
"Berhenti menjadi murahan hanya demi seorang laki-laki," ucap Jay di tengah sarapan pagi, terdengar dingin dan datar.
Anin hanya tersenyum getir menanggapinya, tanpa sepatah kata pun. Entah dia menyadari kesalahannya atau tak terima dengan pernyataan sang kakak yang terdengar menohok itu. Kemudian menyambar tasnya meninggalkan tempat itu. Meninggalkan sepiring nasi yang hanya terambil beberapa sendok saja.
"Aku berangkat," pamitnya singkat. Sementara Jay tak merespon, dia terus melahap menu sarapan paginya. Sebelum akhirnya dia pun berlalu, memulai aktifitas rutinnya.
Tiga puluh menit berlalu, Jay telah berada di pelataran samping hotel. Berdiri bersandar pada bagian samping mobil, sembari meresap sebatang rokoknya dengan nikmat menunggu sang bos datang membawa perintah baru.
Tatapanya beralih saat terlihat seorang gadis keluar dari sebuah mobil, ada tanya yang tiba-tiba menyelinap namun langsung terjawab saat Roman turut keluar dari mobil tersebut, melangkah menghampiri Kinara.
"Nanti aku jemput kamu," ucapan Roman yang tak terdengar dari arah Jay mengunci tatapanya.
"Nggak usah," jawab Kinara datar.
"Aku akan tetap jemput kamu," Keukeh Roman. Kinara pun berlalu enggan memperdulikan sikap Roman. Melangkah tanpa memperhatikan sekeliling, bahkan sosok Jay lewat begitu saja.
Melihat keberadaan Jay, yang masih menatapnya dingin Roman segera melangkah menghampirinya.
"Mari bersaing untuk mendapatkan hatinya," tantang Roman penuh keyakinan.
"Kenapa harus dia? Setelah semua yang lu lakukan bahkan dengan adikku," jawab Jay menajam, mengingat kejadian semalam.
"Kejadian semalam nggak seperti yang lu lihat," berusaha membela diri.
"Cukup semua yang telah lu lakuin ke mereka, menjauhlah," tegas Jay.
"Kenapa kita harus menyukai orang yang sama? Tanpa kejadian itu, gue juga mungkin tetap bakalan jatuh cinta sama dia," kata Roman memelan.
Jay tak menggubris ucapan Roman, dia melangkah begitu saja.
"Gue bakal perjuangin perasaan gue, betapapun sulitnya. Apalagi setelah ada Evan diantara kami," seru Roman.
Mendengar ucapan Roman tersebut, Jay makin terlihat kesal. Kedua tangannya mengepal geram, ingin dia layangkan ke wajah Roman saat itu juga.
________________________________
__ADS_1
Seperti biasa saat jam istirahat, Kinara selalu datang ke dapur tempatnya kerja dulu. Sekedar merecoki dua sahabatnya yang tengah sibuk itu.
"Tuh jatah lu ada di kulkas," tunjuk Joni.
"Makasih Abang, selalu ngertiin deh," balas Kinara tersenyum gemas.
"Iya lah...gue," ucapnya bangga. Namun belum sempat Kinara beranjak ke arah kulkas, Rita datang dengan satu boks paket makanan yang entah dari siapa.
"Ni..kiriman buat elu," katanya.
"Buat aku?" Kinara kebingungan.
"Iya lah...emang ada Kinara lain di mari. Apaan tuh isinya, enak tuh kayanya. Eh tapi siapa yang ngirim? Jadi kepo nih. Jangan-jangan lu punya pemuja rahasia? Duuhhh mau dikemanain tuh es batu," cerocos Rita.
"Apaan si, lebay ah," sahut Kinara sembari membuka perlahan bungkusan itu, tak ada nama pengirim di sana. Tiba-tiba dering pesan masuk terdengar dari ponselnya.
"Aku nggak tau apa yang kamu suka..." pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.
"Iiihhh bengong Mulu, sini buat gue aja kalo lu kagak mau," Rita nyerobot aja.
"Kamu tuh dasar tukang serobot, tuh kan dikirim buat Kinara. Bukan buat elu," ejek Joni.
"Ra...sumpah ini tuh enak banget, apa lagi oseng combrang terinya duhhh...buat aku aja semua ya," rengek Rita.
"Dasar Maruk, muka makanan lu," Joni kembali mengejeknya.
"Buat kamu aja, aku udah kenyang kok," jawab Kinara sembari bangkit, sepertinya dia bisa menebak siapa pengirimnya.
"Eh lu mau kemana, beneran nih buat gue semua," seru Rita.
"Iya..."
"Aneh tuh bocah, dapet kiriman gini malah ditolak," gumam Rita.
"Makasih...tapi nggak usah kirim makanan lagi," isi balasan pesan Kinara.
__ADS_1
"Meski ribuan kali kamu tolak, aku nggak akan nyerah. Beri aku kesempatan..."
Pesan Roman tak lagi Kinara pedulikan, jika kejadian itu tak pernah terjadi, Bukan hal yang sangat sulit menerima segala bentuk perhatian Roman, yang pada dasarnya memang seorang lelaki yang baik.
Waktu berjalan terasa makin singkat, lelah tak lagi menjadi beban yang memberatkan langkahnya untuk kembali esok hari. Kini dia melangkah bersama beberapa rekan kerja yang lain, dengan tujuan masing-masing.
Dan benar Roman telah berada di depan sana, berdiri menunggunya dengan setia.
"Masuklah!" kata Roman saat Kinara telah berdiri persis di depannya.
"Jangan seperti ini! Pengakuan sebagai seorang ayah telah kamu dapatkan. Jangan memaksa diri untuk menanggung apa yang tidak kamu kehendaki dengan tulus," tutur Kinara berharap Roman mengindahkanya.
"Beri aku kesempatan untuk bertanggungjawab sebegai seorang lelaki," balas Roman.
"Hubungan diantara kita hanya karena kamu adalah ayah dari anakku. Selebihnya kita jalani hidup kita masing-masing seperti biasanya," tegas Kinara yang kemudian berbalik meninggalkan Roman.
Dengan cepat Roman mampu menahan pergelangan tangannya, "aku tau, ini karena Jay. Apa kamu berniat mengorbankan perasaan anak kita hanya demi cintamu?" gertak Roman.
"Perasaan..? Bertahun-tahun aku telah mengorbankan semuanya, bukan hanya aku tapi Evan, dia adalah korban yang terus menjerit-jerit karena keadaan. Aku lelah, aku ingin hidup seperti biasa," air mata Kinara nampak menggenang tertahan di sudut matanya. Hingga akhirnya Roman membiarkannya pergi.
Ditempat lain, Jay yang memang lembur sampai malam tengah duduk di balkon setengah jadi bangunan tersebut. Nampak olehnya seorang gadis berjalan ke arah kantor.
Jay pun memilih turun, saat melihat sosok gadis itu dengan jelas.
"Ada apa malem-malem ke sini, tempat ini nggak cocok buat kamu," sapa Jay.
"Ada yang pengin aku omongin, soal kejadian semalam. Aku minta maaf atas nama kakakku, tapi kenyataanya nggak seperti yang kita lihat. Kakakku nggak ngelakuin apapun sama Anin," tutur Hana menjelaskan.
"Pergilah...gue nggak butuh informasi yang lu bawa," usir Jay.
"Kenapa? Abang nggak percaya?" balas Hana tak kalah tegas.
Hana tertawa getir, "Ooh...Abang tentu lebih percaya dengan adik Abang. Adik Abang yang begitu pintar, sekaligus licik itu. Ajari___" ucapan Hana terhenti ketika Jay tiba-tiba menutup mulutnya dengan bibirnya, menciumnya paksa.
Hana terhenyak, sontak dia mendorong tubuh Jay. Namun Jay malah menariknya masuk ke ruangan kantor.
__ADS_1
Jay mendorong tubuh Hana ke atas sofa, "Abang lu baru bisa ngerasain kalau perempuan yang selalu dilindunginya, dirusak orang begitu saja," ucap Jay. di iringi tatapan membunuh, tubuhnya makin menghimpit tubuh Hana. Membuat mata Hana terpejam, dipenuhi rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Namun tiba-tiba Jay bangkit, "tapi gue nggak kaya Abang lu. Gue nggak akan bales kelakuannya, dengan cara rendah seperti ini. Pergilah, sebelum gue berubah pikiran," usir Jay lagi.