah gelagapanya.


Mendengar kalimat itu, yang terbesit dalam pikiran Kinar adalah Jay. Pria yang diam-diam selalu menjaganya, hingga mengorbankan hal besar hanya untuk melindunginya.


Air mata yang turut meleleh, menggenang di pelupuk tak membuatnya berhenti. Tetap mengayunkan langkahnya hingga tiba di sebuah rumah kecil tempatnya berhuni.


"Terimakasih..." ucapnya dengan menundukan kepalanya.


"Masuklah..." balas Roman menatap dalam gadis itu. Hingga dia melangkah, menghilang di balik pintu.


Egois kamu Roman...bagaimana bisa tak terbesit di pikiranmu untuk menikahi gadis itu. Lalu untuk apa selama ini kamu berharap bisa menemukannya, untuk minta maaf? Rasanya maaf pun terlalu memuliakan perbuatan bejatmu. Karena kata maaf itu tak merubah apapun, dia tetap gadis ternoda yang runtuh Harga dirinya. Dan kamu seharusnya berjuang sekuat hati, bukan hanya untuk mengais kata maaf. Tapi menunjukan bagaimana bentuk tanggung jawabmu, hingga dia benar-benar yakin akan kesungguhanmu. Bisikan itu terus mengiang di telinga Roman, diresapinya dalam hati menyentuh naluri.


Memukul-mukulkan kepalanya pada bantalan setir mobil, di tengah kebimbangan yang melandanya. Karena di sisi lain di telah menjanjikan sesuatu pada gadis lain. Gadis yang mengisi kekosongan hatinya selama lebih dari tiga tahun ini. Yang berawal dari ketidaksengajaan.


_______________________


Matahari mengintip malu di balik awan kelabu yang membuat pagi serasa redup, meredupkan semangat untuk aktifitas yang akan menyita banyak energi. Kinar membuai Evan yang masih terpejam lelap, terbaring meringkuk nyaman di atas kasur. Menyayangkan masa-masa tumbuh kembang bocah kecil itu yang terlewatkan karena kesibukanya. Meninggalkannya masih terpejam, dan pulang dia pun sudah terpejam lelap kembali, tak ada momen kebersamaan.


"Maafkan Ibu ya Nak...Ibu nggak punya banyak waktu buat temani kamu. Ibu janji kalau ibu libur, seharian akan temani kamu," ucapnya sembari mengusap lembut wajah tampan itu. Wajah tampan yang tercetak begitu mirip seseorang, hanya saja dia belum menyadarinya. Atau sadar tapi tak berfikir sejauh itu.


"Siapa yang nganter kamu pulang semalem Nduk..?" tanya Bu Ira yang sudah duduk di sebelahnya.


"Ibu belum tidur semalem? Dia cuma kenalan saja, beberapa kali menolongku," jawab Kinar.


"Semaleman Ibu nggak bisa tidur tungguin kamu pulang. Apa dia laki-laki baik?"

__ADS_1


"Kurang tau, memang kenapa Bu?"


"Evan sering ngambek, iri melihat teman-temannya yang punya bapak. Ibu tau saat ini kamu belum memikirkannya, tapi Evan..dia butuh sosok bapak dalam hidupnya. Dia menginginkan sosok itu, pertimbangkanlah. Kamu juga berhak bahagia Kinar..." ujar Bu Ira memberinya wejangan.


Kinar hanya terdiam, perkataan Bu denya itu memang benar. Tapi...hatinya masih tertutup rapat untuk menerima sosok laki-laki setelah rentetan kejadian yang dia alami. Jika pun ada, tapi dia merasa sudah tak pantas untuk lelaki itu.


"Kita bahas lain kali ya Bu, aku berangkat dulu," pamit Kinar seraya mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu, kemudian menghampiri Evan memeluk dan menciumnya.


Langkahnya tergopoh-gopoh melewati lorong memasuki bangunan megah tersebut, macetnya pagi itu membuatnya terlambat.


"Kinar....!" panggil seseorang berteriak, lari menghampirinya.


"Maaf Chef...aku te_lat," ucapnya tergagap, melihat wajah seram atasanya itu.


"Dari tadi kamu di cariin Pak Bos," katanya.


Kinar memicingkan matanya, tak paham siapa yang dimaksud oleh Chef Joni itu, "Bos ma_na Chef..?"


"Bos yang punya gedung ini," jawabnya dengan wajah yang masih gahar.


Kinar masih tak mengerti, kok bisa Bos Besar nyariin dia, pikirnya.


"Aku...? Apa nggak salah?," tunjuknya ke arah wajahnya, dengan alis mengernyit.


"Iya kamu..emang siapa lagi."


"Bisa lah wong pake "a" kalau pake "u" bisu."


"Nggak lucu..."


"Emang gue lagi ngelawak, gue lagi mendelik tau," gertak Chef Joni mendelik dengan matanya yang sipit. Mendeliknya nggak kelihatan Chef...


"Buruan sana..., entar gue yang kena semprot lagi," titahnya menajam. Membuat Kinar bergidik, segera berlari mencari ruang Pak Bos yang tadi Chef katakan.


Kinar celingukan kesana kesini, melewati ruang kantor hotel tersebut. Tempat petinggi-petinggi yang duduk di jabatan penting di hotel itu.


Dilihatnya seorang perempuan berdiri di balik mejanya, "aku tanya sama di saja apa ya, tapi tanyanya gimana. Nyari Pak Bos gitu. Haduuuh...bikin pusing aja, tau nama apa jabatannya aja kagak, " gumamnya lirih.


"Mba Kinara..?" sapaan seseorang membuatnya tersentak.


"I-i-iya...saya," jawabnya tergagap.


"Pak Angga mencari anda, mari ikuti saya," kata seorang berpenampilan rapi itu.


Pak Angga...? Apa dia bosnya ...tapi buat apa dia nyari aku," tanyanya dalam hati, yang tak menemukan jawaban nalarnya.


"Silahkan masuk Mba.."


Kinar pun masuk dengan rasa penasaran yang berjejal penuh di kepalanya. Dilihatnya seorang laki-laki tampan dengan penampilan yang tidak terlalu resmi tengah fokus dengan layar laptopnya. Namun tiba-tiba menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Duduklah..." kata Angga seraya bangkit dari kursi kerjanya.


Kinar yang terlihat bingung, menurutinya dengan gamang.


"Kenapa gugup sekali? aku nggak akan hukum kamu kok," ujarnya.


"Maaf Pak, saya cuma kaget...kok Bapak ingin ketemu sama saya?"


"Nggak usah cemas gitu, aku cuma mau nawarin kamu pekerjaan," tersenyum menatap betapa polosnya gadis didepannya ini.


"Saya kan udah kerja di sini Pak," jawab Kinar.


Angga tersenyum tipis, "aku butuh bantuan kamu, untuk proyekku."


Kinar makin tak mengerti, kenapa dirinya dibutuhkan untuk proyek yang pasti proyek berskala besar pikirnya, "proyek apa Pak?" tanyanya ragu.


"Aku lagi menggarap proyek resort di sekitar pantai, beberapa orang yang bertanggungjawab untuk proyek tersebut akan tinggal di sana. Aku butuh bantuan kamu untuk membantu menyiapkan keperluan mereka. Aku rasa kamu orang yang tepat, cekatan dalam bekerja," ujar Angga menjelaskan. Padahal cuma alasan. Ada maksud lain sebenarnya. Angga mencoba membuka jalan, untuk Roman mempertanggungjawabkan semuanya.


"Ooh..." sempat berfikir terlalu tinggi, dan ternyata tak lebih hanya asisten rumah tangga. Tapi bukan soal itu masalahnya sekarang.


"Tapi Pak.. apa tempatnya jauh? lalu berapa lama?"


"Cukup jauh dari sini. Kamu sanggup kan?"


"Tapi bagaimana dengan keluarga saya Pak, ada Ibu dan A-----" ucapnya terputus, keburu Angga menyelanya.


"Nanti aku sewain kamu kontrakan sementara, terpisah dari tempat kamu bekerja. Kamu bisa bawa keluarga kamu. Bisa kan?"


"Baiklah Pak, saya akan bicarakan dengan ibu saya terlebih dahulu."


"Ok..tapi secepatnya, sayang kan gaji kamu bakalan aku tambahin soalnya," iming-imingnya.


Kinar pun mengangguk, "iya Pak..." kemudian terdiam sejenak.


"Apa saya sudah boleh keluar Pak?" tanya Kinar canggung.


"Boleh...tapi aku tunggu jawabnya segera."


"Baik Pak.." Kinar pun berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu. Sementara dari arah lain Jay berjalan mendekat, mengetuk pintu, kemudian masuk begitu saja tanpa melihat Kinar yang menoleh sedikit ke arahnya.


"Mas Jay..."


Kamu pasti salah lihat Kinar... batinnya, sembari memejamkan matanya mencoba mengikis bayangan itu dari ingatanya.


Sementara di dalam ruangan sana, Angga tengah memandangi potret bayi mungil adiknya, yang namanya juga "Kinara".


****


Tengkyuh buat semua yang udah mampir ya kakak...semoga suka ceritanya. Di tunggu kritik sarannya...😁😍😘

__ADS_1


__ADS_2