Setangkai Layu

Setangkai Layu
Badai belum usai


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu semenjak keluarnya Evan dari rumah sakit. Kini seorang ayah di usia yang mulai menua, memancarkan aura kebahagiaannya menyanding dua anak yang telah tumbuh sedewasa sekarang, ditambah seorang cucu yang membuat harinya makin bersemangat.


"Begitu lama Ayah menantikan saat seperti ini, menyanding kalian berdua. Apalagi kini bertambah Evan. Angga, jaga adik juga keponakanmu mulai saat ini," ujar Pak Ilham.


Bukan karena berat untuk memenuhi perintah sang Ayah, tapi Angga merasa telah gagal sebelum mengemban tugas itu. Kini dia semakin terbenam dalam rasa bersalahnya.


Angga menunduk, mendorong keberanian mengucap kebenaran. Karena kebusukan tak akan selamanya bisa tertutupi dengan rapat.


"Maafkan aku, aku telah gagal menjaga Kinara," ucap Angga terdengar miris, membuat semua orang tersentak, beruntung tak ada Evan di sana.


"Apa maksud kamu?" pak Ilham tak mengerti.


"Aku pantas dihukum dengan apa pun, karena akulah yang telah menyebabkan kejadian itu menimpa Kinara. Aku lah yang telah menjebak Roman melakukan hal itu," Pak Ilham begitu tercengang mendengar kenyataan itu. Terlebih Kinara yang hanya terdiam beku, menikmati guncangan batin yang menderanya.


"Kinara, kamu berhak buat nggak maafin Mas. Tapi sungguh aku tidak pernah nyangka kamu akan datang pada malam itu," raut wajah Angga terlihat begitu menyedihkan, matanya memerah tak sanggup menahan pedihnya luka hati mengingat bagaimana penderitaan sang adik. Terlebih kala Roman yang bahkan sempat tak mengakui Evan sebagai anaknya.


Suasana ruangan berubah dingin, semua berada dalam tekanan batin masing-masing. Kebersamaan mereka yang baru saja, harus ternodai kesalahan di masa lalu.


Kinara mengangkat wajahnya, tatapanya tertuju pada Evan. Dialah sumber kekuatannya, dialah hadiah untuk semua kisah perihnya, "Semua sudah berlalu, apapun yang aku ketahui saat ini tidak akan merubah apapun. Aku ingin kita bahagia sekarang," ucapnya mencoba tegar, diiringi titikan bening yang mengalir dari sudut matanya. Mencoba melupakan semuanya, hanya masa depan yang dia ingin tatap.


Pak Ilham pun tak sanggup menahan air matanya. Semakin tertusuk batinnya menjadi seorang ayah yang gagal. "kita buka lembaran baru mulai sekarang, yang telah terjadi di masa lalu biarlah menjadi pelajaran berharga yang membuat kita lebih baik kedepannya. Maafkan Ayah juga Kakakmu," seraya menggenggam kedua tangan anak-anaknya tersebut.


Angga pun beranjak bangkit, memeluk sang adik degan hangatnya, "maafin aku Kinara," air matanya pun kembali membanjiri wajahnya.


"Aku baik-baik saja saat ini Mas," sambil menepuk-nepuk punggung sang Kakak, berusaha menunjukan betapa kuat dirinya saat ini, meski memang batinnya tersakiti dengan kenyataan tersebut.


Evan yang seolah mengerti apa yang tengah terjadi, tiba-tiba berlari menghampiri sang ibu lalu memeluknya.


"Ibu kenapa nangis?" tanyanya dengan wajah mengiba.


Kinara mengusap air matanya, "Ibu nggak papa kok, Ibu cuma bahagia," memaksakan senyumnya.

__ADS_1


Evan melonggarkan pelukannya, "Ibu jangan nangis lagi, Evan akan selalu jagain Ibu," rengeknya sembari turut menyeka air mata ibunya itu dengan lembut. Membuat Angga juga Pak Ilham makin terharu.


"Mulai sekarang Evan nggak sendirian lagi jagain Ibu, ada Om dan Opa yang bakal jagain Evan juga Ibu Evan," timpal Angga seraya memeluk bocah kecil itu.


Terimakasih Tuhan, Engkau hadirkan dia diantara terpaan badai yang bertubi-tubi. Membawa secercah sinar yang mengukir seulas senyum penuh asa. Izinkan aku menebus semuanya, bisik Angga dalam hati.


*******


Lebih dari seminggu telah berlalu, Kinara menjalani harinya seperti biasa. Bekerja pada posisi biasa, meski dia anak bungsu pengusaha besar yang mestinya bisa bermanja-manja dengan harta orang tua. Tapi itu bukanlah sifatnya, dia tetap menempatkan diri sesuai porsi kemampunnya. Meski sang ayah dan kakaknya bisa membuatnya bagai putri raja.


Selama itu juga Jay seolah menghilang, semua pesan yang Kinara kirim hanya tercentang satu. Membuat pikirannya menebak-nebak tak pasti. Namun hari ini sosok itu tiba-tiba muncul mengejutkannya.


"Sejak kapan belajar jadi siluman, ngilang gitu aja, muncul semaunya," sapa Kinara sinis.


"Banyak kerjaan. Gimana kondisi Evan?" tanyanya balik.


"Sudah sehat," singkat Kinara.


"Bisa bicara sebentar," kata Jay meminta.


Kinara pun menoleh dengan mata yang mulai memanas, "baiklah, katakan sekarang!"


Jay justru menyeretnya, membawanya masuk ke dalam mobil. Terpaksa Kinara menurutinya.


Setelah berada di dalam mobil Jay hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kinara tersenyum kecut, "aku makin nggak ngerti apa mau kamu," sembari menghempas nafas kasarnya, "yaaa...kita memang nggak kenal dekat," ucapnya lagi.


"Kamu pasti sudah tahu semuanya, yang terjadi waktu itu dan juga saat ini," Jay mulai membuka mulutnya.


"Ya.., aku sudah tahu semuanya," jawab Kinara yang seperti paham maksud ucapan Jay yang samar.

__ADS_1


"Aku rasakan ketulusannya saat dia membelai wajahmu. Jika takdir tidak mempertemukan kalian dengan cara yang salah, kamu akan jatuh cinta padanya," ujar Jay menyimpulkan sepihak.


"Sejak kapan kamu belajar menjadi cenayang, membaca hati orang lain. Kalau cuma ini yang mau kamu bicarakan, aku keluar sekarang," jawab Kinara sembari meraih handle pintu sebelah kirinya.


Namun terhenti sesaat, "aku memang punya hutang banyak sama kamu Mas, yang mungkin nggak bakal bisa aku tebus. Jika kamu berpikir aku menggadaikan perasaanku karena hutang itu, itu hak kamu. Kamu berhak mencari perempuan lain yang lebih tulus dariku, dan yang pasti bukan bekas orang lain seperti aku," ucap Kinara tajam, menatap singkat ke arah Jay lalu beringsut keluar, membanting pintu. Jay hanya terdiam beku, tak bisa berpikir apa yang harus dia perbuat.


Pada saat Kinara berlari sembari menyeka matanya, dia berpapasan dengan Roman. Yang sontak membuat Roman bukan hanya sekadar bertanya-tanya, tapi ingin memeluk dan menenangkannya. Namun dilihatnya ada mobil Jay di depan sana. Jawaban dari pertanyaannya.


Dengan langkah cepat dia berjalan menghampiri Jay, masuk dengan tiba-tiba dalam mobilnya.


"Ternyata selama ini aku salah. Aku merelakannya agar dia bahagia, tapi nyatanya kamu malah membuatnya terluka. Baiklah, kita bersaing saja. Aku kembali nggak rela jika dia harus bersamamu," ucap Roman menyeringai.


Jay menoleh, menatap Roman dingin, "kita sama-sama merasa paling mencinta, tanpa pernah tau isi hatinya. Tapi apa gunanya memaksa jika akhirnya hanya membuatnya terluka. Dan aku mungkin akan membuatnya terluka," jawaban Jay membuat Roman menganga. Dia benar-benar tak mengerti maksud Jay.


Pada hari yang sama saat Itu Evan pulang dari rumah sakit, seseorang menghubungi Jay. Nomor yang tidak dia kenal, tapi suaranya dia sangat paham.


"Apa kabar? akhirnya aku bisa menghubungimu, bagaimana dengan gadis itu apa kamu sudah menikahinya? Gimana rasanya penjara untuk dosa yang nggak pernah nyata kamu lakukan? Pasti dia sangat cantik sampai kamu rela," panjang lebar suara seseorang perempuan dari ujung sana.


"Jangan melampaui batas, itu bukan urusanmu?" jawab Jay tajam.


Perempuan itu tersenyum kecut, "aku cuma mau bantu bersihkan nama baik kamu, gimana? Yang salah kan yang harus dihukum," nada bicaranya terdengar seperti ledekan.


"Kamu nggak akan bisa, jangan coba-coba mengusiknya," balas Jay.


"Yaa...mana mungkin bisa, aku hanya perempuan lemah yang nggak punya pelindung hebat kaya kamu," sindiran yang tajam.


"Apa maumu?" tanya Jay yang paham maksudnya.


"Jadilah pelindungku, aku akan melepaskannya. Ku rasa itu adil, setelah ibunya merampas ayahku, merampas kebahagiaan keluargaku dan dia mengambil nyawa ayahku," jawaban perempuan itu membuat Jay terdiam, kejutan apa lagi yang harus dia lewati.


Apakah takdir memang tidak merestui kami bersama, tangisnya dalam hati.

__ADS_1


****


Kedepannya bakal nguras air mata nih, jadi jangan marahin aku ya gaess...kali ini aku pengin alur yang beda...tapi tenang aja, aku nggak tega kok kalo sad ending...😭🙏🙏😘


__ADS_2